Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Kepala Eksekutif perusahaan energi Rusia Rosneft, Igor Sechin, menegungkapkan perusahaan-perusahaan energi Amerika Serikat (AS) menjadi pihak yang paling diuntungkan dari penutupan Selat Hormuz. Washington dinilai tengah berupaya mengubah peta fundamental pasar energi global demi mengakomodasi kepentingan domestik mereka.
"Penutupan Selat Hormuz adalah upaya untuk merombak regulasi pasar energi global demi keuntungan AS. Langkah-langkah yang diambil untuk memblokade selat tersebut sebenarnya menyasar Iran, namun justru berdampak buruk bagi seluruh dunia karena risiko strategisnya yang diremehkan," ujar Sechin dalam pidatonya di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) dikutip dari Business Standard, Minggu (7/6/2026).
Baca Juga:PM Inggris: Rusia Akan Serang NATO 4 Tahun Lagi
Bea Cukai Buka Suara soal Munculnya Nama Dirjen Djaka Budi Utama dalam Dakwaan Kasus Suap Impor
Sechin menambahkan perusahaan-perusahaan AS mendapatkan keuntungan non-kompetitif serta kemampuan untuk mengamankan pasokan berbiaya tinggi di tengah situasi krisis ini. Krisis di salah satu jalur urat nadi maritim dunia tersebut bermula ketika Iran memblokade Selat Hormuz, yang merupakan rute utama bagi seperlima pasokan minyak dunia serta komoditas vital lainnya termasuk pupuk.
Langkah Teheran ini diambil setelah AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran yang menewaskan Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei pada Februari lalu kemudian direspons AS dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Penutupan jalur pelayaran krusial ini telah mengguncang pasar global dan memicu lonjakan harga minyak hingga mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Situasi tersebut pada gilirannya mengerek inflasi global dan melemahkan pertumbuhan ekonomi di berbagai belahan dunia.
Lebih lanjut, Sechin memperingatkan menyusul disrupsi di Selat Hormuz, jalur-jalur pelayaran utama global lainnya kini berada dalam bayang-bayang risiko serupa. Ia menyebut Selat Malaka, Bab Al-Mandeb, dan Selat Gibraltar sebagai kawasan yang berpotensi menghadapi gangguan serupa di masa mendatang.
Selain menyoroti krisis geopolitik di Timur Tengah, sekutu dekat Presiden Vladimir Putin ini juga melontarkan kritik terhadap perkembangan internal Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+). Sechin menilai aliansi produsen minyak tersebut kini telah kehilangan sebagian potensinya, terutama setelah Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan keluar dari keanggotaan.
Mundurnya UEA menambah panjang daftar negara yang meninggalkan aliansi, menyusul langkah serupa yang sebelumnya diambil oleh Qatar dan beberapa negara lainnya. Menurut catatan Sechin, rangkaian eksodus anggota ini berdampak signifikan terhadap kapasitas produksi kolektif aliansi."Sebagai akibatnya, produksi aliansi telah merosot dari 58 juta barel per hari menjadi 37 juta barel per hari dalam sepuluh tahun terakhir," ujar Sechin, yang selama ini dikenal skeptis terhadap komitmen kerja sama Rusia di dalam OPEC+.
Baca Juga:Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
Sechin memaparkan sebagian besar anggota utama OPEC+ mencatatkan kenaikan produksi sejak kesepakatan awal ditandatangani pada 2016, namun kondisi sebaliknya terjadi pada Rusia yang produksinya justru turun sebesar 1,5 juta barel per hari.
Penurunan sebesar 15 tersebut memerlukan kompensasi investasi setidaknya 10 triliun rubel, dan Rusia mengharapkan adanya ekspansi kerja sama investasi antara negara-negara anggota aliansi ke depan.










