Nanik S Deyang Ancam Tutup SPPG Jika Tak Beli Telur Langsung dari Peternak
Badan Gizi Nasional (BGN) mengancam menutup atau men-suspent dapur Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak membeli telur langsung ke peternak. Ancaman ini dilontarkanWakil Ketua BGN Nanik Sudaryati Deyang saat acara Sinergi Elonomi Kerakyatan Pemberdayaan Peternakan dan Usaha Mikro Mendukung Program Makan Bergizi Gratis di Magetan, Jawa Timur, Senin (1/6/2026).
Nanik berharap, dengan membeli langsung ke peternak bisa meningkatkan kesejahteraan peternak. Saat ini, harga telur cenderung turun di angka Rp 22.000 hingga Rp 23.000. Kalau bisa harganya bisa mencapai Rp 24.000 dari peternak. Baca juga:BGN Wajibkan Dapur MBG Prioritaskan Ibu Hamil dan Balita, Ahli Gizi: Fokus Tekan Stunting
Langkah ini sebagai bentuk intervensi BGN dalam meningkatkan kesejahteraan serta ekonomi peternak. "Kita harapkan SPPG menggunakan telur selama tiga sampai empat kali (dalam seminggu). Langkah yang sama kami lakukan saat harga kentang di Brebes turun, waktu itu kita instruksikan kentang dijadikan sebagai pengganti karbohidrat," katanya.
Dorong Menu Lebih Adaptif pada DaerahBGN mendorong kebijakan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih adaftif terhadap kondisi pangan daerah. Caranya dengan mengatur menu dan belanja bahan sesuai dengan ketersediaan pangan dan kearifan lokal daerah.
Kebijakan ini untuk mendukung pertumbuhan perekonomian rakyat dan menjaga kestabilan rantai pasok pangan di daerah tetap aman dan terkendali. Untuk itu Direktorat Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat, Badan Gizi Nasional dan Pemerintah Daerah Magetan menggelar pertemuan dan turun ke pasar untuk menjaga stabilitas harga pangan dan memantau laju ekonomi lokal.Nanik S Deyang dan Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti mengunjungi pasar dan bertemu muka dengan ratusan pelaku usaha di kawasan wisata refugia. Langkah ini merupakan respons lanjutan BGN dan Pemda Magetan atas terjadinya aksi demonstrasi bagi-bagi telur gratis oleh para peternak ayam petelur di kawasan simpang empat Alun-Alun Magetan pada awal Mei lalu.
Pemerintah tengah berupaya membangun kebijakan yang lebih kolaboratif antara SPPG dengan para pelaku ekonomi lokal. Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan rantai pasok bahan pangan MBG yang mendukung perekonomian warga setempat.
Fasilitasi sinergi ekonomi kerakyatan serupa telah dilaksanakan BGN di berbagai tempat. Sebelumnya di Jawa Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat. Upaya sinergi pusat dan daerah tersebut mendapat dukungan positif, termasuk di Magetan yang disambut positif pemerintah daerah setempat.
Relawan SPPG Capai 1,3 Juta OrangBGN pada 30 Mei 2026 mencatat jumlah relawan yang bertugas di SPPG telah mencapai 1,3 juta. Penerima manfaat berjumlah 62,78 juta dan total supplier berjumlah 146.817, di antaranya supplier dari UMKM berjumlah 61.834 dan koperasi berjumlah 13.514.
Jumlah tersebut akan terus meningkat secara cepat. Program MBG selain difokuskan pada pemenuhan gizi untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan mempercepat daya saing dalam bidang pendidikan juga mampu mensejahterakan kehidupan masyarakat. Anggaran BGN yang selama ini dinilai signifikan langsung masuk ke dapur produksi MBG dan diserap oleh usaha-usaha warga dan diolah untuk kesehatan Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita (3B) serta anak-anak didik dibangku sekolah tingakat pendidikan usia dini hingga tingkat sekolah menegah atas. Baca juga:Dukung Program MBG, KPK Beri Catatan Ini
Hal ini senada dengan pernyataan Kepala BGN Dadan Hindayana yang beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa program MBG memberikan dampak ekonomi ganda (multiplier effect) yang sangat luar biasa. Menggerakkan ekonomi akar rumput serta menyerap ratusan ribu tenaga kerja.
Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat, BGN Tengku Syahdana mengatakan, SPPG harus mampu memberdayakan warga masyarakat sekitar SPPG dengan minimal harus memiliki daftar belanja kepada 15 supplier lokal. Dengan demikian MBG benar-benar menjadi bagian dan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. ”Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton namun harus menjadi bagian ekosistem program MBG,” tuturnya.










