Saatnya BRICS Patahkan Dominasi Dolar, Pakar Ungkap Potensi Rombak Tatanan Finansial Dunia
Ekspansi masif blok ekonomi BRICS kembali memicu peta kekuatan geopolitik dunia. Para pakar menegaskan bahwa BRICS kini resmi menjadi benteng utama yang memberi suara lebih lantang bagi negara-negara berkembang (Global South) di panggung internasional.
Pendiri sekaligus Ketua Eksekutif South African BRICS Forum, Raymond Matlala menyebut penambahan anggota baru, negara mitra, serta negara keterlibatan (outreach) telah membawa lebih banyak bangsa berkembang ke meja pengambilan keputusan global.
"BRICS sejak awal selalu menempatkan dirinya untuk menyuarakan aspirasi Global South," ujar Matlala seperti dilansir RT menyusul penutupan KTT BRICS ke-18 di New Delhi (12–13 September 2026).
Dobrak Hegemoni Dolar dan Jeratan Utang
Pandangan menohok disampaikan pakar studi Pan-Afrikanis dan mantan anggota Parlemen Afrika Selatan, Dr. Khanyisile Litchfield-Tshabalala. Ia menegaskan, bahwa BRICS memiliki potensi besar merombak tatanan finansial dan politik dunia yang selama ini mendiskriminasi benua kaya sumber daya.Baca Juga: Keruntuhan Dolar AS Bukan Lagi Dongeng, BRICS Ubah dari Khayalan Menjadi Ancaman Nyata
"Semua masalah berpusat pada apa yang kita sebut petrodolar-perebutan atas sumber daya dan mineral mentah yang ditawarkan Afrika, yang sangat dibutuhkan Barat untuk diproses menjadi produk jadi," ungkap Litchfield-Tshabalala.
Ia mendesak negara-negara berkembang untuk tidak lagi bergantung pada Dolar AS. Afrika selama ini menanggung syarat pinjaman tak adil dari lembaga keuangan tradisional seperti IMF dan Bank Dunia yang dinilainya melayani kepentingan mantan negara kolonial.
Baca Juga: Iran Gabung Bank BRICS, Makin Yakin Tinggalkan Dolar Bersama Negara Berkembang
BRICS dinilai memberikan alternatif nyata melalui penggunaan mata uang lokal antar-anggota untuk transaksi internasional. "Bagi saya, BRICS adalah masa depan," tegasnya.










