Pentagon Mungkin akan Kurangi Kehadiran Militer AS di Timur Tengah usai Perang Iran

Pentagon Mungkin akan Kurangi Kehadiran Militer AS di Timur Tengah usai Perang Iran

Global | sindonews | Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:13
share

Pentagon sedang mengevaluasi kembali jejak militernya di Timur Tengah, yang mengisyaratkan perang dengan Iran berpotensi mengubah bentuk kehadiran Amerika Serikat di kawasan tersebut. Demikian dilaporkan The Washington Post pada hari Selasa (18/8/2026), mengutip sumber-sumber yang mengetahui masalah ini.

Menurut laporan tersebut, Pentagon sedang mempertimbangkan apakah akan mengurangi jumlah pasukan di kawasan Teluk, tempat pangkalan-pangkalan utama AS telah menjadi sasaran serangan Iran selama berbulan-bulan.

Kerusakan akibat serangan tersebut menciptakan peluang langka untuk meninjau kembali postur militer AS di kawasan itu.

Para pejabat mengindikasikan beberapa pangkalan mungkin tidak akan dibangun kembali dalam bentuk semula.

Evaluasi ini dipimpin kantor kebijakan Pentagon, sementara Staf Gabungan (Joint Staff) dan Komando Pusat AS (US Central Command) juga turut mengkaji masalah tersebut, menurut laporan itu.Seorang pejabat senior Pentagon mengatakan Menteri Pertahanan Pete Hegseth belum memerintahkan evaluasi resmi, melainkan menyebut upaya tersebut sebagai "perencanaan yang cermat" yang dapat membantu memandu keputusan mengenai pembangunan kembali pangkalan-pangkalan yang rusak.

"Keputusan harus diambil terkait beberapa hal ini," ujar pejabat tersebut.

Komando Pusat AS biasanya menempatkan sekitar 40.000 personel militer di hampir 20 lokasi yang tersebar dari Yordania hingga Oman.

Sejak awal tahun ini, Washington telah mengerahkan tambahan kapal perang, pesawat tempur, dan sistem pertahanan udara ke kawasan tersebut serta melancarkan lebih dari 13.000 serangan terhadap Iran.

Pangkalan permanen terbesar AS di kawasan ini terkonsentrasi di Teluk, termasuk markas Armada Kelima di Bahrain serta fasilitas utama Angkatan Darat dan Angkatan Udara di negara-negara seperti Kuwait.

Baca juga: Survei Warga AS, Tingkat Dukungan terhadap Trump Anjlok ke Rekor Terendah 33

Topik Menarik