Teknologi AIS Jadikan Nelayan sebagai Sensor bagi Kehidupan Laut

Teknologi AIS Jadikan Nelayan sebagai Sensor bagi Kehidupan Laut

Teknologi | sindonews | Minggu, 13 September 2026 - 15:04
share

Kemajuan teknologi membuka babak baru dalam upaya memahami kehidupan laut dan mengelola sumber daya perikanan global secara lebih efektif.

Jika sebelumnya para ilmuwan mengandalkan metode tradisional yang memakan waktu dan biaya besar untuk melacak populasi ikan di laut, kini mereka beralih ke pendekatan yang lebih inovatif: melacak pergerakan nelayan untuk memahami pergerakan ikan.

Menurut David Kroodsma, Kepala Ilmuwan di organisasi nirlaba Global Fishing Watch, tantangan utama dalam mempelajari populasi ikan adalah habitat mereka yang berada jauh di bawah permukaan laut.

“Berbeda dengan hewan darat yang dapat dipantau menggunakan kamera atau satelit, ikan sulit dideteksi secara langsung.

“Faktor ini menjadikan penentuan lokasi ikan, ukuran populasi, dan pola migrasi sebagai tugas yang rumit; namun, kami telah memperkenalkan metode baru yang memanfaatkan data digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan gambaran yang lebih jelas mengenai aktivitas penangkapan ikan global,” ujarnya dalam sebuah artikel di abc7news.com.

Ia menambahkan bahwa dengan menggunakan *Automatic Identification System* (AIS)—sebuah transponder yang wajib dipasang pada kapal-kapal besar untuk mencegah tabrakan di laut—organisasi tersebut mengumpulkan miliaran titik data mengenai posisi kapal di seluruh dunia.Data yang diperoleh tidak hanya membantu memantau aktivitas penangkapan ikan, tetapi juga berpotensi mendeteksi ancaman seperti penangkapan ikan berlebih (*overfishing*). Data dalam jumlah besar ini kemudian dianalisis menggunakan algoritma pembelajaran mesin (*machine learning*) untuk mengidentifikasi jenis dan aktivitas kapal, serta menentukan apakah sebuah kapal sedang aktif menangkap ikan. Ia lebih lanjut mencatat bahwa teknologi AI memungkinkan mereka mengubah data mentah menjadi informasi yang bermakna untuk pemantauan laut.

“Kami mengambil seluruh data lokasi *Global Positioning System* (GPS) kapal di seluruh dunia dan menggunakan pembelajaran mesin untuk menentukan jenis kapal, aktivitas yang sedang dilakukan—seperti apakah itu kapal penangkap ikan—dan kapan aktivitas penangkapan ikan berlangsung.” “Yang lebih menarik lagi, sistem ini dapat mendeteksi kapal yang mematikan transponder mereka—praktik yang dikenal sebagai ‘going dark’ (beroperasi tanpa sinyal). Dalam situasi tersebut, tim peneliti memanfaatkan citra satelit dalam jumlah besar dan kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi kapal yang tidak memancarkan sinyal serta mencocokkannya dengan data yang sudah ada,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa data ini memungkinkan pembuatan peta digital samudra dunia yang semakin rinci.

Data tersebut tidak hanya membantu memantau aktivitas penangkapan ikan, tetapi juga berpotensi mendeteksi ancaman—seperti penangkapan ikan berlebihan (*overfishing*)—yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut.

Pada saat yang sama, para peneliti memanfaatkan data pergerakan kapal penangkap ikan untuk memahami dampak perubahan iklim terhadap kehidupan laut.Sementara itu, Heather Welch, seorang peneliti ilmu kelautan di University of California, Santa Cruz, melihat potensi besar dalam data ini sebagai sumber informasi yang lebih cepat dan hemat biaya dibandingkan metode lapangan konvensional.

“Kami sedang mencari sumber data yang tersedia dan dapat diakses dengan cepat untuk membantu menarik kesimpulan mengenai perubahan ekosistem.

Data mengenai pergerakan kapal penangkap ikan juga dimanfaatkan oleh para peneliti untuk memahami dampak perubahan iklim terhadap kehidupan laut.“Dalam sebuah studi yang baru saja diterbitkan, tim kami menggunakan data armada penangkap ikan sebagai sistem sensor bergerak untuk melacak pergerakan ikan tuna albakora selama fenomena gelombang panas laut yang luar biasa.

“Studi tersebut menemukan bahwa pendekatan berbasis data armada penangkap ikan enam kali lebih efektif dalam memprediksi perubahan populasi ikan dibandingkan metode tradisional, seperti pemantauan suhu laut,” ungkapnya.

Temuan ini memberikan harapan baru bagi industri perikanan dan pihak berwenang dalam merencanakan langkah-langkah proaktif untuk mengatasi gangguan pada ekosistem laut.Perubahan ekstrem pada suhu laut tidak hanya memengaruhi distribusi ikan, tetapi juga dapat memicu ledakan populasi alga berbahaya (*harmful algal blooms*), berdampak pada hasil tangkapan laut, serta memengaruhi mata pencaharian masyarakat nelayan. Menurut Welch, fenomena gelombang panas laut yang terjadi antara tahun 2014 dan 2016 menggambarkan bagaimana perubahan ekosistem dapat memicu reaksi berantai yang berdampak pada industri perikanan dan kehidupan laut lainnya, seperti munculnya paus bungkuk di wilayah-wilayah baru.

“Ke depannya, kami berharap penggunaan teknologi pemantauan terbuka—seperti yang dikembangkan oleh Global Fishing Watch—dapat diperluas secara global.

"Berkat kombinasi AI, data satelit, dan sistem pemantauan kapal, umat manusia kini memiliki peluang lebih besar untuk memahami perubahan yang terjadi di lautan secara waktu nyata," ujarnya

Topik Menarik