Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal, Kunci Menyiapkan Generasi Muda Merauke
Pengembangan pendidikan bagi generasi muda masyarakat adat Kalai Woyu Maklew di Kampung Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, perlu memadukan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Pendidikan dinilai tidak hanya berperan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kesadaran untuk menjaga lingkungan serta identitas masyarakat adat.
Pandangan tersebut disampaikan Tim Riset Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) Kausar dalam Diskusi dan Forum Bersama Masyarakat Adat Kalai Woyu Maklew yang diselenggarakan Yayasan MPSI, Dewan Adat Kalai Woyu Maklew, dan masyarakat Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Jumat (16/10/2026).
"Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Di lingkungan keluarga dan masyarakat adat, anak-anak juga belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, serta bagaimana menjaga hubungan dengan sesama dan lingkungan," ujarnya.
Baca juga: Pemerintah Daerah di Papua Perkuat Akses Pendidikan melalui Sekolah Rakyat
Menurut Kausar, adat istiadat merupakan warisan turun-temurun yang menjadi pedoman dalam mengatur hubungan antarmanusia, kehidupan sosial, serta hubungan masyarakat dengan alam.Nilai-nilai tersebut tidak hanya berfungsi sebagai identitas budaya, tetapi juga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Karena itu, pendidikan di wilayah masyarakat adat perlu memperhatikan kondisi sosial dan budaya setempat. Pengetahuan lokal yang diwariskan melalui keluarga, tokoh adat, dan pengalaman sehari-hari dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran. Kausar menilai penguasaan ilmu pengetahuan modern perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap sejarah dan budaya masyarakat. Dengan demikian, generasi muda memiliki kemampuan menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan hubungan dengan identitas serta kehidupan masyarakatnya.
Selain pendidikan, Kausar menyoroti pentingnya menjaga hutan sebagai bagian dari keberlangsungan kehidupan masyarakat adat.
Lihat video: Hanya Ada 1 Guru! Mirisnya Pendidikan Papua, Anak Sekolah Harus Berenang
Hutan memiliki fungsi ekologis sebagai habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa serta penyangga keseimbangan ekosistem. Namun, bagi masyarakat adat, hutan juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang berkaitan dengan hubungan masyarakat terhadap wilayah leluhurnya.Pengetahuan dan praktik masyarakat adat dalam menjaga serta memanfaatkan sumber daya alam perlu dihargai dan didokumentasikan agar tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya."Generasi muda harus memiliki pengetahuan modern, tetapi mereka juga perlu mengenal sejarah kampung, memahami adat, dan mengetahui pentingnya menjaga hutan. Pengetahuan yang diwariskan para leluhur tidak boleh hilang," katanya.
Kausar mendorong pengembangan kegiatan pendidikan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti pembelajaran sejarah kampung, pengenalan wilayah adat, dialog bersama tokoh adat, penanaman pohon, dan kegiatan menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan tersebut dapat menjadi sarana pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan di sekolah dengan pengalaman dan praktik kehidupan masyarakat sehari-hari.
Menurut Kausar, pendidikan yang memperhatikan kearifan lokal dapat membantu membangun keseimbangan antara peningkatan kualitas sumber daya manusia, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan hidup.
Bagi masyarakat Kalai Woyu Maklew, pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sekaligus memahami tanggung jawabnya terhadap masyarakat, adat, dan lingkungan Kampung Wanam.









