Berprofesi Dokter, Nycta Gina Ngaku Tak Berani Obati Suami dan Anak
Meski berprofesi sebagai dokter, Nycta Gina mengaku tak berani mengobati suami dan anaknya sendiri ketika mereka sakit. Ia khawatir keputusan medis yang diambil justru berujung pada kesalahan dan penyesalan seumur hidup.
Cerita tersebut dibagikan Gina dalam cuplikan podcast Warung Kopi yang diunggah di akun Instagram Gofar Hilman, @pergijauh. Dokter sekaligus aktris yang dikenal lewat karakter Jeng Kelin itu mengungkapkan bahwa dirinya hanya berani melakukan diagnosis awal terhadap anggota keluarga inti.
“Eh, tapi itu adalah sebuah fun fact juga bahwa gue sebagai dokter, gue bisa mungkin mendiagnosis nih kira-kira kalau anak gue atau suami gue sakit segala macam, tapi gue enggak berani ngobatin,” kata Gina, dikutip Minggu (4/10/2026).
Baca Juga : Unggahan Nycta Gina soal Kebakaran Dekat Rumah Tuai Kritik, Ini Penyebabnya
Menurut Gina, sikap tersebut ternyata juga banyak dialami oleh tenaga medis lain. Ketika berhadapan dengan anggota keluarga yang sangat dekat, sebagian dokter justru memilih menyerahkan penanganan kepada rekan sejawat.“Takut gue. Pokoknya kalau ring one, lu tanya sama dokter-dokter juga rata-rata begitu. Kalau keluarga yang dekat banget, yang inner circle-nya banget, itu biasanya tuh kayak, ‘Lu berobat ke orang lain deh,’ gitu, walaupun tahu,” ujarnya.
Gina menjelaskan, alasan utamanya bukan karena tidak memahami kondisi medis yang dialami keluarganya, melainkan karena besarnya tanggung jawab moral dan ikatan emosional. Ia takut jika terjadi kesalahan dalam penanganan, rasa bersalah tersebut akan terus membebaninya.
“Gue takut nanti kalau gue melakukan kesalahan atau apa, kan nanti kayak tanggung jawab moral gue itu anak gue, itu suami gue,” tutur Gina.
Baca Juga : Nycta Gina Tanamkan Kebiasaan untuk Berbagi kepada Kedua Buah HatiDalam keseharian, Gina mengaku kerap berdiskusi dengan sang suami, Rizky Kinos, mengenai gejala yang dialami anak-anak mereka. Ia terkadang sudah memiliki dugaan mengenai penyakit yang diderita sang anak, termasuk menyarankan obat yang mungkin diperlukan.
Namun, Gina tetap memilih membawa anaknya ke dokter anak untuk memastikan diagnosis dan penanganan yang tepat.“Jadi kalau anak gue sakit, biasanya tuh kayak gue udah tahu nih, ‘Ini jangan-jangan ini ya’. Kadang gue suka jelasin juga ke Ino, ‘Kayak minum obatnya begini deh, Mas,’ atau apa. ‘Eh, tapi kita bawa yuk ke dokter anak yuk,’” jelasnya.
Menariknya, diagnosis dan obat yang diberikan dokter anak sering kali tidak jauh berbeda dari perkiraan Gina. Hal ini membuat Kinos sesekali melontarkan candaan karena harus mengeluarkan biaya konsultasi, padahal hasilnya sesuai dengan dugaan sang istri.
“Entar sampai dokter anak, didiagnosis atau obatnya kurang lebih sama. Makanya dia suka kurang ikhlas kalau ngeluarin kartu, ‘Kan, aku bilang juga apa’. Kalau enggak kan gratis,” kata Gina sambil tertawa.
Saat ditanya apakah sikapnya tersebut berkaitan dengan kode etik kedokteran, Gina menilai keraguannya lebih disebabkan oleh naluri dan ikatan emosional sebagai seorang ibu maupun istri.
“Kayaknya emang naluri aja sih. Kalau salah, entar rasa merasa bersalahnya kan takutnya seumur hidup,” ungkapnya.Untuk memperkuat ceritanya, Gina juga membagikan pengalaman seorang rekan sejawat yang berprofesi sebagai dokter spesialis ortopedi. Dokter tersebut terbiasa melakukan operasi tulang, tetapi memilih menyerahkan penanganan kepada dokter lain ketika anaknya mengalami patah tulang saat mengikuti kegiatan field trip.
“Kagak bapaknya yang operasi. Padahal itu udah makanan hari-hari bapaknya. Tapi tetap aja dia refer ke orang lain, ke dokter lain. Kayak, ‘Wah, enggak bisa, enggak bisa saya kalau operasi sendiri’,” papar Gina.
Karena itu, Gina memilih meminta pendapat kedua (second opinion) dari dokter lain apabila kondisi anggota keluarganya membutuhkan penanganan lebih lanjut. Baginya, langkah tersebut dapat memberikan rasa aman sekaligus mengurangi risiko kesalahan dalam pengambilan keputusan medis.
Meski tetap bisa memberikan pertolongan awal untuk kondisi ringan, Gina mengaku tidak ingin mengambil risiko ketika menghadapi masalah kesehatan yang membutuhkan tindakan lebih serius.
“Tapi kalau yang ringan-ringan doang gitu masih oke. Tapi kalau udah kayak, ‘Aduuh, enggak bisa nih, kayaknya menurut gue sih ini, tapi yuk coba cari second opinion-nya yuk, kita ke dokter lagi,’” pungkasnya.










