Kebiasaan Pamer Foto Anak di Medsos, Studi Sebut Ada Risiko Profiling
Pamer foto lucu anak di media sosial sudah menjadi bagian dari gaya hidup pengasuhan modern. Namun, di balik serunya berbagi momen tumbuh kembang anak, ada ancaman siber senyap mengintai. Tindakan mengunggah aktivitas anak secara daring—atau dikenal sharenting—kini memicu risiko keamanan serius seperti pemetaan data (profiling), pelacakan lokasi tanpa izin, hingga penyalahgunaan data pribadi anak oleh pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab.
Riset terbaru Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT) bertajuk “Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data” menunjukkan fakta menarik.
Keberhasilan menjaga privasi digital anak sangat bergantung pada tingkat kepercayaan diri dan insting orang tua itu sendiri.
Riset komprehensif ini mengumpulkan data harian selama lima bulan, mulai pertengahan Oktober 2025 hingga akhir Februari 2026.
Cakupan Wilayah: Melibatkan 152 responden daring dari 9 negara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam, Myanmar, Hong Kong, India, dan Mesir.Profil Responden: Orang tua yang memiliki anak berusia 0 hingga 12 tahun.
Statistik Kepercayaan Diri Orang Tua dalam Melindungi Data
Hasil riset menunjukkan bahwa mayoritas orang tua sebenarnya sudah memiliki kesadaran hukum dan privasi yang cukup tinggi untuk membatasi penyebaran data anak:• 85 percaya diri mampu menghindari unggahan informasi identitas pribadi (Personally Identifiable Information/PII) seperti tanggal lahir, alamat rumah, atau lokasi sekolah.• 85 mampu menahan diri untuk tidak membagikan foto anak yang berpotensi memalukan di masa depan.• 84 membatasi akses konten unggahan hanya untuk lingkaran keluarga dan teman dekat saja.• 83 menghindari posting detail sensitif yang mudah diidentifikasi.• 80 secara aktif menghapus izin berbagi ulang (resharing) di platform media sosial.• 78 sudah mematikan fitur pelacakan lokasi (geotagging) dan metadata pada file foto mereka.
Peran Usia dan Jenis Kelamin dalam Menjaga Keamanan Siber Anak
Riset ini menemukan bahwa faktor demografi seperti usia dan gender sangat memengaruhi cara orang tua merespons ancaman digital. Seiring bertambahnya usia, pengalaman mengasuh anak membuat orang tua lebih peka terhadap kerentanan di dunia maya.Insting Ibu Lebih Kuat di Dunia Digital
Menariknya, para ibu tercatat memiliki niat dan tindakan yang lebih ketat dalam menjaga privasi anak di media sosial. "Bagi para ibu, mereka memiliki dorongan biologis untuk melindungi anak-anak mereka di dunia fisik, yang diterjemahkan menjadi keinginan untuk melindungi mereka dari ancaman digital juga," kata Trishia Octaviano, Manajer Senior Edukasi Keamanan Siber Asia Pasifik di Kaspersky.Tips Praktis Kaspersky untuk Menjaga Privasi Digital Keluarga
Untuk membantu orang tua di Indonesia membangun benteng pertahanan siber yang kuat, Profesor Madya Jiow Hee Jhee dari SIT mengingatkan bahwa perlindungan jejak digital anak dimulai dari pilihan harian kita. Berikut adalah daftar periksa (checklist) resmi dari para ahli keamanan Kaspersky:• Atur Akun ke Privat: Ubah setelan profil media sosial Anda dari publik menjadi privat untuk mengontrol siapa saja yang bisa melihat foto keluarga.• Matikan Geotagging dan Hapus Metadata: Jangan mencantumkan lokasi langsung saat mengunggah foto, dan bersihkan dokumen foto dari data pelacakan tersembunyi.
• Hapus Akun Lama: Tutup dan hapus akun media sosial atau platform digital jadul yang sudah tidak lagi Anda gunakan agar datanya tidak bocor.
• Batasi Info Lokasi Rutin: Hindari atau hapus unggahan yang secara jelas memperlihatkan tempat anak Anda sering beraktivitas, seperti seragam sekolah atau klub olahraga.






