Takdir Sudah Ditetapkan, Mengapa Doa Masih Bisa Mengubahnya?
Benarkah doabisa mengubah takdir seseorang? Pertanyaan ini kerap muncul ketika umat Islam membahas qadha dan qadar. Jika seluruh perjalanan hidup manusia telah berada dalam ketetapan Allah SWT, lalu bagaimana posisi doa dan ikhtiar manusia?
Dalam sejumlah penjelasan ulama, doa merupakan salah satu sebab yang dapat menjadi jalan datangnya perubahan dalam kehidupan seseorang. Karena itu, seorang Muslim tetap diperintahkan untuk berdoa, berusaha, dan tidak menjadikan takdirsebagai alasan untuk berhenti berharap kepada Allah SWT.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لا يرد القدر إلا بالدعاء ولا يزيد العمر إلا البر وإن الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه
"Takdir tidak dapat ditolak kecuali dengan doa, umur tidak bertambah kecuali dengan kebajikan, dan seseorang dapat terhalang dari rezeki karena dosa yang dilakukannya." (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi)Hadis tersebut menjadi salah satu dalil yang kerap digunakan para ulama ketika menjelaskan hubungan antara doa dan takdir.
Takdir dan Ketetapan Allah
Al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwazi menjelaskan persoalan takdir dan ketetapan Allah SWT. Dalam pembahasan qadha dan qadar, para ulama memberikan penjelasan mengenai adanya ketetapan Allah yang bersifat pasti serta ketetapan yang berkaitan dengan sebab-sebab tertentu.Baca juga:Takdir Baik Diterima, Takdir Buruk Dicela? Begini Hukumnya dalam Islam
Dalam istilah yang digunakan sebagian ulama, terdapat pembahasan mengenai qadha mubram dan qadha mu'allaq. Qadha mubram dipahami sebagai ketetapan Allah yang pasti dan tidak berubah. Sementara qadha mu'allaq berkaitan dengan suatu ketetapan yang dikaitkan dengan sebab tertentu.
Dalam konteks inilah doa, sedekah, silaturahmi, dan berbagai amal kebaikan dipahami sebagai bagian dari sebab yang dapat mengantarkan seseorang kepada suatu keadaan yang berbeda.
Dengan demikian, ketika dikatakan bahwa doa dapat "mengubah takdir", bukan berarti Allah SWT baru mengetahui suatu kejadian setelah doa dipanjatkan.
Allah tetap Mahamengetahui segala sesuatu. Doa dan perubahan yang terjadi setelahnya pun berada dalam ilmu dan ketetapan Allah SWT.
Allah Menghapus dan Menetapkan Apa yang Dikehendaki-Nya
Pembahasan mengenai perubahan ketetapan juga dikaitkan dengan firman Allah SWT:يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ"Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz)." (QS Ar-Ra'd: 39)
Ayat ini menjadi dasar pembahasan para ulama mengenai adanya ketetapan yang dapat mengalami perubahan pada tingkat tertentu, sementara Allah memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai seluruh perkara.
Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir juga membahas hubungan antara doa dan ketetapan Allah tersebut.
Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya meninggalkan doa hanya karena merasa segala sesuatu telah ditakdirkan. Justru doa merupakan salah satu bentuk ibadah sekaligus ikhtiar seorang hamba dalam menghadapi kehidupannya.
Benarkah Umur Bisa Bertambah karena Amal Baik?
Hadis tersebut juga menyebut bahwa umur tidak bertambah kecuali dengan kebajikan.Salah satu amal yang sering dikaitkan dengan panjangnya umur adalah menyambung silaturahmi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR Bukhari dan Muslim)
Para ulama memberikan sejumlah penjelasan mengenai makna "dipanjangkan umur" dalam hadis tersebut. Di antaranya berkaitan dengan keberkahan umur atau adanya tambahan dalam ketetapan yang dikaitkan dengan sebab tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa doa dan amal saleh tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan takdir. Sebaliknya, keduanya merupakan bagian dari sebab yang Allah tetapkan dalam kehidupan manusia.
Jangan Berhenti Berdoa karena Merasa Semua Sudah Ditakdirkan
Pada akhirnya, persoalan takdir tidak semestinya membuat seorang Muslim berhenti berdoa dan berusaha.Manusia memang tidak mengetahui secara pasti apa yang telah Allah tetapkan untuk dirinya. Karena itu, tugas manusia adalah menjalankan sebab-sebab yang diperintahkan, memperbanyak doa, melakukan amal saleh, serta bertawakal kepada Allah SWT.Jika seseorang menghadapi kesulitan, ia tetap dianjurkan berdoa. Jika menginginkan rezeki yang lebih baik, ia tetap diperintahkan untuk berusaha. Jika menginginkan kebaikan dalam kehidupannya, ia tetap dianjurkan memperbanyak amal saleh.
Sebab, bisa jadi doa yang dipanjatkan dan usaha yang dilakukan itulah yang menjadi sebab datangnya ketetapan Allah yang berbeda dari apa yang sebelumnya dikhawatirkan manusia.
Dengan demikian, ungkapan bahwa "doa dapat mengubah takdir" perlu dipahami secara tepat: doa merupakan salah satu sebab yang Allah jadikan dalam perjalanan takdir manusia. Adapun seluruh perubahan tersebut tetap berada dalam ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah SWT. Wallahu a'lam bish-shawab.
Baca juga:Qada' dan Qadar, Apa Bedanya dengan Takdir? Ini Penjelasan Ulama










