Geger! Elon Musk Sebut WhatsApp Tidak Bisa Dipercaya
JAKARTA, iNews.id – Pernyataan mengejutkan datang dari CEO Tesla, Elon Musk, yang menyebut aplikasi pesan instan WhatsApp tidak bisa dipercaya. Ucapan tersebut langsung memicu kehebohan global dan kembali mengangkat isu keamanan data pengguna.
Elon Musk menyampaikan pernyataan kontroversial itu melalui media sosial X. Dia merespons cuitan akun @cb_doge yang membahas soal gugatan terhadap WhatsApp ini.
"Can't trust WhatsApp," kata Elon Musk, dikutip Jumat (10/4/2026).
Masih di X, Elon lalu menyampaikan pernyataan mengejutkan. "Gunakan X Chat untuk berkirim pesan dan melakukan panggilan suara atau video. Dilengkapi dengan manfaat besar berupa privasi yang sesungguhnya," katanya.
Pernyataan Elon Musk muncul di tengah mencuatnya gugatan class action di Amerika Serikat terhadap induk WhatsApp, Meta Platforms. Dalam gugatan itu, Meta dituding memungkinkan pihak internal dan kontraktor eksternal mengakses pesan pribadi pengguna tanpa persetujuan.
Meski belum terbukti di pengadilan, isu ini dengan cepat menyebar luas di media sosial, terlebih setelah Musk secara terbuka meragukan sistem keamanan WhatsApp. Ia bahkan mengisyaratkan bahwa pengguna sebaiknya lebih berhati-hati dalam menggunakan platform tersebut.
Tak hanya Musk, kritik juga datang dari pendiri Telegram, Pavel Durov, yang turut mempertanyakan komitmen WhatsApp terhadap privasi pengguna.
Menanggapi hal ini, Meta langsung memberikan bantahan tegas. CEO Meta, Mark Zuckerberg, menegaskan bahwa WhatsApp tetap menggunakan sistem enkripsi end-to-end yang memastikan hanya pengirim dan penerima yang dapat membaca isi pesan.
Meta juga menyebut tuduhan yang beredar sebagai tidak akurat dan menyesatkan. Perusahaan menekankan bahwa mereka tidak memiliki akses terhadap isi percakapan pengguna.
"Semua (tuduhan itu) tidak benar," kata Zuckerberg.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pernyataan Elon Musk telah memperbesar kekhawatiran publik. Mereka mengingatkan bahwa meskipun enkripsi WhatsApp tergolong kuat, ada beberapa celah non-teknis seperti fitur pelaporan pesan dan penyimpanan cadangan di cloud yang berpotensi membuka akses terhadap data.


