Kiamat Air Gara-Gara AI: Mitos atau Fakta?

Kiamat Air Gara-Gara AI: Mitos atau Fakta?

Teknologi | sindonews | Kamis, 3 September 2026 - 07:26
share

Bos OpenAI Sam Altman jengkel juga. Gara-garanya satu: kecerdasan buatan (AI) dituding biang kerok kekeringan. Katanya, data center AI rakus air minum. Menyedot sumur warga sampai tandus.

Tudingan itu kian liar. Maka, Altman memilih buka suara di episode perdana podcast Sources bersama Alex Heath yang tayang Selasa.

Katanya: ketakutan itu terlalu dibesar-besarkan. Cuma meme belaka. Tidak berdasar sama sekali jika dibedah dengan data.

Faktanya, menurut Altman, rata-rata konsumsi air pada data center modern hari ini setara saja dengan sebuah gedung perkantoran besar.

Laporan komisi pemerintah negara bagian Virginia tahun 2024--kawasannya para raksasa data center berkumpul--membuktikan itu: sebagian besar fasilitas komputasi justru menggunakan volume air yang sama, atau bahkan lebih hemat ketimbang gedung kantor biasa.Pasar dan publik Amerika memang sedang paranoid. Gelombang penolakan merebak di mana-mana.

Tengok saja survei lembaga riset Gallup pada Mei lalu: 71 persen warga Amerika menolak keras pembangunan fasilitas data center di daerah mereka. Sebanyak 70 persen khawatir pada dampak lingkungan, 50 persen cemas soal pengurasan sumber daya alam, dan 18 persen secara spesifik menunjuk krisis air bersih.

Kepanikan itu ada riwayatnya. Investigasi Business Insider membeberkan bahwa sejumlah fasilitas di wilayah barat Amerika sempat memperparah krisis air lantaran masih memakai teknik pendingin evaporatif yang boros air.

Namun, asosiasi industri Data Center Coalition buru-buru meluruskan: teknologi pendinginan kini sudah beralih ke sistem tertutup (closed-loop), bahkan sistem nir-air (waterless cooling) yang menyesuaikan daya dukung air setempat.

Untuk menggambarkan betapa timpangnya narasi publik, Altman membuat analogi telak: kacang almond California.Bercocok tanam satu butir kacang almond di California memerlukan air jauh lebih banyak ketimbang ribuan pertanyaan (prompt) yang diajukan ke ChatGPT.

"Orang-orang yang melahap 12 butir almond sekaligus tidak pernah merasa sedang berbuat dosa besar terhadap lingkungan," sindir Altman.

Klaim Altman tidak mengada-ada. Angkanya cocok dengan data ilmiah. Riset peneliti yang berafiliasi dengan US Geological Survey (USGS) tahun 2019 mencatat: menumbuhkan satu butir kacang almond di California butuh rata-rata 3,56 liter air (hampir satu galon).

Bandingkan dengan AI: Satu pertanyaan ke ChatGPT rata-rata hanya menghabiskan 0,32 mililiter air.

Bahkan di aplikasi Gemini milik Google, satu prompt teks rata-rata cuma butuh 0,26 mililiter air.Tiga koma lima enam liter berbanding sepertiga mililiter. Jauh sekali.

Tapi Altman sadar: persepsi publik telanjur terbentuk. Meluruskan sentimen pasar tidak bisa hanya lewat pidato pembelaan diri.

"Satu-satunya cara agar orang menyukai sesuatu adalah memberi mereka nilai nyata (value)," tegas Altman. Industri AI harus membuktikan manfaat produknya jauh lebih besar daripada ongkos komputasi yang dipakai.

Perang melawan mitos memang tidak mudah, bahkan bagi sang pionir AI sekalipun.

Topik Menarik