AS-China Saling Balas Sanksi Jelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping

AS-China Saling Balas Sanksi Jelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 7 Agustus 2026 - 22:14
share

Amerika Serikat (AS) dan China kembali menerapkan sanksi serta pengendalian ekspor secara timbal balik beberapa pekan menjelang rencana pertemuan puncak Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada September. Eskalasi tersebut menguji ketahanan stabilitas hubungan ekonomi kedua negara yang selama ini disebut sebagai stabilitas strategis konstruktif.

"Kami tidak memiliki pilihan selain mengambil langkah-langkah penanggulangan yang diperlukan," kata Kementerian Perdagangan China, seperti dikutip dari South China Morning Post (SCMP), sebagai respons atas serangkaian kebijakan terbaru AS.

Kementerian Perdagangan China pada Rabu, menjatuhkan sanksi terhadap tujuh entitas Amerika Serikat dan memperketat pengendalian ekspor pesawat nirawak atau drone beserta teknologi terkait yang ditujukan ke AS. Beijing juga memulai penyelidikan keamanan nasional terhadap peralatan kantor impor yang menggunakan perangkat lunak asing, yang disebut Japan Times sebagai penyelidikan pertama berdasarkan Undang-Undang Perdagangan Luar Negeri China yang baru direvisi.

Selain itu, China menangguhkan jalur sertifikasi cepat bagi pabrik-pabrik AS yang mengekspor sejumlah barang, termasuk peralatan listrik, ke pasar China. Beijing menyatakan langkah tersebut merupakan balasan atas pencantuman 43 perusahaan China dalam daftar entitas berdasarkan Undang-Undang Pencegahan Kerja Paksa Uighur milik AS, larangan Komisi Komunikasi Federal AS terhadap impor robot humanoid dan inverter listrik buatan asing, sanksi terhadap operator pelayaran China, serta pemblokiran dua universitas sipil China.

Baca Juga:Tarif Trump Ilegal? AS Resmi Kembalikan Dana Jumbo Rp1.787 Triliun ke Korporasi

Sehari kemudian, Trump menandatangani proklamasi yang menetapkan tarif sebesar 15 persen terhadap polisilikon dan produk turunannya, disertai penetapan harga impor minimum. Kebijakan itu menyasar dominasi China atas bahan baku penting untuk panel surya dan industri semikonduktor, sekaligus ditujukan untuk membangun kembali rantai pasok domestik AS."Kami menetapkan harga agar China tidak lagi melakukan dumping, dan kami mengenakan tarif untuk mendorong pembangunan industri di dalam negeri," kata Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick. Tarif tersebut baru berlaku 120 hari setelah proklamasi ditandatangani, yang oleh sejumlah analis, termasuk dari Politico, dipandang sebagai ruang negosiasi menjelang pertemuan Trump dan Xi.

Baca Juga: Balas Dendam, China Hentikan Ekspor Drone Penting ke AS

Meski ketegangan meningkat, sejumlah pengamat menilai kebijakan terbaru kedua negara belum tentu menggagalkan rencana kunjungan Xi. Analis senior Eurasia Group Dominic Chiu mengatakan kepada SCMP bahwa respons Beijing dirancang untuk memberikan tekanan tanpa memutus gencatan hubungan, sedangkan peneliti senior Tsinghua University Sun Chenghao mengatakan kepada CNN bahwa diplomasi tingkat pemimpin kini lebih berfungsi untuk mengendalikan krisis daripada menjadi penghargaan atas hubungan yang membaik.

Kementerian Perdagangan China tetap memperingatkan kemungkinan penerapan langkah-langkah penanggulangan lebih lanjut, tetapi pada saat yang sama menegaskan bahwa Beijing menghargai stabilitas hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS yang telah dicapai dengan susah payah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kedua negara masih berupaya menjaga jalur diplomasi, meskipun agenda pertemuan puncak mendatang berpotensi menyempit pada upaya mencegah eskalasi konflik dagang.

Topik Menarik