Bedah Engineering iCAR V27: Rahasia SUV Senyap 61 dB dengan Jarak Tempuh 1.200 Km
iCAR baru saja merilis SUV flagship terbarunya di Indonesia: iCAR V27. Bukan sekadar tampilan. Yang dijual banyak: suspensi, sasis, distribusi bobot, sampai peredaman suara.
Semua dirakit jadi satu paket. Tujuannya sederhana: bikin mobil nyaman dipakai di jalan Indonesia yang bopeng-bopeng, macet, sekaligus mulus di tol.
"Setiap negara memiliki karakter jalan dan pola mobilitas yang berbeda, termasuk Indonesia," kata Tommy Hermansyah, Product Planning Manager iCAR Indonesia.
Menurut Tommy, orang Indonesia tidak cuma pakai mobil untuk ngantor. Dipakai juga untuk mudik. Untuk liburan keluarga. Untuk offroad ringan ke luar kota. Maka suspensi, chassis, bobot, sampai kualitas kabin, semua digarap serius.
Komponen andalannya: Hollow Cast Aluminum H-Arm Suspension. Aluminium berongga. Lebih ringan. Tapi kekakuan strukturnya justru naik. Roda jadi lebih responsif membaca kontur jalan. Guncangan dari jalan rusak, sambungan aspal, atau jalan bergelombang, diredam lebih halus. Stabilitas tidak ikut turun.
Lalu ada balanced chassis development. Ini soal distribusi bobot. Hasilnya: mobil tetap stabil di kecepatan tinggi di tol. Tetap lincah bermanuver di jalan kota yang sempit. Tetap nyaman dipakai jarak jauh.Yang paling menarik: angka NVH-nya. Kurang dari 61 desibel. Setara mobil listrik murni. Padahal ini kendaraan berbasis Range Extended EV (REEV).
Peredamannya dibantu tiga elemen: Active Noise Cancellation (ANC), kaca laminated dengan insulasi panas, dan struktur bodi yang sudah dioptimalkan. Hasilnya, obrolan di kabin atau suara sound system tidak kalah dengan bising jalanan, baik saat macet maupun saat ngebut di tol.
Soal jarak tempuh, iCAR mengandalkan teknologi Golden REEV. Performa mengemudi setara mobil listrik. Tapi jarak jelajahnya tembus lebih dari 1.200 kilometer. Ini jauh di atas rata-rata BEV yang beredar di pasar Indonesia saat ini, yang umumnya di kisaran 400–500 kilometer sekali charge.
Kombinasi jarak jelajah panjang plus karakter berkendara EV inilah yang jadi senjata utama iCAR V27 melawan kecemasan konsumen soal baterai habis di tengah jalan.
"Melalui iCAR V27, kami ingin menghadirkan SUV yang tidak hanya memiliki performa khas kendaraan listrik dan daya jelajah yang panjang, tetapi juga dirancang agar nyaman digunakan di berbagai karakter jalan di Indonesia," tutup Tommy.Meski demikian, semua klaim di atas tetap harus diuji pasar. Pertama, soal harga. Sebagai flagship, iCAR V27 dipastikan tidak bermain di segmen murah. Sementara pasar SUV Indonesia masih sangat sensitif harga. Kompetitor dari merek yang sudah mapan, dengan harga setara, punya daya tarik purna jual yang lebih teruji.Kedua, iCAR adalah pemain baru di Indonesia. Baru resmi masuk tahun 2026. Belum ada rekam jejak panjang soal ketahanan mesin, kualitas after-sales, atau nilai jual kembali. Konsumen Indonesia dikenal konservatif soal merek baru, terutama untuk kendaraan seharga ratusan juta.
Ketiga, teknologi Golden REEV sendiri masih asing bagi kebanyakan pembeli. Range Extended EV berbeda dari hybrid biasa maupun BEV murni. Banyak calon konsumen belum paham cara kerjanya, kapan mesin bensin menyala, kapan motor listrik yang bekerja, sampai bagaimana skema perawatan baterai dan generator jangka panjangnya. Edukasi pasar butuh waktu. Keempat, dari sisi dimensi. Dengan panjang bodi mendekati 5 meter, wajar jika publik berharap kapasitas tujuh penumpang, standar SUV besar di kelasnya. Tapi iCAR V27 hanya mengusung konfigurasi lima penumpang. Ini bisa jadi pertimbangan bagi keluarga besar Indonesia yang terbiasa membawa banyak anggota keluarga sekaligus.
Kelima, jaringan layanan purna jual dan bengkel resmi masih terbatas dibanding merek-merek yang sudah puluhan tahun beroperasi di Indonesia. Ketersediaan spare part REEV, termasuk komponen baterai dan generator, juga jadi pertanyaan besar untuk pemilik di luar kota besar.
Terakhir, meski diklaim setara BEV dari sisi kesenyapan dan performa, REEV tetap membawa mesin pembakaran internal sebagai generator. Artinya, biaya perawatan berpotensi lebih kompleks dibanding BEV murni yang komponennya lebih sedikit.



