Harga Minyak Dunia Memanas Lagi, Pasokan Global Terancam Anjlok 4

Harga Minyak Dunia Memanas Lagi, Pasokan Global Terancam Anjlok 4

Ekonomi | sindonews | Selasa, 15 September 2026 - 08:29
share

Pasar minyak dunia kembali bergejolak tajam pada perdagangan, Selasa (15/9/2026). Lonjakan harga minyak mentah tidak terelakkan setelah serangan militer terbaru menghantam infrastruktur energi utama Arab Saudi.

Serangan tersebut memutus operasional pipa East-West (Petroline) yang menjadi urat nadi distribusi minyak Kerajaan Saudi, serta membuyarkan harapan pemulihan rute pelayaran di kawasan Teluk.

Pada hari ini harga minyak mentah berjangka Brent melonjak USD1,24 atau setara 1,18 menjadi USD106,93 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melesat USD1,29 atau 1,24 ke posisi USD102,65 per barel. Lonjakan ini melanjutkan tren kenaikan dari sesi sebelumnya di tengah makin tingginya kekhawatiran krisis pasokan global.

Baca Juga: Selat Hormuz Belum Temui Titik Terang, Harga Minyak Catat Lonjakan 40 Tahun Ini

Pemicu utama lonjakan harga minyak mentah kali ini adalah lumpuhnya jalur pipa East-West. Jalur pipa ini sangat vital karena mengalirkan sekitar 4 juta barel per hari (bpd) atau setara 4 pasokan minyak dunia, dari wilayah timur Saudi menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk mengindari Selat Hormuz yang terblokade.

Para pembeli dan pedagang minyak memperingatkan bahwa Saudi bisa memutus atau kehabisan pasokan minyak siap ekspor dalam hitungan hari jika kerusakan pipa East-West tidak segera dipulihkan. Kondisi tersebut memicu ancaman kelangkaan pasokan yang mendongkrak harga.

Baca Juga: Berapapun Harga Minyak Dunia, Bahlil Jamin BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026

Kelumpuhan pipa terjadi menyusul serangan pada Jumat lalu yang dituduhkan Riyadh kepada milisi sokongan Iran di Irak. Disertai serangan rudal dan drone kelompok Houthi dari Yaman yang menghantam pangkalan udara militer Khamis Mushait pada Senin, eskalasi konflik di kawasan kian tak terkendali.

"Para pedagang minyak memperlakukan setiap serangan baru atau kerusakan infrastruktur sebagai risiko pasokan tambahan. Pertanyaan terbesar pasar saat ini adalah seberapa lama pipa East-West akan lumpuh," tegas Tim Waterer, Chief Market Analyst di KCM Trade.

Pelayaran Selat Hormuz Makin Terpuruk

Kondisi diperparah oleh kian menyusutnya aktivitas di Selat Hormuz. Data pergerakan kapal menunjukkan transit komoditas melintasi Selat Hormuz merosot ke bawah 10 kapal per hari sepanjang akhir pekan lalu, atau jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 14 kapal.

Padahal sebelum perang AS-Israel lawan Iran meletus pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz memegang peranan krusial dengan melayani sekitar 20 total kebutuhan minyak harian dunia.

Topik Menarik