Rusia dan China Bersatu di SCO, Iran Tetap Jadi Bintang Paling Bersinar
Vladimir Putin dariRusia, Xi Jinping dari China, dan lebih dari belasan pemimpin lainnya dijadwalkan berkumpul di Kyrgyzstan pada hari Senin untuk menghadiri KTT tahunan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).
Secara historis, Organisasi Kerja Sama Shanghai berfokus pada isu-isu ekonomi, namun Presiden Putin dan Presiden Xi juga memanfaatkan KTT ini untuk mempromosikan visi mereka tentang dunia multipolar dan menunjukkan sikap bersatu dalam menghadapi Barat.
Deklarasi pendirian SCO menyatakan bahwa kelompok ini "bukanlah aliansi yang ditujukan untuk melawan negara lain". Namun, pada pertemuan tahun lalu, Putin menuduh negara-negara Barat memicu perang Ukraina, sementara Xi mengecam "tindakan intimidasi", yang merujuk pada ketegangan antara AS dan China.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan mitranya dari Turki, Recep Tayyip Erdogan, juga diperkirakan akan hadir, meskipun Turki bukan anggota organisasi tersebut.
Pezeshkian diperkirakan akan mengadakan pembicaraan bilateral dengan Putin dalam KTT SCO tahun ini di ibu kota Kyrgyzstan, Bishkek. Menteri luar negeri kedua negara bertemu pada bulan Juli dalam pertemuan Dewan Menteri Luar Negeri SCO.
Iran bergabung dengan blok tersebut pada tahun 2023 dan menjalin hubungan militer yang erat dengan Rusia serta hubungan energi dengan Tiongkok.
Selain 10 anggota tetap SCO, terdapat 15 negara lain yang terhubung sebagai "mitra dialog", termasuk Turki, Arab Saudi, dan Qatar.
Para pemimpin India dan Pakistan, yang keduanya merupakan anggota penuh SCO, juga diperkirakan akan hadir.
Blok ini mengklaim mewakili sekitar 40 persen populasi dunia dan 25 persen PDB global. Tahun ini menandai peringatan 25 tahun berdirinya SCO.Pertemuan ini berlangsung tak lama setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan akan mendorong anggota G20 untuk meninjau kembali ketentuan perdagangan dengan China, seraya menyebut surplus perdagangan global Beijing sebesar USD1,2 triliun sebagai sesuatu yang tidak berkelanjutan.
"Dunia tidak bisa memiliki China dengan surplus perdagangan sebesar USD1,2 triliun (HK$9,36 triliun)," ujar Bessent kepada kantor berita Reuters pada hari Minggu, menjelang pertemuan para pemimpin keuangan G20 di Amerika Serikat.
Sumber Arab Saudi Sebut Serangan di Irak Targetkan Milisi yang Didukung Iran, Bukan Negara Irak
"Di China, perekonomiannya cukup lemah, dan mereka berusaha keluar dari situasi tersebut melalui ekspor; mereka perlu menyeimbangkan kembali perekonomian mereka," tambahnya.
Menteri Keuangan AS tersebut juga mengatakan bahwa ia berencana mengadakan pertemuan bilateral dengan Gubernur Bank Rakyat China (People’s Bank of China), Pan Gongsheng, selama konferensi G20 berlangsung, namun ia enggan membahas rinciannya.



