Rupiah Balik Melawan Dolar AS, Sambut Akhir Pekan di Posisi Rp17.899
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan, Jumat (9/10/2026) dengan kenaikan 16 poin atau sekitar 0,09 ke posisi Rp17.899 per dolar AS. Pemulihan mata uang Garuda juga terlihat pada data JISDOR BI, dimana hari ini bertengger pada level Rp17.884 per USD, atau lebih baik dari sesi sebelumnya Rp17.890.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan, bahwa Washington sedang melakukan "diskusi produktif" dengan Iran dan menegaskan tidak ada rencana serangan sebelum pemilihan umum sela Kongres pada 3 November, menyusul laporan media yang menyebutkan ia sedang mempertimbangkan serangan sebelum tanggal tersebut.
“Pada hari yang sama, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan pernyataan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi bahwa Teheran sedang meninjau tanggapan AS terhadap usulannya untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: IHSG Berakhir Ambruk 1,88, Rupiah Terguncang ke Rp17.915 per Dolar ASAS terus memberikan tekanan ekonomi terhadap Iran dalam upaya mengakhiri konflik yang kini telah memasuki bulan kedelapan tersebut. Pada hari Kamis, AS menjatuhkan sanksi baru yang menyasar sejumlah individu, jaringan, serta 17 kapal yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia asal Iran.
Gubernur The Fed Christopher Waller pada hari Kamis menyatakan, bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan, namun ia tetap "fleksibel mengenai kecepatannya." Ia menggambarkan, kondisi pasar tenaga kerja sebagai sesuatu yang "kokoh dan stabil" pada bulan September meskipun laju penciptaan lapangan kerja melambat, seraya menambahkan bahwa tingkat inflasi masih "terlalu tinggi."Sementara Data ekonomi yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan bahwa klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197.000 dari 199.000 pada minggu sebelumnya, angka yang berada di bawah perkiraan pasar sebesar 200.000.
Baca Juga: Rupiah Perkasa Menjauh dari Rp18 Ribu, Berikut Posisinya per Selasa 6 Oktober 2026
Hari ini fokus pasar akan tertuju pada survei Sentimen Konsumen University of Michigan untuk bulan Oktober yang diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai pandangan rumah tangga terhadap kondisi ekonomi dan inflasi di AS.
Dari sentimen dalam negeri, defisit APBN September 2026 tercatat sebesar Rp319 triliun atau setara dengan 1,24 dari produk domestik bruto (PDB). Pendapatan negara mencatatkan kenaikan 25 dan belanja negara naik 19, tercatat senilai Rp2.341,5 triliun per September 2026, realisasinya 74,2 dari target pendapatan negara tahun ini senilai Rp3.153,6 triliun.Pendapatan negara juga tercatat naik 25,5 (YoY) dan belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun per September 2026, realisasinya 69,2 dari target belanja negara tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun. Belanja negara tercatat naik 19,0 (YoY).
Belanja negara yang lebih banyak dari pendapatan negara menyebabkan defisit APBN mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24 dari PDB. Defisit di bulan lalu, (Agustus 2026) 0,9. Hari ini, per akhir September 1,2.
Sedangkan target defisit di akhir tahun 2,8. Beban APBN bertambah Rp6 Triliun setiap harga minyak naik USD1 per barel keseimbangan primer tercatat mencapai Rp125,5 triliun. Sementara itu, target keseimbangan primer sepanjang tahun didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak penurunan cukup tajam defisit APBN.
Pada akhir Agustus 2025, defisit APBN mencapai Rp321,6 triliun atau setara 1,35 dari PDB. Artinya, defisit APBN September 2026 yang sebesar Rp319 triliun turun 14,13 dibandingkan realisasi APBN September 2025 (Rp371,5 triliun). Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar rRp689,1 triliun atau setara 2,68 terhadap PDB.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.890-Rp17.950 per dolar AS. Sedangkan untuk perdagangan pekan depan diperkirakan berada di rentang Rp17.780-Rp18.060 per dolar AS.










