Gunung Meletus dalam Islam, Apakah Tanda Allah SWT Sedang Murka?

Gunung Meletus dalam Islam, Apakah Tanda Allah SWT Sedang Murka?

Gaya Hidup | sindonews | Minggu, 6 September 2026 - 09:50
share

Aktivitas vulkanik kembali menjadi perhatian setelah Anak Gunung Krakataumengalami erupsi dalam beberapa hari terakhir. Letusan gunung api bahkan disertai abu vulkanik yang dilaporkan berdampak hingga sejumlah wilayah Jabodetabek.

Bagi Indonesia, fenomena gunung meletus bukan sesuatu yang asing. Secara geografis, Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang membuat wilayah ini memiliki banyak gunung api aktif. Aktivitas vulkanik pun dapat meningkat sewaktu-waktu.

Di tengah terjadinya bencana, muncul pertanyaan yang kerap menjadi perbincangan masyarakat: apakah gunung meletus dalam Islam merupakan tanda Allah SWT sedang murka? Dalam perspektif Al-Qur'an, berbagai peristiwa yang menimpa manusia tidak selalu dapat langsung dimaknai sebagai hukuman atau kemurkaan Allah SWT. Bencana memiliki konteks dan makna yang beragam.

Abdul Hakim dalam jurnal Makna Bencana Menurut Al-Qur'an: Kajian Fenomena Terhadap Bencana di Indonesia yang diterbitkan dalam Hermeneutik Vol. 7 No. 2 Tahun 2013 menjelaskan, bencana dapat dikaitkan dengan sejumlah konsep dalam Al-Qur'an, seperti musibah, bala, fitnah atau cobaan, peringatan, hingga azab dalam konteks tertentu.

Baca juga:4 Ciri Orang Memiliki Khodam, Benarkah Bisa Dikenali?Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap korban bencana sebagai orang yang sedang mendapatkan hukuman Allah SWT. Sebab, musibah dapat menimpa siapa saja, termasuk orang yang saleh maupun orang yang memiliki kekurangan dalam kehidupan keagamaannya.

Fenomena Alam

Secara ilmiah, erupsi gunung berapi merupakan fenomena alam yang terjadi akibat proses geologi. Aktivitas magma, tekanan di dalam bumi, serta kondisi gunung api menjadi bagian dari mekanisme yang dapat menyebabkan terjadinya letusan.

Dalam kajiannya, Abdul Hakim memasukkan gunung meletus sebagai salah satu bentuk bencana alam, bersama gempa bumi, tsunami, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Dalam perspektif keimanan, berbagai proses alam tersebut tetap dapat dipandang sebagai bagian dari ketetapan Allah SWT terhadap kehidupan di bumi.

Karena itu, memahami erupsi berdasarkan ilmu pengetahuan tidak berarti mengesampingkan agama. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami proses terjadinya fenomena alam, sedangkan agama memberikan ruang bagi manusia untuk mengambil pelajaran dan melakukan introspeksi.

Jangan Sembarangan Sebut Azab

Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana seorang Muslim menyikapi masyarakat yang menjadi korban bencana.

Ketika gunung meletus dan menyebabkan kerusakan, kerugian hingga korban jiwa, tidak tepat jika seseorang langsung menyimpulkan bahwa masyarakat yang terdampak sedang menerima azab akibat dosa tertentu.

Bencana dapat menjadi ujian yang menimpa manusia tanpa membedakan usia, jenis kelamin, status sosial maupun tingkat keimanan.Karena itu, musibah semestinya mendorong munculnya empati, kepedulian dan tindakan nyata untuk membantu korban, bukan justru melahirkan tudingan kepada mereka yang sedang berada dalam kesulitan.

Di sisi lain, seorang Muslim dapat menjadikan bencana sebagai momentum untuk melakukan muhasabah, memperbaiki diri dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Al-Qur'an Mengajarkan Manusia Menjaga Alam

Kajian Rulia Rahmawati berjudul Bencana Alam dalam Kehidupan Manusia Perspektif Al-Qur'an: Studi Interpretasi Kontekstual yang dimuat dalam Gunung Djati Conference Series Volume 19 Tahun 2023 memberikan perspektif lain mengenai persoalan bencana.

Dalam kajian tersebut, bencana juga dikaitkan dengan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Manusia memang diberikan hak untuk memanfaatkan alam. Namun, pada saat yang sama, manusia memiliki kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Kerusakan lingkungan, perubahan iklim, pemanasan global serta berbagai persoalan ekologis menjadi tantangan yang perlu mendapatkan perhatian serius.

Dalam konteks tersebut, bencana seharusnya mendorong manusia untuk mengevaluasi perilakunya sendiri. Bukan hanya bertanya tentang makna spiritual sebuah musibah, tetapi juga mempertanyakan bagaimana manusia selama ini memperlakukan alam.Pertanyaan tersebut penting agar bencana tidak hanya dipandang sebagai peristiwa yang harus diterima, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan manusia dengan lingkungan.

QS Al-Rum Ayat 41 tentang Kerusakan di Bumi

Al-Qur'an juga memberikan pengingat mengenai hubungan antara perilaku manusia dan kerusakan yang terjadi di bumi. Salah satunya terdapat dalam QS Al-Rum ayat 41.

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Ayat tersebut mengandung pesan penting mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Dalam pendekatan kontekstual, ayat ini dapat menjadi pengingat bahwa manusia memiliki tanggung jawab dalam menjaga bumi.

Kerusakan alam yang terjadi akibat ulah manusia juga tidak semestinya dianggap sebagai persoalan sepele.

Erupsi Gunung Bisa Menjadi Momentum Muhasabah

Lantas, apakah gunung meletus merupakan tanda Allah SWT sedang murka?Tidak tepat apabila setiap peristiwa erupsi langsung disimpulkan sebagai tanda kemurkaan Allah SWT. Dari sisi ilmiah, erupsi merupakan fenomena alam yang memiliki mekanisme geologis. Sementara dari sisi keagamaan, peristiwa tersebut dapat menjadi sarana bagi manusia untuk mengambil pelajaran.

Bencana dapat menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas, membantu masyarakat terdampak, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana, sekaligus melakukan introspeksi terhadap hubungan manusia dengan alam.

Islam mengajarkan manusia agar mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa kehidupan. Karena itu, ketika gunung meletus, respons yang lebih bijak bukan sekadar mencari siapa yang harus disalahkan.

Hal yang lebih penting adalah membantu mereka yang terdampak, meningkatkan kewaspadaan, menjaga lingkungan, serta menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Baca juga:Apa Itu Khodam? Begini Penjelasan Khodam dalam Islam, Benarkah Ada Pendamping Gaib?

Topik Menarik