Dua Wajah Embun Upas Bromo: Anugerah Bagi Pariwisata, Tantangan bagi Petani Tangguh Tengger

Dua Wajah Embun Upas Bromo: Anugerah Bagi Pariwisata, Tantangan bagi Petani Tangguh Tengger

Teknologi | sindonews | Sabtu, 26 Juli 2025 - 10:07
share

Selimut kristal es yang membentang di lautan pasir Gunung Bromo setiap puncak musim kemarau adalah pesona yang memanggil ribuan pasang mata untuk datang menyaksikan. Namun, di balik keindahannya yang magis, fenomena yang dikenal sebagai embun upas ini menyimpan dua wajah: anugerah bagi pariwisata, sekaligus tantangan alam yang harus ditaklukkan oleh para petani tangguh di lereng Tengger.

Pihak Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengakui adanya dampak dari fenomena ini terhadap vegetasi di kawasan tersebut. Suhu dingin ekstrem yang membekukan embun menjadi kristal es yang tajam dapat membuat dedaunan dan tanaman pertanian layu.

"Sedikit banyak berdampak terhadap beberapa vegetasi yang ada. Daun-daun dan tanaman itu bisa menjadi kering karena terkena dinginnya es dari embun upas tersebut," jelas Septi Eka Wardhani, Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, pada Jumat (25/7/2025). Ia menambahkan, "Bisa menyebabkan kematian dari tumbuhan yang terkena embun upas tersebut."

Fenomena ini tidak hanya terjadi di lautan pasir Bromo, tetapi juga di titik-titik lain di ketinggian di atas 2.000 mdpl, seperti di sekitar Ranu Pani, Ranu Kumbolo, dan Oro-oro Ombo yang masuk dalam kawasan Gunung Semeru.

Anugerah yang Mendatangkan Berkah Ekonomi

Di satu sisi, embun upas adalah sebuah tantangan bagi ekosistem pertanian lokal. Namun di sisi lain, pesonanya yang unik justru menjadi magnet pariwisata yang luar biasa kuat, mendatangkan berkah ekonomi yang signifikan bagi kawasan.Keindahan lanskap Bromo yang "bersalju" adalah salah satu faktor utama yang menarik wisatawan. Berdasarkan data resmi TNBTS, sepanjang tahun 2024 saja, kawasan ini dikunjungi oleh total 485.696 wisatawan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 19.926 adalah wisatawan mancanegara yang datang dari berbagai belahan dunia untuk menyaksikan keajaiban alam ini.

Kunjungan ratusan ribu wisatawan ini menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang fantastis, mencapai Rp 21,15 miliar dalam satu tahun. Angka ini menunjukkan betapa besar dampak positif fenomena alam ini terhadap perekonomian regional dan nasional.

Kearifan Lokal dalam Menghadapi Siklus Alam

Bagi masyarakat suku Tengger yang telah mendiami lereng Bromo selama berabad-abad, embun upas bukanlah fenomena baru. Ini adalah bagian dari siklus alam yang mereka pahami dan hadapi dengan kearifan lokal. Tantangan terhadap tanaman pertanian dijawab dengan pemahaman mendalam tentang pola tanam dan kalender musim yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Mereka adalah bukti nyata resiliensi manusia dalam beradaptasi dengan alam. Kemampuan masyarakat Tengger untuk bertahan dan bahkan berkembang di tengah kondisi alam yang terkadang ekstrem inilah yang menjadi bagian dari daya tarik budaya kawasan Bromo itu sendiri.

Pada akhirnya, embun upas adalah sebuah cermin dari dualitas alam yang agung. Ia melukis keindahan yang memukau dunia dan menggerakkan roda ekonomi, sambil terus menguji ketangguhan vegetasi dan manusia yang hidup harmonis di sekitarnya. Fenomena ini bukan sekadar soal kerugian, melainkan sebuah kisah tentang keseimbangan, adaptasi, dan denyut kehidupan yang luar biasa di atapJawaTimur.

Topik Menarik