Dolar AS Makin Ganas di Tengah Perang, Harga Minyak Tembus USD90 per Barel
Pasar keuangan global langsung dihantam badai kepanikan pada pembukaan perdagangan Asia, Senin pagi (20/7/2026). Eskalasi konflik militer yang makin intensif antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu aksi buru aset aman (safe-haven), membuat mata uang dolar AS (USD) bergerak perkasa, sementara harga minyak mentah dunia melesat tanpa kendali.
Sentimen investor global berada di titik nadir setelah AS mengonfirmasi telah meluncurkan serangan udara berturut-turut ke wilayah Iran. Aksi balasan ini dipicu oleh tewasnya dua personel militer AS di Yordania sebelumnya.
Di sisi lain, Iran merespons keras dengan menangguhkan seluruh komitmennya dalam kesepakatan damai sementara (interim peace deal). Baca Juga:AS-Iran Saling Gempur, Harga Minyak Dunia Melonjak Tembus USD88 per Barel
Minyak Dunia Sentuh USD90/Barel: Ancaman Inflasi Jilid Baru
Dampak langsung dari meletusnya konflik bersenjata AS versus Iran ini menghantam sektor komoditas. Harga minyak mentah berjangka Brent melonjak tajam 3,3 hingga menyentuh angka USD90,97 per barel pada awal perdagangan di Asia."Sentimen pasar terus memburuk seiring kekhawatiran valuasi sektor semikonduktor yang menekan selera risiko, ditambah ketegangan Timur Tengah yang meningkat drastis setelah Iran membatalkan komitmen damainya," tulis tim analis Westpac dalam laporan risetnya pagi ini.Baca Juga: Iran Beri Ancaman Ekstrem Soal Energi Global: Minyak untuk Semua atau Tidak Sama Sekali
Bagi negara importir minyak seperti Indonesia, lonjakan Brent ke level berkali-kali lipat di atas asumsi makro ini menjadi alarm bahaya karena berpotensi memicu lonjakan subsidi BBM dan inflasi barang impor.
Dolar AS Ngamuk, Mata Uang Global Bertumbangan
Kepanikan geopolitik memaksa para pengelola dana besar mengamankan aset mereka ke dalam bentuk Greenback (dolar AS). Akibatnya, Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan volatilitas mata uang paman sam terhadap enam mata uang utama merangkak naik ke level 100.84.Berikut adalah dampak hantaman keperkasaan dolar terhadap mata uang global pada pagi ini yen Jepang (JPY) keok 0,1 ke level 162.48 per dolar AS, untuk menyentuh posisi terlemahnya sejak 9 Juli. Sedangkan euro (EUR) melemah 0,1 dan tertahan di level USD1,1426.
Dolar Selandia Baru (NZD) juga merosot paling dalam hingga 0,2 ke posisi USD0,5833. Sementara dolar Australia (AUD) ikut terdepresiasi sebesar 0,1 ke level USD0,6975.
Di sisi lain pasar aset kripto cenderung bergerak mendatar namun mencatatkan kenaikan tipis karena sebagian investor melihatnya sebagai alternatif spekulatif. Bitcoin (BTC) merangkak naik 0,2 di level USD64.637,89, disusul Ether (ETH) yang naik tipis ke posisi USD1.869,72.
Dilema Bank Sentral: Suku Bunga The Fed Berpotensi Naik Lagi?
Di tengah kekacauan perang, fokus pasar kini tertuju pada pertemuan kebijakan moneter Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan pada 29 Juli mendatang. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar saat ini memproyeksikan 85,6 peluang The Fed akan menahan suku bunga acuan, melonjak drastis dibandingkan ekspektasi bulan lalu yang hanya 61,5.Namun, perdebatan internal di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh diprediksi akan berlangsung panas. Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack secara terbuka menyatakan bahwa suku bunga acuan AS mungkin masih perlu dinaikkan lagi guna memerangi inflasi yang membandel akibat meroketnya harga energi akibat perang.
Jika The Fed benar-benar mengambil langkah agresif menaikkan suku bunga di tengah kecamuk perang Timur Tengah, maka ancaman capital outflow (pelarian modal) dari negara berkembang dan pelemahan nilai tukar rupiah bisa menjadi kenyataan pahit dalam beberapa minggu ke depan.










