Bangun Budaya Peduli Lingkungan, SDN Keranggan Tangsel Bidik Adiwiyata Nasional
UPTD SD Negeri Keranggan, Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus memperkuat komitmennya menjadi sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan. Setelah meraih predikat Adiwiyata tingkat Provinsi Banten, sekolah itu kini menargetkan penghargaan Adiwiyata Nasional pada 2026.
Target tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan lingkungan yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan.
Baca juga: Sekolah Adiwiyata Didorong Berkontribusi Langsung dalam Pengelolaan Sampah
Program-program yang ada tidak hanya diarahkan untuk menciptakan sekolah yang bersih dan hijau, tetapi juga membentuk kebiasaan serta karakter peduli lingkungan pada peserta didik.
"Melalui program ini, sekolah menanamkan karakter peduli lingkungan, tanggung jawab, gotong royong, dan cinta alam kepada seluruh peserta didik," tutur Kepala UPTD SDN Keranggan, Jajang Hidayat, Selasa (14/7/26).Dalam menjalankan program Adiwiyata, seluruh warga sekolah dilibatkan untuk menerapkan hidup bersih dan sehat. Peserta didik dibiasakan menjaga kebersihan ruang kelas, halaman, toilet, saluran air, serta fasilitas lain di lingkungan sekolah.
Baca juga: Menteri Hanif Dorong Sekolah Rakyat Tabanan Jadi Model Pendidikan Ramah Lingkungan
Pengelolaan sampah menjadi salah satu program utama. Sekolah menerapkan prinsip 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle. Melalui prinsip itu, warga sekolah didorong mengurangi volume sampah hingga mengolahnya menjadi produk bermanfaat.
"Dengan dukungan guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat, UPTD SD Negeri Keranggan optimistis mewujudkan lingkungan sekolah yang hijau, bersih, sehat, dan berkelanjutan," ungkapnya.Upaya mengurangi sampah juga dilakukan dengan membangun kebiasaan membawa botol minum dan tempat makan sendiri. Langkah sederhana itu diharapkan dapat menekan penggunaan plastik sekali pakai.
Salah satu contoh lain yang diajarkan kepada peserta didik adalah memilah dan menempatkan sampah-sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya.
Sampah organik, seperti daun kering dan sisa tanaman, dapat diolah menjadi kompos. Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna dikumpulkan untuk disalurkan atau dimanfaatkan kembali.
Di samping itu, program penghijauan turut diperkuat dengan penanaman dan perawatan berbagai jenis tumbuhan. Sedang konservasi air dilakukan juga melalui pembiasaan menggunakan air secara hemat dan menjaga kebersihan saluran air.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan SD pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangsel, Didin Sihabudin mengaku optimistis dengan segala upaya yang diterapkan SDN Keranggan dalam meraih Adiwiyata Nasional tahun ini."SDN Keranggan telah menyiapkan segala upaya untuk Adiwiyata Nasional, pernah mewakili juga lomba UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) tingkat provinsi. Sekolah ini memang sudah memiliki kriterianya, dengan dukungan semangat luar biasa dari warga sekolah," kata Didin terpisah.
Penerapan atas nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan, lanjut dia, turut dimasukkan ke dalam kegiatan pembelajaran. Dengan pendekatan itu, persoalan lingkungan tidak hanya sebatas teori, tetapi juga implementasi.
"Peserta didik juga mendapat ruang untuk berperan sebagai kader Adiwiyata," terangnya.
Pelaksanaan Program Adiwiyata membutuhkan keterlibatan seluruh unsur seperti Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, komite sekolah, dan orang tua dengan peran masing-masing.
Kolaborasi itu dapat dilakukan melalui pembinaan lingkungan, penanaman pohon, pengelolaan sampah, pembuatan kompos, konservasi air, hingga kampanye kebersihan di sekitar sekolah.
Sebagaimana diketahui, secara nasional Program Adiwiyata merupakan bentuk penghargaan pemerintah kepada sekolah yang dinilai berhasil melaksanakan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah atau GPBLHS.










