27 Perang yang Diikuti Rasulullah SAW, Ini Fakta dan Etika Perang dalam Islam
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tercatat mengikuti puluhan peperangan sepanjang masa dakwahnya. Namun, perangyang beliau pimpin bukanlah ekspansi untuk menaklukkan wilayah atau memaksa orang masuk Islam, melainkan sebagai respons terhadap ancaman, penindasan, dan agresi yang dilakukan musuh terhadap kaum Muslimin.
Sejarah mencatat, Nabi Muhammad SAW mengikuti sekitar 27 peperangan (ghazwah) selama hidupnya. Dari jumlah tersebut, hanya sebagian yang benar-benar melibatkan beliau di medan tempur, sedangkan sisanya lebih banyak berupa pengaturan strategi dan kepemimpinan pasukan.
Imam Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim ats-Tsa'labi dalam kitab Al-Kasyfu wal Bayan 'an Tafsiril Qur'an menjelaskan bahwa peperangan pada masa Rasulullah SAW terbagi menjadi dua kategori, yakni peperangan yang diikuti langsung oleh Nabi dan peperangan yang dipimpin para sahabat atas penugasan beliau.
Dalam literatur sejarah Islam, kedua jenis peperangan itu dikenal dengan istilah ghazwah dan sariyah. Ghazwah merupakan peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, sedangkan sariyah adalah ekspedisi militer yang dipimpin sahabat berdasarkan perintah Nabi.
Ibnu Hisyam Mencatat Ada 27 Ghazwah
Para sejarawan memiliki perbedaan pendapat mengenai jumlah peperangan pada masa Rasulullah SAW.Ats-Tsa'labi menyebut jumlah ghazwah sebanyak 26 peperangan, sedangkan ahli sejarah terkemuka Ibnu Hisyam mencatat terdapat 27 ghazwah yang diikuti Rasulullah SAW.Baca juga:Ayat Perang dalam Al-Qur'an: Mengapa Islam Mengizinkan Berperang? Ini Sejarahnya
Meski demikian, Rasulullah tidak selalu turun bertempur secara langsung. Dari seluruh ghazwah tersebut, hanya sembilan peperangan yang beliau pimpin sekaligus ikut berada di garis depan pertempuran.
Kesembilan perang tersebut adalah:
1. Perang Badar al-Kubra2. Perang Uhud3. Perang Khandaq (Ahzab)4. Perang Bani Quraizhah5. Perang Bani Musthaliq6. Perang Khaibar7. Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah)8. Perang Hunain9. Perang TabukSementara peperangan lainnya lebih banyak berupa pengawasan, penyusunan strategi, dan pengiriman pasukan yang dipimpin para sahabat.
Perintah Berperang Turun Secara Bertahap
Ulama sejarah Ali Muhammad ash-Shallabi menjelaskan bahwa syariat jihad dan peperangan dalam Islam tidak turun sekaligus, melainkan berlangsung secara bertahap sesuai kondisi umat Islam saat itu.Selama sekitar 13 tahun berdakwah di Makkah, Rasulullah SAW beserta para sahabat tidak diperintahkan mengangkat senjata meskipun mengalami berbagai bentuk penyiksaan, boikot ekonomi, intimidasi hingga pengusiran dari kampung halaman mereka.
Barulah setelah hijrah ke Madinah dan kaum Muslim memiliki tempat yang aman untuk menjalankan agama, Allah SWT memberikan izin untuk mempertahankan diri dari agresi kaum Quraisy.
Allah SWT berfirman:"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar selain karena mereka berkata, 'Tuhan kami hanyalah Allah.'" (QS Al-Hajj: 39-40).
Ayat tersebut menjadi dasar bahwa peperangan dalam Islam disyariatkan sebagai bentuk pembelaan terhadap kezaliman dan penindasan, bukan untuk melakukan agresi terlebih dahulu.
Islam Melarang Memulai Agresi
Prinsip penting dalam syariat perang adalah kaum Muslimin tidak dibenarkan menyerang lebih dahulu terhadap pihak yang hidup damai.Al-Qur'an menegaskan:
"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS Al-Baqarah: 190).
Ayat ini menjadi landasan bahwa perang dalam Islam memiliki batasan yang jelas. Tujuannya bukan menghancurkan, melainkan menghentikan kezaliman dan menjaga keselamatan umat.
Rasulullah SAW Mengajarkan Etika Perang
Berbeda dengan praktik peperangan pada umumnya, Rasulullah SAW menetapkan aturan kemanusiaan yang wajib dipatuhi oleh pasukan Muslim.Beliau melarang keras pembunuhan terhadap mereka yang tidak terlibat dalam peperangan, seperti perempuan, anak-anak, orang lanjut usia, orang sakit, serta para pendeta atau biarawan yang sedang beribadah di tempat ibadah mereka.Nabi SAW juga melarang pengkhianatan, penyiksaan terhadap musuh, mutilasi jenazah, maupun tindakan balas dendam yang melampaui batas.
Bahkan, Islam memberikan perhatian terhadap kelestarian lingkungan saat perang berlangsung. Pasukan dilarang menebang pohon-pohon yang berbuah, membakar kebun, merusak ladang, atau membunuh hewan ternak tanpa kebutuhan.
Prinsip-prinsip tersebut menunjukkan bahwa syariat Islam tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan sekalipun dalam situasi peperangan.
Tawanan Perang Harus Diperlakukan Secara Manusiawi
Etika perang yang diajarkan Rasulullah SAW juga mencakup perlakuan terhadap tawanan perang.Salah satu contoh paling terkenal terjadi setelah Perang Badar. Saat itu sekitar 70 orang Quraisy menjadi tawanan kaum Muslimin. Rasulullah SAW memerintahkan agar mereka diperlakukan dengan baik dan dibebaskan, baik melalui tebusan maupun tanpa tebusan bagi yang memenuhi syarat.Ibnu Ishaq dalam karya sirahnya meriwayatkan kesaksian salah seorang tawanan Badar yang mengaku terharu dengan perlakuan kaum Muslimin.
"Setiap pagi dan petang mereka memberiku roti. Jika seorang Muslim hanya memiliki sepotong roti, ia justru memberikannya kepadaku."
Kesaksian tersebut menjadi bukti bahwa peperangan pada masa Rasulullah SAW tidak menghilangkan nilai kasih sayang dan kemanusiaan. Bahkan terhadap musuh yang telah ditawan, Islam tetap mengajarkan sikap ihsan, menghormati martabat manusia, dan menjunjung tinggi keadilan.
Karena itu, memahami sejarah peperangan Rasulullah SAW secara utuh menjadi penting agar tidak muncul anggapan keliru bahwa Islam identik dengan kekerasan. Justru sebaliknya, syariat perang dalam Islam hadir untuk membatasi konflik, melindungi masyarakat dari kezaliman, serta mengedepankan perdamaian setiap kali jalan damai masih dapat ditempuh.
Baca juga:Mengapa Safar Dijuluki Bulan Perang? Simak 9 Peristiwa Bersejarah Islam Ini










