Gelombang PHK Belum Usai, Ratusan Buruh di Cimahi Kehilangan Pekerjaan
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut penurunan permintaan dari pasar ekspor menjadi penyebab utama pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 178 buruh PT Namnam Fashion Industries di Cimahi, Jawa Barat. Lesunya penyerapan produk di pasar luar negeri membuat perusahaan harus menyesuaikan kapasitas produksinya.
Menperin Agus menjelaskan, Kementerian Perindustrian terus memantau perkembangan perusahaan garmen tersebut. Menurutnya, PT Namnam Fashion Industries belum menghentikan seluruh kegiatan operasional meski telah menonaktifkan sebagian fasilitas produksinya.
Baca Juga: 1.500 Pekerja Tekstil Terancam Kena PHK, Said Iqbal Ungkap Lokasinya
"Jadi mungkin ada berkaitan dengan kemampuan pasar, penyerapan dari produk-produk mereka di pasar-pasar ekspor. Jadi mereka harus melakukan penyesuaian, jadi dia menonaktifkan proses produksinya, tapi belum ditutup habis," katanya di sela acara Official Launching Indo Startup Expo & Forum 2026 di Jakarta, Kamis (6/8).
Ia mengungkapkan, perusahaan memiliki tiga fasilitas produksi, namun dua di antaranya saat ini dinonaktifkan. Langkah tersebut diambil setelah pendapatan perusahaan terus mengalami penurunan."Mereka punya tiga fasilitas produksi, yang dua dinonaktifkan karena apa? Karena mereka dalam apa namanya balance sheet-nya itu income-nya terlihat memang terus-menerus declining. Jadi ada mungkin ada berkaitan dengan penyerapan pasar, ya. Penyerapan dari produk-produk mereka di pasar-pasar ekspor sehingga mereka harus melakukan penyesuaian," lanjutnya.
Baca Juga: BI: Penyerapan Tenaga Kerja RI Melambat di Triwulan II 2026
Meski demikian, Menperin Agus memastikan satu fasilitas produksi masih tetap beroperasi sehingga perusahaan belum sepenuhnya menghentikan aktivitas usahanya. "Yang satu masih up and running, up and running. Jadi kita kita pantau terus," ujarnya.
Terkait kondisi ketenagakerjaan secara umum, Menperin Agus menilai sektor manufaktur masih menunjukkan kinerja positif. Ia merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur sebesar 0,09.
Menurutnya, meski persentase tersebut terlihat kecil, jumlah tenaga kerja yang diserap sebenarnya cukup besar karena skala industri manufaktur yang luas. Namun demikian, Menperin Agus mengakui masih terdapat sektor lain yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja dan kondisi tersebut akan menjadi perhatian pemerintah.
"Ada sektor-sektor di luar kita yang memang mencatat ada penurunan penyerapan tenaga kerjanya. Nah, itu yang harus dan pasti akan menjadi perhatian khusus dari kami," tandasnya.









