Anjing, Kucing, dan Burung di Luar Rumah Saat Abu Krakatau Turun, Ini yang Terjadi pada Tubuh Mereka

Anjing, Kucing, dan Burung di Luar Rumah Saat Abu Krakatau Turun, Ini yang Terjadi pada Tubuh Mereka

Teknologi | sindonews | Selasa, 8 September 2026 - 17:25
share

Anjing itu sudah lama di luar. Moncongnya dekat ke tanah. Tapi hari itu yang dihirupnya bukan sekadar udara pagi. Di antara aroma rumput dan aspal ada sesuatu yang lain: partikel halus serpihan kaca berlapis asam.

Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.

Sejak Jumat malam 4 September 2026, gunung di Selat Sunda itu erupsi terus-menerus. Abu menyebar hingga Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu. Jabodetabek sudah terdampak. Dan di halaman rumah, di pot-pot tanaman, di jalan, di kandang ayam, abu itu sudah ada.

Manusia bisa bilang "saya sesak." Hewan tidak. Abu vulkanik bukan debu rumah tangga. Ia adalah pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik dengan tepi yang tajam. Kandungannya: silika (SiO₂) dominan, ditambah sulfur dioksida, fluorida, asam klorida, arsenik, timbal, kadmium, nikel.

Untuk manusia dewasa sehat, paparan singkat biasanya hanya menyebabkan iritasi sementara. Tapi untuk hewan peliharaan di luar rumah, kondisinya berbeda.Ada tiga faktor pembeda:

Pertama, posisi tubuh. Anjing, kucing, ayam bergerak dekat dengan permukaan tanah. Konsentrasi abu lebih tinggi di dekat tanah, terutama saat angin bertiup dan abu yang sudah mengendap beterbangan kembali.

Kedua, perilaku. Anjing dan kucing menjilat bulu dan kaki mereka. Itu naluri membersihkan diri. Tapi ketika kaki itu penuh abu, naluri itu menjadi jalan masuk racun ke dalam sistem pencernaan.

Ketiga, ukuran dan fisiologi. Hewan kecil menghirup lebih banyak udara relatif terhadap ukuran tubuhnya. Artinya, proporsi partikel yang masuk ke saluran pernapasan juga lebih besar.

Anjing dan Kucing: Tiga Pintu Masuk Bahaya

K9 Mask, perusahaan yang berfokus pada perlindungan anjing dari partikel udara, merangkum bahayanya dengan jelas: "Paparan dan kontak berkepanjangan dengan abu vulkanik terbukti menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada anjing, termasuk iritasi hidung, mulut, dan mata; penyakit mirip bronkitis; bahkan cedera akibat kecelakaan yang disebabkan abu."Pintu pertama: pernapasan. Anjing bernapas lebih cepat dari manusia. Saluran pernapasan mereka juga lebih kecil.

Partikel abu yang masuk akan lebih cepat mengakumulasi di bronkus dan paru-paru, memicu peradangan. Gejala yang muncul: batuk kering, bersin, napas berbunyi mengi, lesu, dan pada kasus berat: sesak.

Pintu kedua: mata. Partikel tajam abu dapat menggores kornea. Ini sangat menyakitkan dan bisa menyebabkan infeksi serius jika tidak segera ditangani. Anjing yang sering menggaruk wajah atau kedua matanya memerah adalah tanda peringatan pertama.

Pintu ketiga: kaki dan bulu. Abu menempel di kaki, di sela-sela jari, di bulu. Ketika anjing atau kucing menjilat dirinya, abu itu tertelan.

Ini yang membuat dokter hewan dari Barbados, Dr. Trotman, memberi peringatan keras saat erupsi La Soufrière 2021: "Ketika abu tercampur air, ia menjadi seperti semen di dalam perut. Penyumbatan usus akan segera terjadi. Jadi lindungi hewan peliharaan, lindungi sumber makanan mereka, lindungi sumber air minum mereka."

Sarah Coburn, dokter hewan negara bagian Alaska, menambahkan: "Ini pada dasarnya sama dengan perlindungan untuk manusia. Tetap di dalam ruangan sebanyak mungkin, terutama saat abu pertama kali turun, dan batasi waktu di luar yang membuat mereka berisiko menghirup abu."

Catatan praktis dari Philippine Animal Welfare Society (PAWS) setelah erupsi Taal 2020: jika hewan sudah terpapar, usap atau mandikan mereka. Jangan biarkan mereka menjilat abu. Dan bersihkan mangkuk makan dan minum mereka dari abu yang mungkin menempel.

Topik Menarik