Kisah Penyintas Terorisme yang Bangkit usai Berdamai dengan Masa Lalu

Kisah Penyintas Terorisme yang Bangkit usai Berdamai dengan Masa Lalu

Nasional | sindonews | Minggu, 23 Agustus 2026 - 15:45
share

Puluhan tahun setelah tragedi bom meneror ruang publik, luka para penyintas terorisme tidak serta-merta berakhir. Bagi Tony Soemarno, penyintas Bom Hotel J.W. Marriott 2003, proses memulihkan diri justru menjadi perjalanan panjang untuk berdamai dengan masa lalu dan menemukan kembali makna kehidupan.

Hal itu diungkap Tony di acara Talkshow “Dari Luka Menjadi Kekuatan: Negara Hadir, Penyintas Bangkit” di The Tribrata, Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.

Trauma yang ditinggalkan aksi terorisme tidak hanya berkaitan dengan luka fisik. Dampaknya juga menyentuh kondisi psikologis dan batin sehingga membutuhkan waktu, pendampingan, serta dukungan untuk dapat kembali menjalani kehidupan secara utuh.

Tony menyadari perjalanan tersebut tidak harus dilalui seorang diri. Pendampingan negara, pemenuhan hak, dan dukungan terhadap penyintas menjadi bagian penting dalam proses pemulihan setelah tragedi terorisme.

Baca juga: Pemerintah Perkuat Perlindungan Penyintas, 34 Korban Terorisme Terima Bantuan“Awalnya sangat sulit untuk bangkit. Namun, saya sampai pada satu titik di mana saya berpikir bahwa pelaku teror pun manusia yang bisa berbuat salah. Saya memilih untuk saling memaafkan dan tidak ingin menyimpan dendam, karena hati yang damai adalah apa yang Tuhan kehendaki,” katanya, dikutip Minggu (23/8/2026).

Pemikiran tersebut kemudian menjadi titik balik dalam kehidupan Tony. Ia mulai melihat dirinya bukan hanya sebagai korban dari sebuah peristiwa teror, tetapi sebagai seseorang yang memiliki kekuatan untuk mengubah pengalaman pahit menjadi pesan perdamaian.

Dengan dukungan dan pendampingan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), pengalaman hidupnya kemudian dituangkan dalam buku The Power of Forgiveness. Tony bahkan memberanikan diri mendatangi lembaga pemasyarakatan untuk bertemu langsung dengan narapidana terorisme.

Langkah itu bukan berarti Tony melupakan tragedi yang pernah dialaminya. Sebaliknya, ia ingin memastikan bahwa luka masa lalu tidak berubah menjadi kebencian yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Lihat video: DENSUS 88 Bongkar 110 Korban, Rekrutmen Terorisme Anak via Game & Medsos

Pengalaman Tony menunjukkan bahwa kehadiran negara bagi penyintas tidak berhenti ketika sebuah tragedi terjadi. Dukungan justru dibutuhkan dalam perjalanan panjang setelahnya, ketika penyintas berusaha memulihkan diri, mendapatkan kembali rasa aman, memenuhi kebutuhan hidup, serta menemukan ruang untuk kembali berkontribusi di tengah masyarakat. Kisah serupa juga datang dari Mariane Ka'awoan, penyintas Bom Pasar Tentena, Poso, pada 2005. Bagi Mariane, proses pemulihan bukan berarti menghapus ingatan terhadap peristiwa kelam yang pernah dialaminya.

Menurut dia, pengalaman masa lalu justru perlu dirawat dan dimaknai dengan tepat agar tidak berubah menjadi kebencian yang diwariskan kepada generasi berikutnya. “Kalau saya tidak memaafkan, saya tidak akan memiliki kedamaian dan sukacita. Kebencian tidak pernah mewariskan kedamaian,” tegas Mariane.

Kisah Tony dan Mariane memperlihatkan bahwa pemulihan penyintas membutuhkan lebih dari sekadar waktu. Dukungan negara menjadi penting untuk memastikan para penyintas tidak selamanya berhenti pada status sebagai korban, tetapi mampu mendapatkan kembali hak, martabat, rasa aman, serta kesempatan untuk menjalani kehidupan secara utuh.

Semangat tersebut terangkum dalam tema “Healing Through Memories”. Mengingat bukan berarti kembali terjebak dalam luka, melainkan mengambil pelajaran dari masa lalu dan mengubahnya menjadi kekuatan untuk membangun masa depan.

Dalam momentum Peringatan Hari Internasional Korban Terorisme 2026, kisah Tony dan Mariane menjadi pengingat bahwa pemulihan penyintas merupakan bagian penting dari upaya membangun perdamaian. Negara hadir bukan untuk menghapus kenangan atas luka yang pernah terjadi.

Negara hadir untuk memastikan para penyintas mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan agar mampu melewati masa sulit, bangkit, dan kembali berdiri sebagai bagian penting dari kehidupan bangsa. Sebab, ketika penyintas mampu bangkit, negara tidak hanya menjalankan kewajibannya dalam melindungi dan memenuhi hak korban.

Lebih dari itu, negara turut membuka jalan bagi lahirnya kekuatan baru: pengalaman menjadi pembelajaran, luka menjadi ketangguhan, dan ingatan menjadi energi untuk menjaga Indonesia tetap damai.

Topik Menarik