Mengejutkan! AI Mulai Jadi Acuan Memilih Destinasi Liburan

Mengejutkan! AI Mulai Jadi Acuan Memilih Destinasi Liburan

Teknologi | inews | Jum'at, 15 Mei 2026 - 15:03
share

GYEONGJU, iNews.id - Cara wisatawan menentukan destinasi liburan mulai berubah drastis. Jika sebelumnya pilihan perjalanan banyak dipengaruhi iklan atau tren media sosial, kini teknologi artificial intelligence (AI) mulai memainkan peran besar dalam menentukan ke mana seseorang akan bepergian.

Fenomena tersebut menjadi salah satu sorotan dalam PATA Annual Summit 2026 yang berlangsung di Gyeongju dan Pohang, Korea Selatan, belum lama ini. Dalam salah satu sesi yang dibawakan perusahaan travel marketing technology Sojern, terungkap bahwa perkembangan AI kini mengubah perilaku wisatawan global, mulai dari mencari inspirasi perjalanan, membandingkan destinasi, hingga melakukan pemesanan perjalanan secara digital.

Delegasi PATA Indonesia Chapter, Ardiyansyah Djafar, mengatakan perubahan tersebut menjadi sinyal penting bagi industri pariwisata, termasuk Indonesia.

Delegasi PATA Indonesia Chapter, Ardiyansyah Djafar. (Foto: Istimewa)

"Insight terbesar dari PATA Annual Summit 2026 adalah bahwa masa depan pariwisata Asia Pacific tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak mendatangkan wisatawan, tetapi siapa yang paling mampu membaca perubahan perilaku wisatawan," ujar Ardiyansyah dalam keterangan resminya, Jumat (15/5/2026).

Menurut dia, wisatawan saat ini semakin menginginkan pengalaman yang lebih personal, autentik, dan mudah diakses secara digital. Kondisi tersebut membuat strategi promosi destinasi wisata juga ikut berubah.

Destination marketing, kata dia, kini tidak lagi sekadar mempromosikan keindahan alam atau tempat viral, tetapi harus mampu memahami preferensi wisatawan yang semakin terfragmentasi.

Di sisi lain, kompetisi antarnegara destinasi wisata di kawasan Asia Pacific juga diperkirakan semakin ketat dalam beberapa tahun mendatang. Pacific Asia Travel Association (PATA) memproyeksikan kunjungan wisatawan internasional di kawasan Asia Pacific mencapai 761,2 juta pada 2028.

Menariknya, sekitar 68,3 persen perjalanan wisata di kawasan pada 2025 diperkirakan berasal dari intra-regional travel atau perjalanan antarnegara di Asia Pacific. Artinya, negara-negara di kawasan akan saling berebut pasar wisatawan regional yang jumlahnya terus meningkat.

Indonesia sendiri dinilai memiliki modal besar menghadapi tren tersebut. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat mencapai 15,39 juta, ditambah 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara.

Namun Ardiyansyah menilai tantangan Indonesia ke depan tidak lagi hanya soal mendatangkan turis sebanyak-banyaknya.

"Tantangan Indonesia saat ini bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kualitas pengalaman yang lebih autentik, digital-ready, berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tinggi," katanya.

Dia menambahkan, perubahan perilaku wisatawan global justru bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat positioning pariwisata berbasis pengalaman, budaya, dan keberlanjutan.

Selain membahas AI dan digitalisasi, forum PATA Annual Summit 2026 juga mengangkat isu sustainable tourism governance, digital tourism resilience, hingga pengembangan talenta muda di sektor pariwisata Asia Pacific.

Topik Menarik