Eks Jenderal Israel Ledek Arab Saudi: Hanya Macan Kertas, Punya Senjata Canggih tapi...
Seorang pensiunan jenderal Israel meledek Kerajaan Arab Saudi dengan menggambarkannya sebagai "macan kertas" di Timur Tengah. Dia menyindir Riyadh yang gagal dalam perang melawan kelompok Houthi Yaman meski memiliki kekuatan canggih.
Brigadir Jenderal (Purn) Jacob Nagel, mantan kepala Dewan Keamanan Nasional Israel, mengatakan Kerajaan Arab Saudi tidak sekuat yang terlihat pada pandangan pertama. Itu disampaikan kepada 103FM dalam sebuah wawancara yang membahas perjanjian pertahanan bersama antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.
Baca Juga: Ini Respons Iran atas Aliansi Makkah Bentukan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan
"Anda harus memahami bahwa Arab Saudi, terlepas dari segala kekayaan dan persenjataannya, sebagian besar hanyalah 'macan kertas'. Mereka memiliki banyak persenjataan dan dana yang besar, namun secara militer, mereka tidak mampu 'bertahan menghadapi situasi'," ujar Nagel.
"Jika kita mencermati perang di mana pihak Saudi mencoba melawan kelompok Houthi, kita melihat bahwa mereka gagal meskipun memiliki berbagai kemampuan canggih. Mereka memiliki banyak aset, namun tidak ada yang benar-benar likuid (mudah dicairkan), dan mereka telah sampai pada situasi di mana, secara ekonomi, mereka membutuhkan bantuan," paparnya."Saya tidak melihat Turki akan mengirim Angkatan Laut-nya untuk menyerang Houthi hanya karena kelompok itu menyerang Saudi. Hal itu sama sekali tidak sesuai dengan pandangan realistis saya mengenai kawasan ini," tegasnya.Oleh karena itu, Nagel meyakini bahwa Arab Saudi sedang mencari alternatif lain. "Mereka menyadari bahwa mereka sedang menghadapi masalah serius, baik secara finansial maupun keamanan. Bahkan sebelum perang-perang terbaru ini, kita melihat mereka melakukan langkah mengejutkan dengan menandatangani perjanjian bersama Iran, semata-mata karena mereka merasa takut dan rentan terhadap ancaman nyata dari Iran serta milisi-milisi Iran yang tersebar di seluruh Timur Tengah," lanjut dia.
"Masalah pihak Saudi adalah mereka memiliki peralatan, pesawat, dan kemampuan intelijen yang paling canggih, namun mereka tidak tahu cara menggunakan kekuatan tersebut secara efektif di lapangan. Oleh karena itu, segala pembicaraan mengenai aliansi baru dengan Pakistan atau Turki harus disikapi dengan sangat hati-hati dan skeptis," sambung pensiunan jenderal Zionis tersebut, seperti dikutip dari The Jerusalem Post, Selasa (11/8/2026).
Pada saat yang sama, Nagel berupaya menjelaskan kepentingan Arab Saudi dalam kesepakatan pertahanan bersama tersebut.
"Ini lebih merupakan manuver diplomatik yang ditujukan untuk menekan pemerintah Amerika," ujar Nagel.
"Pihak Saudi kecewa dengan sikap Amerika Serikat—terutama terkait kekurangan stok rudal dan pencegat (interceptor) yang mereka amati di Barat—dan mereka berusaha memberi sinyal bahwa mereka tidak akan berjuang sendirian dalam kampanye melawan poros Syiah," sambung dia.Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani kesepakatan pertahanan bersama yang penting pada hari Jumat di Makkah. Langkah ini menandai peningkatan signifikan dalam upaya kekuatan-kekuatan regional untuk memperkuat kerja sama keamanan di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Sumber yang dekat dengan pemerintah dan militer Saudi, yang berbicara secara anonim kepada AFP, mengatakan, "Kesepakatan ini telah dibahas sejak lama, namun perkembangan terkini di kawasan tersebut mempercepat prosesnya."
Dua sumber regional lainnya yang mengetahui langsung masalah ini mengonfirmasi jadwal rencana tersebut kepada Reuters.
Pertemuan tingkat tinggi yang mendapat sorotan luas ini mempertemukan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Erdogan bertolak dari Ankara pada Jumat pagi untuk kunjungan kerja singkat, didampingi oleh para pejabat senior Turki. Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, tiba di Arab Saudi pada hari Kamis dan disambut di bandara Jeddah oleh wakil gubernur wilayah Makkah.
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan bahwa terlepas dari ketegangan di kawasan Teluk, kunjungan ini memiliki signifikansi yang melampaui krisis saat ini maupun pertimbangan jangka pendek.





