Cegah Stunting lewat Program Genting, Menteri Wihaji Salurkan Bantuan RTLH di Sleman

Cegah Stunting lewat Program Genting, Menteri Wihaji Salurkan Bantuan RTLH di Sleman

Nasional | sindonews | Minggu, 28 Juni 2026 - 13:31
share

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menyalurkan bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) untuk warga Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bantuan tersebut merupakan implementasi dari Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).

Hal itu dikatakan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji saat meninjau langsung implementasi Program Genting di Kabupaten Sleman, DIY, Kamis 25 Juni 2026.

Wihaji mengatakan, pencegahan stunting bersifat menyeluruh. Tidak hanya cukup dengan pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tetapi kualitas lingkungan tempat tinggal juga menjadi kunci. Program Genting bukan sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan sebuah gerakan gotong royong yang menyentuh akar permasalahan keluarga sasaran secara langsung.

"Pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh. Selain memastikan kecukupan gizi, kita juga perlu memastikan bahwa keluarga tinggal di lingkungan yang sehat, memiliki sanitasi yang baik, serta rumah yang layak untuk mendukung tumbuh kembang anak," ujarnya, dikutip Minggu (28/6/2026).

Baca juga: BKKBN Tekankan Peran Ayah Kunci Pembentukan Karakter AnakDi Dusun Glondong, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Ibu Dwi Rahayu (32 Tahun) menjadi salah satu sosok yang menerima uluran tangan ini. Sebagai ibu menyusui dengan tiga orang anak, kehadiran bayi mungil berusia 1,5 bulan di tengah situasi Dwi harus berjuang sendiri setelah ditinggal sang suami, menjadi ujian yang berat.

Selama ini, Dwi tinggal bersama kedua orang tuanya yakni Suparjiman (72) dan Ibu Sriyatun (68), dalam kondisi rumah beratap seng dan dinding batako dengan kamar mandi yang jauh dari kata layak. Bagi Dwi, rumah yang lebih kokoh dan sanitasi yang baik bukan lagi sekadar impian, melainkan benteng pertahanan bagi kesehatan bayi dan keluarganya.

Di dusun lainnya, tepatnya di Pakem, Desa Tamannartani, Kecamatan Kalasan, perjuangan hidup tampak dari Nenek Paiyem (73). Lansia yang hidup sebatang kara ini tinggal bersama keponakannya, Heri Kiswanto (33). Keterbatasan ruang menjadi potret memprihatinkan; sebuah rumah berukuran 6 x 3 meter harus dihuni oleh dua keluarga sekaligus.

Lihat video: Di Washington DC, Prabowo Tegaskan Komitmen Atasi Stunting di Indonesia

Heri, yang bekerja sebagai tenaga lapangan di Dinas Lingkungan Hidup dengan penghasilan Rp2,8 juta per bulan, harus membagi fokus untuk menghidupi keluarganya, sang istri Aprilia Nurjanah (29), dan anak balita mereka Listiana Jannatin Najla (57), sekaligus membantu Nenek Paiyem yang sehari-harinya masih berusaha menyambung hidup dengan mengumpulkan barang bekas.

Kehadiran balita di tengah keterbatasan ini menyoroti pentingnya dukungan nyata, seperti intervensi pencegahan stunting yang kini tengah diupayakan melalui Program Genting.Bantuan rehabilitasi rumah senilai Rp50 juta per keluarga yang diberikan melalui Program Genting, dengan dukungan mitra Bank Syariah Indonesia (BSI), menjadi katalisator bagi Dwi Rahayu dan Nenek Paiyem untuk mendapatkan hunian yang lebih sehat, aman, dan nyaman.

Program Genting merupakan bentuk nyata sinergi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat untuk menjadi "orang tua asuh" bagi Keluarga Risiko Stunting (KRS). Melalui pendekatan yang terintegrasi, mulai dari nutrisi hingga perbaikan hunian. Gerakan ini menjadi langkah strategis untuk menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Kegiatan penyerahan bantuan Genting di Sleman ini merupakan rangkaian menuju puncak perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 pada 2026 yang akan dilaksanakan pada Senin, 29 Juni 2026 mendatang di Kota Yogyakarta. Melalui momentum ini, diharapkan semangat gotong royong dalam menuntaskan stunting semakin menguat demi masa depan bangsa yang lebih gemilang.

Topik Menarik