Ingin Masuk di Pasar Global? Pakar Ungkap Kunci Brand Indonesia Bisa Mendunia

Ingin Masuk di Pasar Global? Pakar Ungkap Kunci Brand Indonesia Bisa Mendunia

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 24 Juli 2026 - 13:56
share

Banyak perusahaan Indonesia berhasil menjadi pemimpin pasar di dalam negeri. Namun, keberhasilan tersebut belum tentu membuat sebuah perusahaan mampu berkembang menjadi brand global.

APAC Senior Strategy Director TRIPTK Laura Tan mengatakan tantangan terbesar justru muncul ketika perusahaan bertransformasi dari pemain lokal menjadi pemain internasional. Menurutnya, strategi yang berhasil di Indonesia belum tentu relevan di negara lain. “Apa yang sangat beresonansi di pasar lokal belum tentu merepresentasikan brand secara tepat di pasar internasional,” katanya dalam diskusi media, Rabu (22/7/2026). Baca juga:Menekraf Dorong Kuliner Indonesia Menuju Pasar Global

Laura menilai perusahaan harus membangun fondasi sebagai brand internasional, mulai dari rantai pasok (supply chain), praktik bisnis, keberlanjutan (sustainability), hingga tata kelola sumber daya manusia yang inklusif. Selain itu, ekspansi global juga harus dibarengi kemampuan melakukan lokalisasi sesuai karakter setiap pasar. “Perusahaan harus bertanya apakah mereka sudah memiliki fondasi dan cara berkomunikasi layaknya brand internasional,” ujarnya.

Ia mencontohkan perusahaan multinasional yang menyesuaikan produknya di setiap negara, seperti perbedaan rasa makanan ringan di Amerika Serikat dan Asia. Menurut Laura, kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar sebuah brand tetap relevan dalam jangka panjang. “Brand tidak pernah berhenti berkembang. Mereka harus terus beradaptasi,” tegasnya.

Sementara itu, CEO & Co-Founder H/Advisors Klareco Ang Shih Huei menilai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini menjadi strategi penting dalam membangun brand. Menurutnya, AI membantu perusahaan memahami konsumen sekaligus menciptakan komunikasi yang lebih personal.Pada sisi input, AI mampu mengumpulkan dan menganalisis data perilaku konsumen, hasil riset pasar, hingga persepsi publik terhadap sebuah merek. “AI memungkinkan kita menganalisis data lebih efektif,” ujarnya. Sedangkan pada sisi output, AI memungkinkan satu pesan dikemas dalam berbagai versi sesuai karakter audiens, mulai dari generasi milenial, keluarga, hingga kelompok usia lanjut.

Meski demikian, Shih Huei menegaskan tantangan terbesar membangun brand bukan terletak pada teknologi, melainkan tata kelola organisasi. Menurutnya, pengelolaan merek tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab divisi pemasaran atau komunikasi, tetapi harus melibatkan seluruh organisasi, terutama jajaran pimpinan. “Brand harus menjadi tanggung jawab seluruh organisasi,” ujarnya.

Laura juga menilai perusahaan Indonesia perlu menjadikan brand sebagai inti bisnis (brand as an operating system). Selama ini banyak perusahaan masih mengandalkan perluasan distribusi dan persaingan harga untuk mendorong pertumbuhan. “Brand bukan lagi sekadar fungsi. Brand harus menjadi jantung organisasi,” jelasnya. Baca juga:Mendorong Penguatan Kopdes Merah Putih dengan Brand Kolektif Berbasis Produk Lokal

Ia mengingatkan perusahaan yang terlambat bertransformasi berisiko kehilangan daya saing karena koordinasi organisasi melemah dan strategi sulit dijalankan. Tantangan tersebut semakin besar bagi perusahaan keluarga yang keputusan bisnisnya masih terpusat pada pendiri, serta perusahaan dengan banyak lini usaha yang membutuhkan visi bersama.

Menurut Laura, bahkan perusahaan yang sudah menjadi pemimpin pasar harus terus berinovasi dan memahami kebutuhan konsumen agar tetap unggul. “Kalau sudah berada di puncak, semakin penting untuk terus berinovasi,” tandasnya.

Topik Menarik