FIFA Terapkan Teknologi Offside Baru di Piala Dunia 2026, Bendera Tak Lagi Terlambat Diangkat

FIFA Terapkan Teknologi Offside Baru di Piala Dunia 2026, Bendera Tak Lagi Terlambat Diangkat

Olahraga | sindonews | Rabu, 3 Juni 2026 - 07:49
share

FIFA akan memperkenalkan teknologi offside semi-otomatis generasi terbaru pada Piala Dunia 2026. Inovasi tersebut diharapkan mampu mempercepat pengambilan keputusan wasit sekaligus mengurangi insiden berbahaya akibat keterlambatan pengangkatan bendera offside.

Teknologi anyar itu akan digunakan bersama sistem video assistant referee (VAR) selama turnamen berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Salah satu perubahan utama adalah hadirnya notifikasi audio secara real time kepada asisten wasit ketika seorang pemain terdeteksi berada dalam posisi offside lebih dari 10 sentimeter.

Dengan sistem tersebut, asisten wasit tidak lagi harus terlalu lama menunggu jalannya serangan selesai sebelum mengangkat bendera, seperti yang selama ini sering terjadi dalam era VAR.

Sebelumnya, versi teknologi yang diuji FIFA pada Club World Cup dan Intercontinental Cup hanya mampu memberikan notifikasi ketika posisi offside melebihi 50 sentimeter. Kini, sensitivitas sistem ditingkatkan agar keputusan bisa dibuat lebih cepat dan akurat.

Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan perangkat pertandingan. Asisten wasit masih memiliki kewenangan menentukan kapan permainan dihentikan. Mereka juga diperbolehkan menunda pengangkatan bendera apabila mencurigai adanya gangguan teknis.FIFA menyebut teknologi tersebut telah dilengkapi sejumlah sistem pengaman untuk meminimalkan kesalahan.

Namun, sistem baru itu belum sepenuhnya mampu menyelesaikan seluruh persoalan offside. Teknologi masih memiliki keterbatasan dalam mendeteksi situasi offside yang sangat tipis, terutama ketika beberapa pemain berada dalam posisi berdekatan atau saat pemain terjatuh di lapangan.

Selain itu, sistem hanya digunakan untuk menentukan offside posisi dan belum bisa dipakai dalam keputusan subjektif, misalnya ketika wasit harus menilai apakah seorang pemain mengganggu lawan tanpa menyentuh bola.

FIFA berharap inovasi tersebut dapat mengurangi frustrasi pemain maupun suporter terhadap keputusan offside yang terlambat. Organisasi sepak bola dunia itu juga menilai teknologi baru bisa membantu mencegah cedera akibat permainan yang sebenarnya sudah seharusnya dihentikan lebih awal.

Kekhawatiran soal keterlambatan offside sempat menjadi sorotan setelah penyerang Nottingham Forest, Taiwo Awoniyi, mengalami cedera serius pada Mei 2025. Saat itu, ia menabrak tiang gawang setelah asisten wasit terlambat mengangkat bendera offside. Awoniyi bahkan sempat menjalani perawatan intensif dan ditempatkan dalam kondisi koma induksi.Selain pembaruan sistem offside, FIFA juga akan memperkenalkan avatar 3D berbasis kecerdasan buatan untuk seluruh pemain peserta Piala Dunia 2026.

Sebanyak 1.248 pemain dari 48 negara peserta akan menjalani pemindaian digital sebelum turnamen dimulai. Proses pemindaian dilakukan dalam ruang khusus dan hanya membutuhkan waktu sekitar satu detik per pemain.

Data tersebut nantinya digunakan untuk menghasilkan animasi offside tiga dimensi yang lebih detail dan realistis sehingga memudahkan VAR maupun penonton televisi memahami keputusan wasit.

FIFA juga menyetujui penggunaan teknologi baru untuk menentukan apakah bola telah keluar lapangan sebelum terciptanya gol.

Teknologi itu bekerja dengan memanfaatkan chip di dalam bola yang dapat mendeteksi sentuhan terakhir pemain. Sistem kemudian akan menghasilkan rekonstruksi tiga dimensi guna memastikan apakah bola benar-benar keluar lapangan atau tidak.Inovasi tersebut hadir setelah beberapa kontroversi musim lalu, termasuk insiden gol Aston Villa ke gawang Brentford yang dianulir karena bola dianggap sudah keluar lapangan meski tayangan ulang tidak menunjukkan kepastian jelas.

FIFA turut memperluas penggunaan teknologi “Real-time 3D Recreation” guna membantu penilaian offside yang berkaitan dengan garis pandang kiper.

Lewat teknologi itu, VAR dan penonton televisi dapat melihat simulasi virtual dari sudut pandang penjaga gawang untuk menentukan apakah pandangannya terhalang pemain yang berada dalam posisi offside.

Sistem tersebut diharapkan membantu memperjelas keputusan-keputusan kontroversial yang selama ini sering memicu perdebatan di lapangan maupun di ruang VAR.

Topik Menarik