Qada' dan Qadar, Apa Bedanya dengan Takdir? Ini Penjelasan Ulama
Keimanan kepada qada' dan qadarmerupakan salah satu rukun iman yang wajib diyakini setiap Muslim. Namun, di tengah pembahasan tentang takdir, masih banyak yang bertanya-tanya: apa sebenarnya perbedaan qada, qadar, dan takdir?
Pembahasan mengenai istilah tersebut telah lama menjadi perhatian para ulama. Sebagian ulama memandang qada dan qadar memiliki makna yang sama, sementara ulama lainnya membedakan keduanya berdasarkan waktu dan bentuk ketetapannya.
Ustaz Ammi Nur Baits menjelaskan, terdapat dua pendapat utama ulama mengenai perbedaan qada dan qadar. "Pendapat pertama, sebagian ulama berpendapat, qadha adalah sinonim dari qadar. Sehingga kata qada dan qadar maknanya sama. Dan ini sejalan dengan penjelasan sebagian ahli bahasa, mereka menafsirkan qadar dengan qada," jelasnya.
Pendapat tersebut juga dikemukakan Imam Ibnu Baz. Ketika ditanya mengenai perbedaan qadha dan qadar, beliau menjelaskan bahwa keduanya memiliki makna yang sama, yakni sesuatu yang telah Allah SWT tetapkan sebelumnya. Karena itu, ketetapan tersebut dapat disebut sebagai qada maupun qadar.
Ada Ulama yang Membedakan Qadha dan Qadar
Pendapat kedua menyatakan bahwa qada dan qadar memiliki makna berbeda. Namun, di antara ulama yang membedakannya pun terdapat beberapa perincian.Baca juga:Wanita Akhir Zaman Makin Diuji, UAH Ungkap 2 Amalan Penjaga KemuliaanPendapat pertama menyebut qada lebih dahulu daripada qadar.
Dalam pandangan ini, qada merupakan ketetapan Allah SWT secara keseluruhan sejak zaman azali, sedangkan qadar merupakan bagian-bagian atau rincian dari ketetapan tersebut yang terjadi pada makhluk.Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa qada merupakan ketetapan global secara keseluruhan sejak zaman azali, sedangkan qadar merupakan bagian-bagian dan rincian dari ketetapan tersebut.
Al-Jurjani dalam At-Ta'rifat juga menjelaskan bahwa qada merupakan ketetapan secara global mengenai seluruh makhluk yang tertulis di Lauhul Mahfuz, sedangkan qadar berkaitan dengan ketetapan terhadap makhluk tertentu setelah terpenuhi sebab dan ketentuannya.
Ada Juga yang Memahami Qadar Lebih Dahulu
Pendapat lainnya justru membalik pengertian tersebut. Dalam pandangan ini, qadar lebih dahulu daripada qadha.Qadar dipahami sebagai ketetapan Allah SWT sejak zaman azali, sedangkan qadha merupakan keputusan atau realisasi atas ketetapan tersebut ketika terjadi.
Ar-Raghib al-Asfahani dalam Al-Mufradat menjelaskan:
والقضاء من الله تعالى أخص من القدر؛ لأنه الفصل بين التقدير، فالقدر هو التقدير، والقضاء هو الفصل والقطع
Artinya : qada dari Allah lebih khusus dibandingkan qadar. Qadar merupakan penetapan atau perencanaan, sedangkan qadha merupakan keputusan dan ketetapan atasnya.
Kronologi Lengkap Melaney Ricardo Vs Emma Warokka, Berawal dari Celetukan Onyo Makan di Luar!
Meski terdapat perbedaan dalam mendefinisikan kedua istilah tersebut, Syaikh Abdurrahman al-Mahmud mengingatkan bahwa perbedaan tersebut tidak perlu menjadi bahan perdebatan panjang.Dalam Al-Qadha wal Qadar fi Dhau' al-Kitab wa as-Sunnah, ia menjelaskan bahwa para ulama pada dasarnya sepakat mengenai substansinya, meskipun berbeda dalam penggunaan istilah dan batasan definisinya.Dengan kata lain, baik disebut qadha maupun qadar, keduanya sama-sama berkaitan dengan ketetapan Allah SWT terhadap makhluk-Nya.
Mengenal Macam-Macam Takdir
Sementara untuk memahami persoalan takdir secara lebih luas, para ulama juga menjelaskan adanya beberapa bentuk ketetapan Allah SWT.1. Takdir Azali
Takdir azali merupakan ketetapan Allah SWT yang telah ada sejak sebelum penciptaan langit dan bumi.Rasulullah SAW bersabda:
"Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi." (HR Muslim).
Keyakinan terhadap takdir azali menegaskan bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang luput dari pengetahuan dan ketetapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS At-Taubah: 51).
2. Takdir Yaumi
Takdir yaumi berkaitan dengan ketetapan Allah SWT yang berlangsung dari waktu ke waktu sesuai dengan kehendak-Nya.Allah SWT berfirman:"Setiap waktu Dia dalam kesibukan." (QS Ar-Rahman: 29).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT senantiasa mengatur urusan makhluk-Nya. Dalam sejumlah riwayat dijelaskan bahwa di antara bentuk pengaturan Allah adalah mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, meninggikan dan merendahkan keadaan manusia.
3. Takdir Kitabah
Takdir kitabi atau kitābah berkaitan dengan pencatatan ketetapan Allah SWT. Salah satu dalil yang sering dikaitkan dengan pembahasan ini adalah firman Allah SWT mengenai persaksian anak cucu Adam:"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi'..." (QS Al-A'raf: 172).
Ayat tersebut mengingatkan manusia mengenai persaksian dan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah SWT.
4. Takdir Hauli
Takdir hauli berkaitan dengan ketetapan yang berlangsung untuk satu tahun.Pembahasannya dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar, sebagaimana firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (QS Ad-Dukhan: 3-4).Karena itu, Lailatul Qadar menjadi salah satu momentum penting dalam pembahasan mengenai ketetapan Allah SWT yang berkaitan dengan urusan selama satu tahun.
5. Takdir 'Umri
Takdir 'umri berkaitan dengan ketetapan Allah SWT terhadap seseorang ketika berada dalam kandungan.Dalam hadis disebutkan bahwa malaikat diperintahkan untuk menuliskan sejumlah perkara, di antaranya rezeki, ajal, amal, serta keadaan seseorang.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia berada dalam ilmu dan ketetapan Allah SWT sejak sebelum ia lahir ke dunia.
Iman kepada Takdir Bukan Alasan Berhenti Berikhtiar
Memahami takdir bukan berarti seorang Muslim boleh pasrah tanpa melakukan usaha. Keyakinan bahwa seluruh ketetapan berada dalam kehendak Allah SWT justru harus berjalan bersama ikhtiar, doa, dan tawakal.Manusia tetap memiliki kehendak dan kemampuan untuk memilih serta melakukan perbuatan. Karena itu, seseorang tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban, malas berusaha, atau melakukan perbuatan yang dilarang agama.
Dengan memahami qadha, qadar, dan takdir secara proporsional, seorang Muslim diharapkan tidak hanya menerima ketetapan Allah dengan lapang dada, tetapi juga terus berusaha melakukan yang terbaik dalam kehidupannya. Sebab, iman kepada takdir bukan berarti berhenti berusaha, melainkan meyakini bahwa hasil akhir dari setiap ikhtiar tetap berada dalam ketetapan dan kehendak Allah SWT. Wallahu A'lam
Baca juga:Mengapa Perempuan Disebut Banyak Terkena Fitnah Akhir Zaman? Ini Penjelasan Hadis Nabi









