Pemerintah Siapkan CNG Pengganti LPG, Bahlil: Harga Lebih Murah hingga 40
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyiapkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif liquefied petroleum gas (LPG) untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Bahlil mengatakan, pemanfaatan CNG menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mengoptimalkan potensi gas alam dalam negeri sekaligus menekan kebutuhan impor LPG yang mencapai sekitar 7 juta–8 juta ton per tahun.
"Kita lagi meminta mereka membuat alternatif selain LPG, yaitu CNG. CNG ini sebenarnya sudah dipakai, karena ini hampir sama dengan jargas (jaringan gas)," kata Bahlil saat memberikan sambutan dalam peresmian operasi kilang LPG di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga:Uji Coba CNG 3 Kg Pengganti LPG Rampung, Pemerintah Siapkan Skema Distribusi
Menurut Bahlil, CNG telah digunakan di sejumlah sektor usaha, termasuk restoran dan hotel. Selain memanfaatkan sumber gas domestik, penggunaan CNG dinilai memiliki keunggulan dari sisi harga.Dia menyebut harga CNG dapat lebih murah sekitar 30–40 persen dibandingkan LPG. Dengan memanfaatkan gas yang tersedia di dalam negeri, pemerintah berharap ketergantungan terhadap LPG impor dapat dikurangi secara bertahap. "Di beberapa restoran, hotel, itu sudah memakai CNG, dan harganya lebih murah sekitar 30-40 persen. Itu menggunakan gas nya C1 dan C2, itu melimpah di negara kita," tambahnya.
Bahlil menjelaskan, Indonesia memiliki potensi gas dengan jenis C1 dan C2 yang digunakan sebagai CNG, sehingga dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Namun, pemanfaatannya perlu disesuaikan dengan karakteristik gas, infrastruktur, serta kebutuhan pengguna.
Bahlil mengungkapkan, pemerintah tengah menguji penggunaan CNG dalam tabung berukuran 3 kilogram. Sementara itu, penggunaan CNG dalam tabung berukuran 12 kilogram telah diterapkan. "Namun, untuk tabung yang 3 kilogram, ini lagi diuji. Tapi kalau tabung yang 12 kilogram, itu sudah dipakai," ujarnya.
Pengembangan CNG dalam tabung berukuran kecil menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk memperluas pemanfaatannya. Pemerintah perlu memastikan kesiapan teknologi, standar keselamatan, sistem distribusi, serta kesesuaian penggunaannya sebelum penerapan lebih luas.
Baca Juga:Bahlil Buka Opsi LPG 3 Kg Diganti CNG, Masuk Tahap Uji Coba
Apabila dapat dikembangkan secara optimal, CNG berpotensi menjadi alternatif tambahan bagi pemenuhan kebutuhan gas masyarakat dan sektor usaha. Meski demikian, implementasinya masih bergantung pada hasil pengujian serta kesiapan infrastruktur pendukung.
"Tabung CNG yang 3 Kg, ini lagi diuji, tetapi kalau tabung 12 Kg itu sudah dipakai. Kalau itu mampu kita adakan, maka impor kita yang 8 juta ton pertahun, bisa kita selesaikan dari dalam negeri," pungkasnya.









