Sampah Kemasan Ancam Laut Indonesia, Upaya Daur Ulang Diperluas
JAKARTA, iNews.id - Sampah masih menjadi masalah di berbagai negara. Upaya mencegah sampah kemasan masuk ke laut pun diperluas.
Salah satunya melalui program Recycle for Good – Prevent Marine Litter di sejumlah wilayah Indonesia. Program ini memperkuat sistem pengelolaan sampah dari pemilahan, pengumpulan, hingga pengolahan material yang masih dapat didaur ulang.
Langkah tersebut dilakukan SIG bersama mitra, yakni Plastic Bank, Wuppertal Institute for Climate, Environment and Energy, serta Decision Context. Setelah sebelumnya berjalan di Jakarta dan sekitarnya, program kini diperluas ke Surabaya dan Malang di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, serta Bali.
“‘Recycle for Good – Prevent Marine Litter’ bertujuan membuat daur ulang lebih mudah diakses, praktis, dan memberikan manfaat bagi masyarakat di Indonesia. Masalah sampah laut tidak dapat diatasi hanya melalui peningkatan kesadaran. Namun, diperlukan pula pemilahan yang lebih baik, jaringan pengumpulan yang lebih kuat, infrastruktur daur ulang yang mumpuni, serta partisipasi berkelanjutan dari masyarakat dan para mitra di sepanjang value chain," ujar Commercial Director Asia Pacific South, Japan and Korea di SIG, Noer Wellington dalam pemaparan di Jakarta, dilansir Selasa (22/9/2026).
"Bersama para mitra, SIG berupaya memastikan lebih banyak kemasan bekas masuk ke alur pemulihan dan daur ulang yang tepat, sekaligus mendorong kebiasaan daur ulang yang dapat memberikan manfaat lingkungan dan sosial secara berkelanjutan,” katanya.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kondisi sungai, pesisir, dan laut Indonesia memiliki keterkaitan dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat. Sebab itu, pencegahan sampah laut tidak cukup dilakukan dengan membersihkan sampah yang sudah mencemari lingkungan.
Noer menerangkan sistem pengelolaan perlu diperkuat sejak dari sumber, mulai dari pemilahan sampah hingga pengumpulan dan pemrosesan material yang dapat digunakan kembali. Pendekatan tersebut diharapkan mengurangi kemungkinan material yang masih memiliki nilai daur ulang terlepas ke lingkungan.
"Melalui program ini, SIG dan para mitra menggabungkan keterlibatan masyarakat, perubahan perilaku, jaringan pengumpulan, infrastruktur daur ulang, serta kolaborasi di sepanjang rantai nilai limbah kemasan," katanya.
Hingga saat ini, proyek telah dilaksanakan di 389 lokasi yang melibatkan berbagai mitra, seperti sekolah, komunitas, kafe, pelaku usaha, lembaga keagamaan, dan pengumpul sampah.
Konektivitas antara pengumpulan di tingkat komunitas dan fasilitas daur ulang diharapkan meningkatkan pemulihan material sekaligus mendukung mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada ekosistem daur ulang.
Diketahui, Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara pelaksanaan proyek “Recycle for Good – Prevent Marine Litter”, bersama Thailand dan Filipina. Proyek tersebut akan berlangsung hingga Desember 2028.
Secara regional, proyek menargetkan pencegahan sedikitnya 10.000 ton limbah kemasan agar tidak masuk ke laut serta melibatkan sedikitnya 100.000 rumah tangga di tiga negara peserta.
Pelaksanaan proyek di ketiga negara juga memungkinkan pertukaran pengalaman, data, metodologi, dan praktik implementasi. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu mengidentifikasi pendekatan yang dapat disesuaikan dengan kondisi sistem daur ulang dan kebutuhan masyarakat di masing-masing negara.


