Booming AI Selamatkan Ekonomi, Rahasia Dapur Pabrik Asia Menggeliat di Tengah Perang

Booming AI Selamatkan Ekonomi, Rahasia Dapur Pabrik Asia Menggeliat di Tengah Perang

Ekonomi | sindonews | Selasa, 15 September 2026 - 08:05
share

Gelombang permintaan global terhadap perangkat keras kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi juru selamat bagi industri manufaktur Asia di sepanjang Agustus 2026. Survei swasta mengungkapkan, lonjakan pesanan cip dan komponen AI berhasil menjaga roda pabrik-pabrik di Asia tetap berputar kencang, menahan tekanan ketidakpastian dan pembengkakan biaya akibat perang Timur Tengah yang berkepanjangan.

Raksasa manufaktur kawasan, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan mencatatkan ekspansi aktivitas pabrik berkat kuatnya permintaan pasar terhadap semikonduktor, komputer, dan ekosistem pendukung AI. Kekuatan tren AI supercycle terlihat paling menonjol pada kinerja ekspor Korea Selatan dan Jepang.

Indeks Manufaktur (PMI) Korea Selatan bertahan di level 52,3 untuk menandai ekspansi selama sembilan bulan berturut-turut. Kinerja ini ditopang oleh nilai ekspor yang meroket 68,7 secara tahunan (year-on-year) pada Agustus 2026, mencatatkan pertumbuhan ekspor 15 bulan tanpa henti.

Baca Juga: Ledakan AI Guncang Pasar Kerja Global, 40 Pekerjaan Manusia Terancam

Sedangkan PMI Manufaktur S&P Global Jepang naik menjadi 54,9 pada Agustus (dari 54,5 pada Juli), menyentuh level tertinggi sejak April dan membukukan ekspansi delapan bulan beruntun. Pesanan bisnis baru bahkan tumbuh pada laju tercepat sejak Januari 2018.

Lain lagi dengan Indeks PMI Manufaktur RatingDog Tiongkok (dikompilasi S&P Global) terpantau naik ke 51,5 dari 50,9 pada Juli, mengungguli perkiraan para analis di angka 51. Baca Juga: Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China

"Sektor ini berada di posisi yang sangat baik untuk mempertahankan kinerja kuatnya, terutama didorong oleh permintaan yang terhubung dengan sektor berbasis AI," ujar Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, Annabel Fiddes.

Rapor Manufaktur Asia Tenggara: Filipina Melonjak, Indonesia Terkontraksi

Di kawasan Asia Tenggara, dinamika manufaktur menunjukkan performa yang beragam. Filipina mencatatkan kejutan dengan lonjakan PMI dari 51,8 menjadi 54,9. Taiwan dan Malaysia juga tetap berada di zona ekspansi masing-masing di angka 54,7 dan 50,2.

Namun, Indonesia mencatatkan penurunan dengan indeks PMI yang kembali melorot ke zona kontraksi di level 49,8 pada Agustus (turun dari 50,2 pada Juli), mengindikasikan bahwa dampak pembengkakan biaya logistik global akibat krisis Timur Tengah mulai menekan industri domestik.

Topik Menarik