Raja Salman Kecam Serangan ke Mekkah, Sebut Houthi Teroris

Raja Salman Kecam Serangan ke Mekkah, Sebut Houthi Teroris

Global | sindonews | Rabu, 23 September 2026 - 13:12
share

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, melabeli gerakan bersenjata Houthi di Yaman sebagai "milisi teroris". Dia menuduh kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut berulang kali menargetkan kota suci Mekkah.

Raja Saudi berusia 90 tahun itu menyampaikan pernyataan tersebut dalam rapat kabinet pada hari Selasa (22/9/2026), sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA).

Ini merupakan intervensi yang jarang terjadi dari sang raja terkait isu-isu terkini, mengingat sebagian besar urusan sehari-hari dijalankan oleh putranya, Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Serangan mematikan oleh Houthi bulan ini menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keamanan Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut SPA, Raja Salman menyebut dugaan penargetan kota suci oleh Houthi sebagai "kejahatan keji" dan provokasi terhadap sentimen umat Islam di seluruh dunia.Pekan lalu, Arab Saudi menyatakan telah mencegat satu pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan oleh Houthi ke arah Mekkah—tuduhan yang dibantah keras oleh pihak Houthi, di mana pemimpin mereka, Abdel-Malik al-Houthi, menyebut klaim Saudi tersebut sebagai "kebohongan keji".

Ini adalah kali pertama dalam hampir 10 tahun status siaga keamanan diaktifkan di Mekkah, kota yang menjadi lokasi Ka'bah, situs paling suci dalam Islam.

Raja Saudi memberikan apresiasi kepada militer dan aparat keamanan karena telah "membela tanah air dan dengan tegas menghadapi segala bentuk agresi terhadap situs-situs suci, jemaah, warga negara, maupun penduduk Kerajaan."

Kota-kota di Saudi menjadi Sasaran

Raja Salman juga menyinggung pertemuan antara putra mahkota dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo pekan lalu, serta pembicaraannya dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenai "upaya meningkatkan stabilitas kawasan serta menjamin keamanan dan kebebasan navigasi maritim".

Serangan rudal dan drone Houthi semakin sering menyasar kota-kota, infrastruktur energi, dan jalur pelayaran Arab Saudi, sehingga membuka front baru dalam konflik regional yang lebih luas—konflik yang bermula dari perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada bulan Februari.Pada hari Sabtu, pasukan koalisi pimpinan Saudi di Yaman menyatakan telah mencegat rudal balistik yang ditembakkan Houthi ke arah ibu kota Saudi, Riyadh. Insiden ini menyebabkan kepulan asap hitam membubung dari area penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh.

Eskalasi ini juga meningkatkan risiko terkait pasokan energi global, seiring meluasnya kendali milisi Houthi hingga mencakup seluruh pesisir Laut Merah Yaman—wilayah yang selama ini menjadi jalur alternatif bagi ekspor minyak Arab Saudi di tengah blokade Selat Hormuz.

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bulan lalu menandatangani Kesepakatan Pertahanan Bersama Mekkah, yang menetapkan serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara anggota tersebut dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

Baca juga: Trump: AS dan Iran Gelar Pembicaraan Sangat Baik

Topik Menarik