60,5 Wilayah Indonesia Telah Memasuki Musim Kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sebanyak 432 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 60,5 wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau hingga Dasarian I Juli 2026. Angka tersebut meningkat 11,6 persen dibandingkan periode dasarian sebelumnya, seiring semakin dominannya kondisi atmosfer kering di berbagai wilayah.
BMKG juga melaporkan bahwa indikasi penguatan kondisi atmosfer yang cenderung kering juga tercermin dari hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH), dengan 596 titik pengamatan atau 12,2 berada pada kategori panjang (21–30 hari), serta 331 titik pengamatan atau 6,8 berada pada kategori sangat panjang (31–60 hari).
“Berdasarkan pantauan citra satelit terkini, sebaran massa udara kering dari selatan Indonesia juga tampak semakin meluas, yang meliputi wilayah Jawa, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan bagian selatan. Kondisi ini mempertegas penurunan potensi pembentukan awan hujan, khususnya di Indonesia bagian selatan,” tulis BMKG dalam keterangannya, dikutip Rabu (15/7/2026).
Baca juga: Gus Miftah Disebut Terima Rp100 Juta dalam Sidang DJKA, KPK Pertimbangkan Lakukan Penyitaan
BMKG mengungkapkan bahwa penguatan periode kering tersebut turut dipengaruhi oleh fenomena El Niño, yang masih bertahan di Samudra Pasifik dengan nilai indeks Niño 3.4 sebesar +1,25 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -26,2.Meski demikian, BMKG mengatakan potensi hujan belum sepenuhnya hilang. Dinamika atmosfer regional yang dipengaruhi aktivitas Gelombang Ekuatorial Rossby masih terpantau aktif di beberapa wilayah dan memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, seperti hujan lebat yang terjadi di Papua (99 mm/hari) dan Papua Tengah (76 mm/hari) pada 9 Juli 2026.
“Dalam sepekan ke depan, kondisi cuaca di Indonesia secara umum diprakirakan masih didominasi oleh curah hujan kategori rendah. Pada Dasarian II Juli 2026, sekitar 91,45 wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah, sedangkan 8,52 wilayah berada pada kategori menengah, dan hanya sekitar 0,03 wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori tinggi,” tulis BMKG.
Curah hujan kategori rendah (<50 mm/dasarian), kata BMKG, diprakirakan terjadi di sebagian besar wilayah Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sulawesi. Kondisi serupa juga diprakirakan terjadi di Maluku Utara, Maluku, serta sebagian wilayah Papua. Secara umum, kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada Dasarian II Juli 2026 relatif minimum.
Meskipun curah hujan secara umum diprakirakan rendah, BMKG mengungkapkan bahwa ada beberapa gangguan atmosfer masih dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah. Gelombang Kelvin yang berpropagasi ke arah timur diprakirakan aktif melintasi sebagian wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Sulawesi bagian utara, hingga Maluku Utara.“Sementara itu, Gelombang Ekuatorial Rossby yang berpropagasi ke arah barat diprakirakan aktif di sekitar Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, Sumatera bagian tengah hingga selatan, serta Sulawesi bagian tengah dan selatan,” paparnya.
Selain aktivitas gelombang atmosfer, Bibit Siklon Tropis 97W yang telah berkembang menjadi Siklon Tropis Haishen turut berpengaruh pada dinamika atmosfer di Indonesia. Keberadaan sistem tersebut diprakirakan memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan Indonesia, berupa potensi hujan dengan intensitas sedang di sebagian wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara, serta peningkatan tinggi gelombang laut kategori sedang (1,25–2,5 meter) di Perairan Kepulauan Sangihe–Talaud, Laut Maluku bagian utara, dan Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua Barat Daya.
“Siklon Tropis Haishen juga membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di Laut Sulawesi, Perairan utara Papua, serta di sekitar pusat sirkulasinya, sehingga dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sepanjang daerah konvergensi dan konfluensi tersebut, terutama di wilayah yang relatif dekat dengan sistem,” pungkasnya.










