Peringatan Raksasa Wall Street di Tengah Skenario Ekstrem Harga Minyak Tembus USD125 per Barel

Peringatan Raksasa Wall Street di Tengah Skenario Ekstrem Harga Minyak Tembus USD125 per Barel

Ekonomi | sindonews | Selasa, 13 Oktober 2026 - 08:40
share

Raksasa perbankan Wall Street, Goldman Sachs secara mendadak merevisi naik proyeksi harga minyak mentah dunia. Tim analis bank investasi global itu resmi menaikkan target harga minyak acuan Brent menjadi rata-rata USD90 per barel pada Desember 2026 mendatang, seiring Perang Iran yang sudah memasuki bulan kedelapan tanpa tanda-tanda mereda.

Target anyar ini melonjak dari estimasi sebelumnya sebesar USD85 per barel. Sementara itu minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) diproyeksikan berada di level USD81 per barel pada bulan Desember, menurut catatan riset yang dirilis tim analis yang dipimpin Daan Struyven.

Di pasar fisik, harga minyak mentah Brent telah diperdagangkan menyentuh USD107 per barel, sedangkan WTI berada di level USD94 per barel, setelah kedua kontrak berjangka tersebut kembali melonjak sekitar 2 dalam sesi perdagangan terbaru pekan ini.

Baca Juga: Ramalan Goldman Sachs soal Harga Minyak Dunia Diwarnai Skenario Buruk Tembus USD145 per Barel

Analis Goldman Sachs menegaskan, bahwa kombinasi antara penurunan stok cadangan dunia, risiko gangguan pasokan di Timur Tengah, dan sensitivitas suku bunga telah mendorong permintaan masif untuk pengisian kembali cadangan fisik (physical restocking) serta lindung nilai keuangan (financial hedging).

"Harga tetap tinggi karena risiko penurunan pasokan, persediaan yang rendah, serta tingginya sensitivitas suku bunga terhadap harga minyak mendorong permintaan yang kuat untuk restocking fisik dan hedging keuangan," tulis tim analis Goldman Sachs dalam catatannya.

Ancaman Skenario Ekstrem Harga Minyak USD125 per Barel Pasca-Pemilu AS

Meskipun ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia perlahan pulih mendekati level pra-perang memanfaatkan pipa darat dan taktik dark transfers, Goldman Sachs memperingatkan potensi eskalasi baru yang bisa menjadi pemicu kejutan harga (upside risk).

Baca Juga: Rahasia Jalur Gelap Selat Hormuz Terbongkar! Goldman Sachs Klaim Aliran Minyak Mentah Pulih

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump telah mengisyaratkan bahwa meski AS tidak akan melancarkan serangan langsung ke dalam wilayah Iran sebelum Pemilu Sela (Midterm Elections) bulan November, militer AS kini tengah mempertimbangkan operasi ofensif berskala besar tak lama setelah pemilu usai.

Dalam analisis skenario ekstrem (bull case), Goldman Sachs memperingatkan harga Brent bisa melonjak drastis hingga USD125 per barel pada bulan Desember apabila terjadi kerusakan signifikan pada infrastruktur vital minyak. Intensifikasi serangan terhadap kapal tanker di jalur pelayaran.Ditambah risk premium yang bertahan lebih lama di pasar energi global. Ketegangan pasar kian membara akibat rentetan peristiwa berdarah di Timur Tengah selama akhir pekan.

Serangan rudal dan drone bertubi-tubi yang diklaim kelompok Houthi menghantam bandara-bandara utama di Arab Saudi. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai ratusan lainnya dalam hari terkelam bagi Kerajaan Saudi sejak perang meletus.

Di sisi lain, pengumuman "gencatan senjata fasilitas energi" antara Rusia dan Ukraina oleh Presiden Trump, serta klaim kesepakatan impor 13,5 juta barel diesel dari Moskow, justru disambut skeptis oleh para pelaku pasar. Analis menilai langkah-langkah tersebut tidak akan memberi efek berarti dalam meredam reli harga minyak global.

Untuk proyeksi jangka panjang tahun 2027, Goldman Sachs tetap mempertahankan target rata-rata harga Brent sebesar USD80 per barel, mengasumsikan pemulihan bertahap pada pasokan dan produksi minyak di kawasan Timur Tengah.

Topik Menarik