OnlyFans Ternyata Turut Mendanai Genosida di Gaza, Warga Israel Pelanggan Terbesar Pornografi

OnlyFans Ternyata Turut Mendanai Genosida di Gaza, Warga Israel Pelanggan Terbesar Pornografi

Teknologi | sindonews | Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:43
share

Platform konten dewasa OnlyFans tidak sekadar memuaskan hasrat visual konsumennya, tetapi secara tidak langsung turut mendanai lobi politik yang menyokong pertumpahan darah di Gaza.

Pada 2024, gelombang boikot dan eksodus kreator besar-besaran sempat menghantam OnlyFans. Pemicunya adalah aliran dana fantastis dari sang pemilik platform, Leonid Radvinsky. Laporan investigasi The Lever membongkar bahwa miliarder Yahudi kelahiran Soviet tersebut, bersama istrinya, menjanjikan donasi sebesar Rp187 miliar (USD11 juta) kepada American Israel Public Affairs Committee (AIPAC).

Angka tersebut menobatkan Radvinsky sebagai donatur individu terbesar bagi kelompok pelobi pro-Israel paling kuat di Amerika Serikat tersebut. Meski Radvinsky membantah klaim ini, noda kecurigaan sudah terlanjur melekat di mata para kreatornya.

Pornografi, Uang Berdarah, dan Hipokrisi Geopolitik

Ekonomi kreator digital, khususnya konten dewasa (NSFW), sangat bergantung pada platform dominan. OnlyFans memotong 20 persen dari setiap rupiah yang dihasilkan kreatornya. Logikanya, setiap kali Anda berlangganan atau memberikan tip, sebagian uang tersebut masuk ke kantong Radvinsky, yang kemudian diduga kuat mengalir ke AIPAC.

Nah, siapa sebenarnya AIPAC ini? AIPAC bukanlah organisasi amal. Mereka menggelontorkan dana lebih dari Rp1,7 triliun (USD100 juta) pada siklus pemilu AS 2024 untuk menjegal kandidat pro-Palestina dan mendanai 386 politisi pro-Israel. Lobi agresif inilah yang memastikan pasokan senjata dan dukungan tak bersyarat AS terus mengalir untuk menyokong perang Israel di Gaza, yang telah merenggut lebih dari 31.000 nyawa warga Palestina. Ironisnya, data tahun 2025 dari Haaretz menyingkap fakta memalukan bagi kawasan Timur Tengah. Tel Aviv, ibu kota Israel, tercatat sebagai satu-satunya kota di Timur Tengah yang masuk dalam daftar 20 besar konsumen OnlyFans terbanyak di dunia (peringkat 19 global). Tingkat konsumsi pornografi berbayar di kota ini bahkan mengalahkan kota-kota besar AS seperti Chicago dan San Diego. Ini jadi lingkaran setan yang sempurna: uang dari seluruh dunia diputar oleh bos platform untuk melobi politisi yang membela negara konsumen terbesarnya.

Pemberontakan Pekerja Seks Digital

Kondisi ini memicu kemarahan para pekerja seks yang merasa dieksploitasi dua kali: oleh platform yang meraup untung dari tubuh mereka, dan oleh pemilik yang menggunakan uang tersebut untuk mendanai genosida.

"Sebagai pekerja seks, kami menginginkan dekriminalisasi karena kami menginginkan keamanan. Mereka (warga Palestina) juga menginginkan keamanan dan kebebasan. Bersolidaritas dengan mereka itu mudah," tegas BodyXBlunts, salah satu kreator yang menginisiasi boikot.

Eksodus sempat terjadi. Kreator seperti Molly Simmons memimpin gerakan untuk memigrasikan ratusan pembuat konten ke platform alternatif seperti LoyalFans dan ManyVids.

Topik Menarik