2 Ekonom AS Raih Nobel Ekonomi 2026: Ungkap Kunci dalam Mengelola Guncangan Ekonomi

2 Ekonom AS Raih Nobel Ekonomi 2026: Ungkap Kunci dalam Mengelola Guncangan Ekonomi

Ekonomi | sindonews | Selasa, 13 Oktober 2026 - 07:54
share

Di tengah kepungan krisis energi global, lonjakan inflasi pasca-Perang Iran, dan ancaman resesi dunia, Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia (Royal Swedish Academy of Sciences) pada Senin (12/10) resmi mengumumkan pemenang Hadiah Nobel Ekonomi 2026 (Sveriges Riksbank Prize in Economic Sciences).

Dua ekonom terkemuka asal Amerika Serikat (AS), Robert E. Hall (83) dari Stanford University dan Michael Woodford (71) dari Columbia University, dinobatkan sebagai peraih penghargaan tertinggi tersebut berkat penemuan model mikro-ekonomi yang berhasil mengubah cara bank sentral dunia mengendalikan krisis dan badai inflasi.

Membongkar Teori Kuno Keynesian yang Gagal di Era Stagflasi

Penelitian Hall dan Woodford berhasil meruntuhkan asumsi-asumsi ekonomi makro tradisional era Depresi Besar milik ekonom Inggris John Maynard Keynes. Dulu, pemerintah percaya krisis dapat diatasi secara sederhana dengan turunkan suku bunga dan pajak, lalu naikkan belanja negara demi memicu konsumsi.

Baca Juga: Philippe Aghion Raih Nobel Ekonomi 2025 Berkat Teori 'Penghancuran Kreatif'

Namun, fenomena stagflasi tahun 1970-an, di mana inflasi tinggi dan pengangguran melonjak secara bersamaan membuktikan bahwa rumus Keynesian terlalu dangkal. Hall dan Woodford merevolusi teori tersebut dengan membuktikan bahwa kebijakan ekonomi harus dibangun dari bawah (bottom-up), yaitu memahami bagaimana keputusan riil diambil oleh jutaan rumah tangga dan perusahaan.

"Penelitian para pemenang telah memungkinkan pengelolaan krisis makroekonomi besar secara jauh lebih efektif dibanding sebelumnya. Penelitian ini sangat bermanfaat selama pandemi dan krisis energi dalam beberapa tahun terakhir," tulis Komite Nobel dalam dokumen resminya.

Temuan Hall & Woodford: Kunci Meredam Gejolak Perang Iran

Kedua pemenang memberikan kontribusi berbeda, namun saling melengkapi dalam mengendalikan ekspektasi pasar. Baca Juga: Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir

Robert E. Hall Mempelajari Pilihan Konsumen

Hall menemukan bahwa keputusan belanja rumah tangga sangat bergantung pada optimisme atau pesimisme terhadap pendapatan di masa depan. Dalam studinya bersama Fredric Mishkin (1982), Hall membeberkan bahwa sekitar 80 rumah tangga bertindak berdasarkan ekspektasi masa depan, sementara 20 sisanya hidup pas-pasan (hand to mouth) tanpa tabungan.

Michael Woodford Menganalisis Strategi Perusahaan & Bank Sentral)

Woodford membuktikan bahwa pelaku bisnis menetapkan harga barang berdasarkan prediksi mereka terhadap arah suku bunga bank sentral di masa depan. Temuan ini memaksa bank sentral seperti Federal Reserve (The Fed) untuk menerapkan strategi forward guidance atau komunikasi yang jelas dan terukur kepada publik.

Penelitian Woodford menjadi panduan vital bagi bank sentral dunia dalam merespons krisis harga energi saat ini, seperti lonjakan minyak akibat perang AS-Israel lawan Iran sejak Februari lalu. Woodford menekankan "pemahaman terhadap orang-orang yang berada di pasar dan membuat keputusan tentang pengeluaran." Pengumuman ini sekaligus menutup rangkaian pengumuman Hadiah Nobel tahun 2026 yang meliputi bidang Kedokteran, Fisika, Kimia, Sastra, dan Perdamaian. Kemenangan Hall menjadi kebanggaan ganda bagi Stanford University, setelah sebelumnya Prof. Dr. Karl Deisseroth menyabet Nobel Kedokteran 2026.

Para pemenang berhak membawa pulang hadiah senilai 12 juta Krona Swedia (sekitar USD1,2 juta atau Rp19 miliar) yang akan diserahkan secara resmi pada upacara penganugerahan di Stockholm pada 10 Desember mendatang.

Topik Menarik