Bolehkah Maulid Nabi SAW Dirayakan? Begini Hukumnya Menurut Ulama
Utang nasional Amerika Serikat (AS) resmi menembus angka fantastis USD40 triliun (atau setara Rp707.154 triliun dengan kurs Rp17.678 per USD). Angka raksasa ini membengkak dua kali lipat hanya dalam kurun waktu satu dekade, memicu perhatian dari para pelaku pasar global dan membunyikan alarm bahaya bagi perekonomian dunia.
Laporan terbaru Departemen Keuangan AS mengonfirmasi bahwa laju pembengkakan utang ini melampaui proyeksi Congressional Budget Office (CBO). Kombinasi belanja agresif di bawah pemerintahan Donald Trump dan Joe Biden, ditambah beban bunga utang yang meroket, membawa Negeri Paman Sam -julukan AS- mendekati batas atas utang (debt ceiling) sebesar USD41,1 triliun.
Aksi gila-gilaan penarikan utang ini bertepatan dengan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun yang sempat menyentuh angka 5,34-level tertinggi dalam hampir 20 tahun terakhir. Terdapat tiga faktor utama yang saling berkaitan di balik guncangan ini.
Baca Juga: Menkeu AS Klaim Jurang Kaya-Miskin Makin Menyempit, Faktanya Lebih Kompleks
Pertama yakni perang AS-Iran dan pasokan energi, saat lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik memicu kembali kecemasan inflasi tinggi. Selanjutnya investasi masif AI (Artificial Intelligence), membuat raksasa teknologi (Big Tech) menarik dana pinjaman besar-besaran untuk infrastruktur AI, memicu persaingan ketat di pasar modal.
Terakhir tren suku bunga tinggi menjadi salah satu penyebab. Beban bunga yang harus dibayar pemerintah AS makin membesar, menciptakan efek bola salju (snowball effect) pada defisit anggaran.
Menghadapi risiko tekanan pada pasar obligasi dan melambungnya biaya pinjaman, Departemen Keuangan AS mengambil langkah cepat. Pemerintah mengumumkan akan melipatgandakan operasi pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang dari USD2 miliar menjadi USD4 miliar.
Baca Juga: Ekonomi AS Mendadak Melambat ke 1,5, Warga Amerika Justru Makin Konsumtif?
Para analis menilai langkah ini sebagai upaya menekan biaya pinjaman menjelang pemilu sela (midterm elections). Kendati demikian, ekonom terkemuka Mohamed A. El-Erian memperingatkan bahwa strategi penekanan suku bunga jangka panjang ini (yield curve control) berisiko memicu kerusakan kolateral dan konsekuensi yang tidak terduga bagi sistem keuangan global.
Tingginya suku bunga obligasi AS tidak hanya membebankan anggaran negara, tetapi juga menjalar langsung ke kehidupan warga AS. Suku bunga acuan ini menjadi fondasi penentuan bunga KPR, pinjaman otomotif, hingga kartu kredit.
Saat ini rata-rata KPR tenor 30 tahun bertahan di angka 6,67. Bank Sentral AS (the Fed) memilih mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75, sembari memberi sinyal terbuka untuk menaikkan suku bunga kembali jika inflasi tidak kunjung melandai.









