Pakar Militer Ini Klaim Aliansi Mekkah Didorong Ketakutan terhadap Ide Israel Raya

Pakar Militer Ini Klaim Aliansi Mekkah Didorong Ketakutan terhadap Ide Israel Raya

Global | sindonews | Senin, 10 Agustus 2026 - 03:30
share

Perhitungan regional yang mendasari aliansi militer baru antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan didorong oleh kekhawatiran terhadap Israel, bukan Iran.

Berbicara kepada situs web Press TV, Anusar Farooqui—seorang penulis dan komentator yang berbasis di AS serta pendiri dan CEO Systematic Portfolios LLC—mengatakan bahwa "Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah" yang baru saja ditandatangani itu ditujukan terhadap rezim Israel.

"Politik aliansi kekuatan Arab Sunni didorong oleh ketakutan terhadap Israel, bukan Iran," ujarnya.

"Pihak Saudi dan terutama Turki sangat khawatir dengan rencana-rencana Israel," tambahnya, seraya mencatat bahwa diskusi di Israel mengenai konfrontasi dengan Turki—termasuk wacana kemungkinan serangan mendadak yang bertujuan melumpuhkan angkatan udara Turki—telah berkontribusi pada kekhawatiran Ankara.

Perjanjian tersebut ditandatangani pada hari Jumat di Mekkah oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.Ketiga negara menyatakan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari mereka akan dianggap sebagai serangan terhadap semuanya, sekaligus menggambarkan pakta tersebut sebagai sarana untuk memperkuat pencegahan kolektif dan stabilitas regional.

Perjanjian itu tidak merinci kewajiban praktis bagi para anggotanya. Seorang pejabat Turki mengatakan bahwa kesepakatan itu tidak ditujukan terhadap aktor tertentu, tetap terbuka bagi negara-negara kawasan lainnya, serta tidak menggantikan pengaturan bilateral atau multilateral yang sudah ada.

Farooqui mengatakan bahwa absennya Mesir dari perjanjian awal tersebut merupakan hal yang sangat signifikan.

"Hal penting dari pengumuman ini adalah absennya Mesir yang mencolok," katanya kepada situs web Press TV, seraya menambahkan bahwa kemungkinan adanya pakta militer Turki-Mesir merupakan kunci untuk memahami keseimbangan regional.

"Persoalan mengenai Mesir sangatlah krusial: mengapa mereka memilih untuk tidak terlibat?" tanya analis tersebut. Turki, Arab Saudi, dan Pakistan menandatangani kesepakatan pertahanan bersama di tengah menurunnya kekuatan AS.

Arab Saudi telah menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan Turki dan Pakistan yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan kolektif serta kerja sama pertahanan, di tengah menurunnya kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.Ia menambahkan bahwa pakta semacam itu akan menjadi penyeimbang kekuatan yang jauh lebih kuat terhadap Israel dan menyatakan bahwa Amerika Serikat memahami implikasinya.

"Jadi, tampaknya mereka telah melakukan intervensi untuk mencegah terjadinya skenario mimpi buruk tersebut," ujarnya.

Namun, posisi Mesir tidak digambarkan sebagai pihak yang secara permanen berada di luar kesepakatan ini. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mengatakan pada hari Sabtu bahwa Mesir pada akhirnya dapat bergabung dengan pakta tersebut setelah beberapa masalah teknis diselesaikan.

Ia menyebut Mesir sebagai "mitra alami" Ankara dan mengatakan bahwa negara-negara lain juga telah menyatakan minat untuk bergabung, meskipun para anggota pendiri masih mendiskusikan bagaimana perluasan keanggotaan akan ditangani.

Aliansi militer baru ini muncul di tengah tindakan AS dan Israel yang menciptakan ketidakstabilan di kawasan tersebut. Sejak Oktober 2023, Israel telah melancarkan perang genosida di Gaza, menginvasi Lebanon selatan, dan menduduki wilayah di Suriah, sembari melancarkan dua perang agresi bersama Amerika Serikat melawan Iran yang memicu serangan balasan besar-besaran terhadap aset-aset AS dan Israel di kawasan itu.Sementara itu, agenda agresif rezim tersebut telah menimbulkan kekhawatiran mengenai skema yang disebut "Israel Raya" (Greater Israel), yang memandang wilayah Palestina yang diduduki Israel—serta sebagian wilayah Mesir, Yordania, Suriah, dan Lebanon—sebagai bagian dari entitas Zionis.

Perdana Menteri rezim Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan pada Oktober 2025 bahwa ia merasakan ikatan yang mendalam dengan "visi ini" dan menggambarkannya sebagai "misi sejarah dan spiritual."

Di sisi lain, beberapa analis mengaitkan persaingan Turki-Israel yang kian memanas dengan perebutan pengaruh regional yang lebih luas. Turki dan Israel telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1949, dan hubungan strategis serta komersial mereka tetap bertahan meski diwarnai retorika yang penuh ketegangan.

Pakistan, Arab Saudi, dan Turki telah menandatangani "pakta pertahanan" bersama di tengah meningkatnya ketegangan di Asia Barat, yang berpotensi mengubah hubungan Riyadh dengan pihak Barat. Namun, ketegangan tampaknya meningkat belakangan ini terkait isu Gaza, Suriah, jalur energi, masalah maritim, dan peran regional Ankara yang kian meluas.

Posisi Pakistan telah menambah dimensi baru pada perataan ulang keamanan yang sedang terbentuk.Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyatakan pada hari Sabtu—menyusul penandatanganan kesepakatan tersebut—bahwa Israel merupakan "ancaman bagi seluruh dunia Muslim" dan menyerukan pembentukan "front militer bersatu" untuk menghadapinya, sembari menegaskan bahwa rezim tersebut menimbulkan ancaman langsung bagi berbagai negara di kawasan itu.

Situasi keamanan secara lebih luas juga turut dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi di Amerika Serikat.

Washington dilaporkan telah menarik pesawat tempur dan peralatan militer lainnya dari sejumlah negara, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, menyusul serangan balasan Iran.

Saat ditanya apakah aliansi baru tersebut pada akhirnya dapat berkontribusi pada terciptanya kawasan tanpa kehadiran militer AS dan dengan Israel yang lebih terkendali, Farooqui menyatakan bahwa pengaturan saat ini belum memadai.

"Tidak bisa tanpa Mesir," ujarnya kepada situs web Press TV. "Pakta Saudi-Turki-Pakistan itu lebih sekadar untuk unjuk kekuatan. Sendirian, pakta tersebut bukanlah koalisi penyeimbang yang efektif untuk menghadapi Israel."

Topik Menarik