Bahaya Laten Era AI 2026: Banjir Video Hoaks Perang AS-Iran di Media Sosial
Perang tak lagi sekadar baku tembak di garis depan. Tapi, sekarang bertempur di beranda media sosial Anda. Di tengah memanasnya serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran beserta serangan balasannya, dunia maya justru dibanjiri isu disinformasi. Kecerdasan Buatan (AI) kini digunakan untuk menciptakan realitas palsu yang memanipulasi emosi publik global.
Temuan dari lembaga AAP FactCheck menyingkap fakta mengerikan ini: sejumlah besar foto dan video yang diklaim sebagai rekaman asli Perang Iran 2026 ternyata adalah hasil manipulasi AI atau potongan visual lawas yang didaur ulang.
Memasuki 2026, tren perangkat lunak pembuat gambar AI (generative AI) sudah sangat mudah diakses oleh publik. Siapa saja bermodal ponsel pintar bisa mengetik teks dan mengubahnya menjadi foto serealistis mungkin. Hal ini menciptakan pasar gelap disinformasi, di mana konten sensasional diproduksi demi mendulang klik, engagement, perang psikologis, atau bahkan menggiring narasi tertentu.
Foto yang memperlihatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86 tahun), tergeletak di bawah reruntuhan ternyata buatan AI. Foto: AAP
Contoh paling mencolok datang dari seorang komentator asal Australia bernama Maram Susli (dikenal sebagai Syrian Girl). Ia mengunggah sebuah video gedung terbakar di platform X dengan narasi provokatif: "Rekaman markas CIA di Dubai yang ditargetkan pagi ini oleh Iran."Faktanya? Video itu adalah rekaman kebakaran gedung apartemen biasa di Sharjah (kota tetangga Dubai) yang terjadi pada Oktober 2015—sebelas tahun yang lalu. Kebakaran itu bahkan pernah diliput oleh media besar seperti Fox News, BBC News, dan Khaleej Times.
Akun yang sama juga menyebar kebohongan bahwa menara ikonik Burj Khalifa di Dubai sedang terbakar. Padahal, penelusuran gambar terbalik (reverse image search) menggunakan aplikasi TinEye membuktikan bahwa foto tersebut diambil lebih dari satu dekade lalu. "Asap" yang diklaim sebagai kebakaran itu hanyalah kabut tebal yang menyelimuti gedung setinggi 828 meter tersebut.
Manipulasi AI juga menyentuh sosok paling vital dalam konflik ini. Beredar luas foto yang memperlihatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86 tahun), tergeletak di bawah reruntuhan. Media pemerintah Iran memang mengonfirmasi pada 28 Februari bahwa beliau tewas di kantornya akibat serangan udara AS-Israel. Namun, hingga detik ini, belum ada satu pun gambar resmi evakuasi jenazah yang dirilis.
Lalu, dari mana foto itu berasal? Ketika AAP FactCheck memasukkan gambar tersebut ke alat pendeteksi SynthID milik Google, sistem langsung menemukan watermark digital yang memastikan bahwa gambar itu murni buatan komputer.
Kebohongan tak berhenti di situ. Beredar pula video kerumunan jutaan orang yang diklaim sebagai prosesi pemakaman Khamenei. Kenyataannya, itu adalah video lama dari pemakaman pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, di Beirut pada Februari 2025. Terlihat jelas bendera Lebanon dan Hizbullah berkibar di video tersebut.Gilanya lagi, penyebar hoaks juga memanipulasi foto satelit. Beredar foto "sebelum dan sesudah" yang diklaim menunjukkan hancurnya radar militer AS di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Padahal, foto "sebelum" itu adalah tangkapan layar Google Maps dari Pangkalan Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain.
Foto "sesudahnya" sangat tidak masuk akal. Secara logika spasial, foto versi AI itu tiba-tiba memunculkan bangunan tambahan yang tidak ada di foto aslinya, lalu membubuhkan efek "kerusakan" palsu. Alat pendeteksi Google kembali mengonfirmasi bahwa foto tersebut direkayasa menggunakan AI milik Google sendiri.
Memang benar bahwa pada 1 Maret 2026, Al-Jazeera melaporkan dua rudal balistik menghantam Pangkalan Udara Al Udeid. Reuters dan The New York Times juga merilis foto satelit asli kerusakan di Pangkalan Bahrain. Di era konflik modern, peluru mungkin menembus beton, tetapi gambar palsu buatan AI menembus langsung ke pikiran jutaan manusia. Lalu, bagaimana cara membedakan video asli atau palsu? Memang tidak ada cara yang mudah. Ada banyak parameter yang bisa digunakan. Mulai mendeteksi secara manual, hingga menggunakan tools tertentu. Tapi, yang termudah adalah tidak gampang percaya atau menyebarkan video dari media sosial. Melainkan video-video yang diunggah di situs berita seperti Sindonews yang sudah dicek kebenarannya.









