Benarkah Nabi Daniel Telah Menubuatkan Kedatangan Nabi Muhammad SAW 12 Abad Sebelum Kelahirannya?

Benarkah Nabi Daniel Telah Menubuatkan Kedatangan Nabi Muhammad SAW 12 Abad Sebelum Kelahirannya?

Gaya Hidup | sindonews | Minggu, 23 Agustus 2026 - 16:37
share

Kabar tentang kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalamdisebut telah disampaikan jauh sebelum Rasulullah SAW lahir. Salah satu riwayat dalam khazanah Islam menyebutkan, Nabi Daniel AS telah memberikan nubuat mengenai hadirnya seorang nabi pada masa mendatang.

Nabi Daniel AS merupakan nabi dari kalangan Bani Israil. Sebagian ulama menyebut Nabi Daniel memiliki dua nubuat penting. Pertama, mengenai kedatangan Al-Masih Isa bin Maryam AS. Kedua, mengenai kemunculan Nabi Muhammad SAW.

Ibnu Taimiyah, sebagaimana dikutip dalam buku Zulkarnain Agung antara Cyrus dan Alexander, Jejak Cerita dalam Al-Quran dan Riwayat Sejarah karya Wisnu Tanggap Prabowo, menyebut adanya riwayat bahwa Nabi Daniel menyebut nama Muhammad. Dalam riwayat tersebut disebutkan perkataan yang dinisbatkan kepada Nabi Daniel: "Anak-anak panah akan terlepas dari busur-busur, dan anak-anak panah tersebut akan dinodai oleh darah, wahai Muhammad."

Jika merujuk pada literatur ahli kitab, Nabi Daniel hidup sekitar abad ke-6 sebelum Masehi. Artinya, masa hidupnya terpaut sekitar lima abad dari Nabi Isa AS dan kurang lebih 12 abad sebelum masa kenabian Muhammad SAW.

Dalam keyakinan Islam, pengetahuan mengenai perkara gaib pada hakikatnya berasal dari Allah Ta'ala. Allah menyampaikan sebagian perkara gaib kepada para nabi melalui wahyu, termasuk melalui perantaraan Malaikat Jibril AS.Baca juga:12 Rabiul Awal 2026, Mengungkap Peristiwa Ajaib di Balik Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Kisah mengenai Nabi Daniel juga ditulis Ibnu Katsir dalam kitab Qashash al-Anbiya. Sejumlah kisah tentang beliau dalam khazanah Islam memiliki kemiripan dengan tradisi yang berkembang di kalangan ahli kitab.

Salah satunya adalah kisah Nabi Daniel yang disebut pernah berada di dalam kandang singa. Dalam riwayat tersebut, Nabi Irmiya (Jeremiah) disebut mengunjunginya dan membawakan makanan serta minuman atas perintah Allah.

Lokasi Makam Nabi Daniel

Selain kisah tentang kenabian dan nubuatnya, Nabi Daniel juga dikaitkan dengan sebuah peristiwa yang terjadi pada masa generasi sahabat.

Ketika pasukan Muslim melakukan ekspedisi ke wilayah Persia, mereka disebut menemukan jasad yang diyakini sebagai Nabi Daniel dalam keadaan masih utuh di sebuah wilayah dekat Hurmuzan.

Abu Musa al-Asy'ari kemudian melaporkan penemuan tersebut kepada Khalifah Umar bin Khattab di Madinah melalui surat. Setelah menerima laporan itu, Umar memberikan arahan agar jasad tersebut tidak dibiarkan menjadi objek pengultusan.

Dalam riwayat yang dinukil, Umar berkata bahwa Daniel merupakan salah seorang nabi. Karena itu, jasad para nabi tidak dimakan api maupun bumi.Ibnu Katsir juga menegaskan bahwa jasad yang ditemukan kaum Muslimin dalam ekspedisi ke Persia tersebut adalah jasad Nabi Daniel.

Imam Al-Baihaqi dalam Dala'il an-Nubuwwah turut meriwayatkan proses pemakaman jasad tersebut. Abu Aliyah bersama kaum Muslimin disebut menggali lubang kubur di tengah sungai dengan terlebih dahulu membendung aliran air. Pada malam hari, jasad Nabi Daniel kemudian dimakamkan di salah satu liang yang telah disiapkan.

Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari munculnya fitnah berupa pengultusan terhadap makam orang saleh. Dalam sejarah umat terdahulu, pengultusan terhadap orang-orang saleh disebut menjadi salah satu pintu yang dapat mengantarkan manusia kepada kesyirikan.

