Lisan Bisa Menjerumuskan, Begini Pesan Rasulullah kepada Umatnya

Lisan Bisa Menjerumuskan, Begini Pesan Rasulullah kepada Umatnya

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:54
share

Menjaga lisan dari perkataan buruk merupakan salah satu bentuk keselamatan seorang Muslim. Sebab, ucapan yang keluar dari mulut tidak hanya dapat menyakiti orang lain, tetapi juga bisa menjadi sumber dosa bagi orang yang mengucapkannya.

Islam memberikan perhatian besar terhadap persoalan lisan. Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalan berpesan bahwa orang yang mampu menjaga ucapan dan kehormatannya akan mendapatkan jaminan surga.

Rauslullah Shallalahu Alaihi Wassalam bersabda: "Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya."(HR Bukhari)

Hadis tersebut menunjukkan betapa pentingnya menjaga lisan. Apa yang berada di antara dua rahang adalah lidah, sedangkan yang berada di antara dua kaki berkaitan dengan kehormatan atau kemaluan.

Menahan Lisan Ketika Tidak Ada Manfaatnya

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa setiap mukallaf hendaknya menjaga lisannya dari berbagai perkataan, kecuali ucapan yang jelas mengandung kemaslahatan.

Jika berbicara dan diam memiliki kemaslahatan yang sama, menurut beliau, tuntunan yang lebih utama adalah menahan diri untuk tidak berbicara.Sebab, perkataan yang pada awalnya mubah dapat menyeret seseorang kepada ucapan yang haram atau makruh. Dalam kehidupan sehari-hari, hal seperti ini kerap terjadi tanpa disadari.

Baca juga:14 Bahaya Lisan yang Bisa Menjerumuskan ke Neraka, Muslim Wajib WaspadaRasulullah SAW juga mengingatkan: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam." (HR Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi salah satu pedoman penting bagi seorang Muslim dalam menggunakan lisannya. Sebelum berbicara, hendaknya seseorang mempertimbangkan apakah perkataannya membawa manfaat atau justru menyakiti orang lain.

Ghibah dan Celaan Termasuk Bahaya Lisan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa di antara perkara yang wajib dijauhi adalah ghibah, termasuk menggunjing, mencela, dan menghina orang lain.

Salah satu bentuk celaan tersebut adalah al-hamz dan al-lamz. Keduanya merupakan bentuk menyakiti dan merendahkan orang lain, meski tingkat dan cara penyampaiannya dapat berbeda.

Allah Taala berfirman:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

"Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta-merta mereka menjadi marah." (QS At-Taubah: 58)

Allah juga berfirman:وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela." (QS Al-Humazah: 1)

Menurut Ibnu Katsir, celaan dapat dilakukan melalui perbuatan maupun perkataan. Karena itu, kebiasaan menghina, mencibir, merendahkan atau menyerang orang lain melalui ucapan termasuk perilaku yang harus dihindari.

Di era media sosial, persoalan ini menjadi semakin relevan. Hujatan dan komentar kasar yang ditulis di dunia maya tetap merupakan ucapan yang harus dipertanggungjawabkan, meskipun tidak disampaikan secara langsung di hadapan orang yang menjadi sasaran.

Islam Melarang Menghina dan Merendahkan Orang Lain

Larangan mencela juga ditegaskan Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lainnya, boleh jadi perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada yang mengolok-olok. Janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah iman. Dan barang siapa tidak bertobat, mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS Al-Hujurat: 11)Imam At-Thabari menjelaskan bahwa larangan tersebut mencakup berbagai bentuk celaan dan cacian. Seorang Muslim tidak dibenarkan merendahkan Muslim lainnya karena kemiskinan, dosa masa lalu, kondisi sosial, maupun alasan lainnya.

Sikap suka meremehkan orang lain juga dapat berakar dari kesombongan. Seseorang merasa dirinya lebih baik sehingga menganggap rendah orang yang berada di hadapannya.

Padahal, manusia tidak mengetahui kedudukan seseorang di sisi Allah.

Allah kembali menegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik." (QS Al-Hujurat: 11)Ibnu Katsir menerangkan bahwa meremehkan dan mengolok-olok orang lain merupakan bagian dari sifat tercela. Sebab, tindakan tersebut menunjukkan seseorang merasa lebih tinggi dan lebih baik daripada orang yang direndahkannya.

Karena itu, menjaga lisan bukan sekadar menghindari perkataan kasar. Seorang Muslim juga dituntut meninggalkan ghibah, fitnah, hinaan, celaan, panggilan buruk, serta berbagai ucapan yang dapat melukai hati orang lain.

Rasulullah SAW juga bersabda: "Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran." (HR Ibnu Majah)

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa lisan tidak boleh digunakan secara sembarangan. Setiap perkataan hendaknya dipertimbangkan dengan baik karena ucapan dapat menjadi amal kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber dosa.

Pada akhirnya, keselamatan seorang Muslim sangat berkaitan dengan kemampuannya mengendalikan diri, termasuk mengendalikan lisan. Semoga Allah menetapkan hati kita di atas agama-Nya, memberikan kekuatan dan hidayah untuk memperbaiki diri, serta menjaga kita dari penyakit hati dan keburukan lisan, seperti fitnah, prasangka buruk, perkataan kasar, ghibah, dan berbagai bentuk kemaksiatan.

Baca juga:Waspada! 2 Dosa Lisan Ini Sering Dilakukan Kaum Wanita Tanpa Sadar

Topik Menarik