ASEAN Terancam Krisis Energi, Separuh Pasokan Kilang Bergantung dari Minyak Timur Tengah

ASEAN Terancam Krisis Energi, Separuh Pasokan Kilang Bergantung dari Minyak Timur Tengah

Ekonomi | sindonews | Selasa, 6 Oktober 2026 - 08:38
share

Negara-negara ASEAN menghadapi ancaman krisis energi berkepanjangan akibat konflik di Timur Tengah yang memperlihatkan tingginya ketergantungan kawasan terhadap pasokan energi impor. Kondisi tersebut mendorong para menteri energi ASEAN untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap minyak mentah dari Timur Tengah.

"Yang dibawa oleh krisis ini adalah fokus yang lebih tajam pada ketahanan," kata Wakil Menteri Energi Filipina Felix Fuentebella, dikutip dari Reuters, Selasa (6/10/2026).

Baca Juga:Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad Mundur di Tengah Blokade AS

Fuentebella mengatakan keamanan energi kini bergeser dari isu teknis menjadi prioritas bagi para menteri dan pemimpin ASEAN. Pertemuan para menteri energi ASEAN di Manila, Filipina, pekan ini diperkirakan membahas langkah penguatan keamanan pasokan bahan bakar regional, termasuk penerapan respons darurat terkoordinasi melalui Kerangka Perjanjian Keamanan Minyak ASEAN (ASEAN Petroleum Security Agreement/APSA).

Ketergantungan ASEAN terhadap minyak Timur Tengah mencapai lebih dari separuh kebutuhan kilang di kawasan tersebut. Pusat Energi ASEAN memperingatkan gangguan serius terhadap pasokan dari Timur Tengah dapat menempatkan volume minyak yang setara dengan hampir 28 konsumsi akhir minyak ASEAN dalam risiko, sehingga penguatan mekanisme keamanan energi menjadi semakin mendesak.

Namun, keterbatasan kapasitas penyimpanan dan persediaan energi masih menjadi hambatan dalam penerapan APSA. "Ini lebih tentang mempersiapkan krisis berikutnya. Cadangan adalah penyangga, bukan strategi," kata peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute Christopher Len dalam webinar yang diselenggarakan Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Dampak kenaikan harga energi juga mulai dirasakan masyarakat, terutama rumah tangga dan pekerja transportasi. Di Filipina, sopir jeepney Antonio Bandin mengatakan biaya bahan bakarnya telah lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 2.400 peso atau USD38 per hari sehingga pendapatan tertekan.

Baca Juga:Ekspor Minyak Selat Hormuz Rebound Nyaris Normal, Kenapa Harga BBM & Diesel Malah Meledak?

Para menteri energi ASEAN juga akan membahas upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor dalam jangka panjang melalui percepatan energi terbarukan, kendaraan listrik, efisiensi energi, serta integrasi jaringan listrik kawasan. Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan tagihan impor energi Asia Tenggara dapat meningkat dari lebih dari USD80 miliar pada 2024 menjadi sekitar USD245 miliar pada 2035 jika tidak terjadi perubahan struktural.

ASEAN perlu menjadikan gejolak energi saat ini sebagai momentum mengurangi paparan terhadap risiko pasokan, tidak hanya membangun cadangan. Transformasi menuju elektrifikasi yang lebih luas dan integrasi jaringan listrik lintas batas diperkirakan membutuhkan investasi sekitar USD27 miliar hingga 2040.

Topik Menarik