Tekanan Belum Usai, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.027 Sore Ini
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa, turun 30 poin atau 0,17 ke level Rp18.027 per dolar AS. Pelemahan dipicu kombinasi sentimen global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sejumlah data ekonomi domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.
"Namun, pada hari Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menepis klaim Trump tersebut dengan menyatakan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS maupun pertemuan yang dijadwalkan," kata Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi dalam keterangannnya, Selasa (4/8/2026).
Baca Juga:Harga Minyak Turun, Rupiah Menguat ke Rp17.997 per Dolar AS
Ibrahim mengatakan sentimen eksternal berasal dari perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya Presiden AS Donald Trump menyatakan menunda serangan baru terhadap Iran sambil menunggu proses diplomasi terkait sengketa Selat Hormuz. Namun, bantahan dari pemerintah Iran memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya risiko geopolitik.
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran mengancam akan menargetkan kapal perang AS yang berupaya mengubah jalur pelayaran di Selat Hormuz. Di saat yang sama, sejumlah kapal tanker minyak Arab Saudi dilaporkan mengubah rute pelayaran, sementara arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz melambat menyusul meningkatnya ancaman keamanan di kawasan tersebut.
Dari AS, sentimen positif datang dari membaiknya aktivitas manufaktur. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Juli naik menjadi 55,6 dari 53,3 pada bulan sebelumnya, melampaui ekspektasi pasar. Pelaku pasar kini menantikan rilis data lowongan kerja JOLTS dan data ketenagakerjaan nonpertanian (Non-Farm Payrolls/NFP) yang dinilai akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD450 juta pada Juni 2026. Defisit tersebut dipicu oleh defisit neraca migas sebesar USD3,49 miliar, seiring nilai impor yang mencapai USD25,91 miliar lebih tinggi dibandingkan ekspor sebesar USD25,46 miliar.Selain itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 turun menjadi USD145 miliar dari posisi USD156,5 miliar pada akhir 2025. Penurunan dipengaruhi kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, meski level tersebut masih dinilai aman karena setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau di atas standar kecukupan internasional.
Baca Juga:Rupiah Melemah 0,32 dalam Sepekan, Pekan Depan Diramal Sentuh Rp18.300
Pelaku pasar juga bersikap hati-hati menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di bawah 5,6, namun masih mendekati 5,4 akibat tekanan harga minyak dunia, meningkatnya ketidakpastian geopolitik, dan arus keluar modal asing. Pemerintah menyiapkan paket stimulus baru, termasuk insentif kendaraan listrik, untuk menopang pertumbuhan pada semester II 2026.
Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih berpotensi fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp18.030 hingga Rp18.080 per dolar AS, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan geopolitik global dan data ekonomi utama dari Amerika Serikat.