Enam Teori Lokasi Makam Nabi Daniel

Hingga kini terdapat sejumlah teori mengenai lokasi makam Nabi Daniel. Beberapa lokasi yang disebut dalam berbagai sumber antara lain Kirkuk dan Mugdadiyah di Irak, Susa dan Malamir di Iran, Babilon, serta Samarkand.

Susa menjadi salah satu lokasi yang paling populer disebut sebagai tempat makam Nabi Daniel. Secara geografis, Susa memang berada di kawasan yang relatif dekat dengan wilayah yang dalam sumber Islam disebut berkaitan dengan Hurmuzan.

Namun, terdapat persoalan geografis yang perlu diperhatikan. Susa berada di Provinsi Khuzestan, sedangkan Hormuz berada di Provinsi Hormozgan. Jarak antara kedua wilayah tersebut disebut mencapai sekitar 1.300 kilometer.

Karena itu, identifikasi lokasi makam Nabi Daniel hingga kini masih menjadi perdebatan. Kisah tersebut menunjukkan bagaimana sosok Nabi Daniel tidak hanya dikenal dalam tradisi ahli kitab, tetapi juga memiliki tempat dalam khazanah sejarah dan literatur Islam.Adapun mengenai nubuat Nabi Daniel tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW, kisah tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari riwayat dan literatur yang berkembang dalam khazanah Islam, dengan tetap membedakan antara riwayat yang memiliki dasar kuat dan informasi yang masih diperselisihkan.

Orang Saleh

Sementara itu, terjadi polemik di kalangan kaum Yahudi yang bahkan berlanjut hingga kini mengenai apakah Daniel seorang Nabi atau bukan. Sebagian memandang Daniel bukanlah Nabi, melainkan orang saleh yang mendapat bimbingan ilahiah.

Satu hal yang disepakati, Daniel adalah tokoh masyhur dengan Kitab Daniel-nya (Book of Daniel), yang termasuk ke salah satu teks-teks suci Tanakh di mana Taurat ada dalamnya.

Saat Nebukadnezar menghancurkan al-Quds beserta Kuil Sulaiman pada 587 SM, Daniel menjadi tawanan raja Babilonia tersebut dan beliau diboyong ke Babel. Terlepas dari status tawanannya, menurut Wisnu, di Babilonia Nabi Daniel mendapat tempat terhormat di kerajaan dan menjabat sebuah posisi yang memungkinkan beliau dekat dengan raja Nebukadnezar.

Bagi Nasrani, Daniel adalah Nabi. Bagi umat Islam pun demikian. Hanya saja nama beliau tidak disebutkan dalam al-Quran. Bagi umat Yahudi, Daniel “hanyalah” seseorang yang diberi ilham. Tidak terlampau jauh berbeda dengan nubuat Nabi Daniel dalam Islam mengenai kemunculan Isa al-Masih dan Rasulullah. Di tradisi kalangan Yahudi juga terdapat pandangan bahwa Daniyyel adalah seseorang yang memiliki visi tentang masa depan sekaligus seorang pahlawan yang dielu-elukan.

Sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah, berita kemunculan Nabi Isa al-Masih yang diberitakan Nabi Daniel juga terdapat tradisi Nasrani, hanya saja interpretasi versi Nasrani akan Nubuat Nabi Daniel dikaitkan dengan kemunculan Yesus.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Nabi Daniel mengabarkan tentang akan diutusnya Rasulullah dengan menyebut nama “Muhammad” secara gamblang.Nyatanya, penyebutan nama “Muhammad” oleh Nabi-Nabi terdahulu tidak saja melalui lisan Nabi Daniel alaihissalam saja. Nabi Isa pun menyebut nama “Ahmad” secara langsung. Allah berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (QS ash-Shaff : 6 )

Lumrah jika kita bertanya, apakah ahli kitab baik Yahudi dengan Taurat-nya, atau Nasrani dengan Injilnya, akan mengatakan kepada umat Islam bahwa mereka menemukan nama “Ahmad” atau “Muhammad” sebagai Nabi yang akan diutus pada Akhir Zaman dalam kitab mereka? Secara umum, sikap mereka adalah sebagaimana firman Allah:

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi alKitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.” ( QS al-Ma'idah : 15)

Di atas semua itu, The Book of Daniel memang diakui bagi kebanyakan ahli kitab sebagai sumber berharga yang mengabarkan berita dari masa depan dimulai sejak abad ke-6 SM hingga Hari Kiamat.

Baca juga:Bulan Maulid Nabi, Ini 3 Bacaan Selawat Khusus yang Wajib Diketahui dan Cara Mengamalkannya

Topik Menarik