Pajak Digital Tembus Rp52,85 Triliun per Mei 2026, Ini 4 Pilar Penopangnya

Pajak Digital Tembus Rp52,85 Triliun per Mei 2026, Ini 4 Pilar Penopangnya

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 26 Juni 2026 - 10:59
share

Sebuah buku baru mengungkap rincian caci maki kasar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu selama panggilan telepon yang menegangkan pada September 2025. Dalam panggilan telepon itu, Trump menekannya agar menerima gencatan senjata Gaza.

Buku berjudul "Regime Change: Inside the Imperial Presidency of Donald Trump" tersebut ditulis oleh jurnalis New York Times; Maggie Haberman dan Jonathan Swan. Buku ini membahas masa jabatan kedua Trump sebagai presiden Amerika, di mana politisi Partai Republik tersebut menengahi gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Baca Juga: Trump Damprat Netanyahu: 'Kau Benar-benar Gila, Kau Sudah Dipenjara Kalau Bukan karena Aku'

Menurut buku tersebut, selama percakapan telepon yang panas, Trump mencaci maki Netanyahu dengan mengatakan, "Semua orang muak denganmu, Bibi. Semua orang Yahudi muak denganmu. Bahkan dua orang Yahudi dalam panggilan ini pun muak denganmu," merujuk pada pejabat AS Yahudi Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Panggilan telepon tersebut terjadi pada September 2025, selama Sidang Umum PBB ketika Trump berupaya mengakhiri perang di Gaza dan membangun kembali wilayah kantong Palestina tersebut.

Israel telah melancarkan serangan udara ke Qatar yang menargetkan kepemimpinan Hamas saat mereka bersiap untuk membahas kesepakatan gencatan senjata dengan Tel Aviv pada awal bulan itu. Meskipun serangan tersebut tidak menewaskan para pemimpin Hamas, anggota Hamas lainnya tewas dalam serangan tersebut bersama dengan seorang penjaga keamanan Qatar.Trump juga mengatakan kepada Netanyahu dalam panggilan telepon tersebut bahwa dia tidak diizinkan untuk mundur dari kesepakatan gencatan senjata Gaza yang diusulkan oleh AS.

"Sayalah sahabat terbaik Israel," katanya kepada Netanyahu. "Semua orang membencimu, dan saya selalu mendukungmu."

Dalam kutipan terpisah dari buku tersebut, Trump menyebut Netanyahu sebagai "penipu" pada awal masa pemerintahan keduanya.

Kutipan dari buku tersebut muncul pada saat hubungan antara Trump dan Netanyahu mengalami gejolak karena perbedaan pendapat terkait kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Dalam panggilan telepon baru-baru ini, tepatnya awal bulan ini, Trump menyebut Netanyahu "gila" atas eskalasi Israel di Lebanon, yang mengancam akan membahayakan perundingan perdamaian AS dengan Iran, dan menuduhnya tidak tahu berterima kasih,Trump juga mengeklaim telah membantu menyelamatkan Netanyahu agar tidak dipenjara—merujuk pada dukungannya selama persidangan korupsi pemimpin Israel tersebut.

"Kau benar-benar gila. Kau pasti sudah dipenjara kalau bukan karena aku. Aku menyelamatkanmu. Semua orang membencimu sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini," kata Trump kepada Netanyahu, menurut laporan Axios.

Pada satu titik, sebuah sumber yang dikutip Axios mengatakan Trump marah kepada Netanyahu dan bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan?"

Namun, Trump kemudian mengatakan kepada media tersebut bahwa hubungannya dengan Netanyahu "baik" dan AS harus "membuatnya sedikit waras".

Tetapi Netanyahu telah menolak gagasan krisis struktural dalam wawancara media. Dia menggambarkan gesekan tersebut sebagai "perbedaan taktis" belaka yang terjadi dalam "keluarga terbaik sekalipun", dan menegaskan bahwa dia dan Trump masih sepakat tentang tujuan-tujuan utama.

Topik Menarik