Krisis Pasokan Minyak Mengancam Eropa, Saudi Batalkan Pengiriman Akibat Pipa Utama Lumpuh

Krisis Pasokan Minyak Mengancam Eropa, Saudi Batalkan Pengiriman Akibat Pipa Utama Lumpuh

Ekonomi | sindonews | Rabu, 16 September 2026 - 15:09
share

Krisis energi dunia melompat ke tingkat yang lebih mengkhawatirkan. Arab Saudi dilaporkan membatalkan sejumlah pengiriman minyak mentah ke Eropa setelah serangkaian serangan drone memaksa penutupan penuh pipa East-West (Petroline), memicu kepanikan di kalangan kilang minyak Barat yang bergantung pada kargo Timur Tengah.

Menurut laporan Reuters, Saudi Aramco telah memberi tahu para pelanggan di Eropa mengenai pembatalan kargo yang dijadwalkan untuk pemuatan akhir September ini. Aktivitas pemuatan kapal di Pelabuhan Yanbu (Laut Merah), yang menjadi rute alternatif utama untuk menghindari konflik perairan kini dihentikan secara total.

Kondisi eropa semakin terjepit, ketika kilang Polandia lelabakan, dan pasokan Libya ikut lumpuh. Keputusan drastis Riyadh ini langsung menghantam negara-negara Eropa yang berupaya lepas dari ketergantungan energi Rusia.

Baca Juga: Selat Hormuz Sempat Lumpuh, Raja-raja Minyak Arab Garap Proyek Pipa Raksasa

Kilang minyak raksasa Polandia, Orlen kini berpacu dengan waktu untuk mencari pasokan pengganti dari Laut Utara. Seperti diketahui Saudi Aramco merupakan pemasok minyak terbesar Orlen yang memenuhi sekitar 40 kebutuhan minyak Polandia.

Di saat minyak berjangka Brent merangkak ke USD108 per barel, harga fisik minyak di Eropa (dated Brent) telah melonjak hingga menyentuh USD122 per barel akibat kelangkaan kargo mendadak.

Baca Juga: Arab Saudi Penyelamat Dunia dari Kiamat Minyak? Pipa Raksasa Bypass Selat Hormuz Pompa 7 Juta Barel

Tekanan bagi Eropa makin berat setelah National Oil Corporation (NOC) Libya menghentikan operasi di ladang minyak Hamada dan Al-Tahara akibat penutupan paksa pipa Hamada-Zawiya oleh faksi bersenjata lokal.

Terjepit Dua Sisi Gejolak Selat Hormuz dan Laut Merah

Serangan terhadap pipa East-West membuat Arab Saudi terdesak dari dua penjuru geografis. Jalur East-West yang sebelumnya diandalkan untuk membypass Selat Hormuz kini lumpuh, sementara ancaman militer di kawasan selatan dan barat kian memanas.

Kelompok Houthi di Yaman meningkatkan serangan rudal balistik dan drone ke wilayah Saudi selatan, memicu alarm udara di Jizan yang menampung infrastruktur kilang penting. Houthi juga memperluas posisi militer di dekat Selat Bab el-Mandeb, mengancam pelayaran di Laut Merah.

Sebagai langkah darurat, para pedagang memproyeksikan Saudi akan mencoba mengalirkan minyak kembali melalui Selat Hormuz menggunakan metode dark shipments (pelayaran tanpa pelacak aktif) untuk menjaga volume ekspor.

Topik Menarik