Harga Minyak Mentah Meroket dalam Hitungan Jam usai AS Serang Iran Lagi
Harapan damai yang sempat mengemuka di Timur Tengah mendadak buyar dalam semalam. Harga minyak mentah dunia langsung melesat naik sekitar 2 pada perdagangan pagi hari ini, Kamis (28/5/2026).
Lonjakan mendadak ini dipicu oleh laporan eksklusif mengenai serangan udara susulan militer Amerika Serikat (AS) yang menghantam pangkalan militer Iran. Ketegangan geopolitik yang kembali membara ini mengejutkan para pelaku pasar.
Pasalnya sehari sebelumnya, harga minyak sempat anjlok lebih dari 5 ke level terendah dalam sebulan karena adanya rumor bahwa Washington dan Teheran sudah hampir sepakat untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Harga Minyak Mentah Meroket dalam Hitungan Jam
Berdasarkan data pasar komoditas Kamis pagi, eskalasi militer ini langsung mengatrol dua harga acuan minyak dunia. Minyak mentah Brent melonjak USD1,90 (atau 2,02) ke posisi USD96,19 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terangkat USD1,73 yang setara 1,95 menjadi USD90,41 per barel.Baca Juga: Krisis Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD100 per Barel Bertahun-tahun
Menurut laporan pejabat militer AS kepada Reuters, jet tempur AS meluncurkan serangan semalam yang menargetkan situs militer strategis di dalam wilayah Iran. Fasilitas tersebut diyakini menyembunyikan persenjataan yang mengancam keselamatan pasukan AS serta jalur kapal tanker komersial di Selat Hormuz-jalur nadi utama pasokan minyak dunia.
Secara psikologis, pasar finansial saat ini berada dalam kondisi frustrasi karena ketidakpastian yang ekstrem. Investor seolah dipermainkan oleh sentimen yang berubah 180 derajat hanya dalam waktu 24 jam.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Longsor di Bawah USD100, Selat Hormuz Bakal Segera Dibuka?
Hari Rabu pasar optimistis akan adanya perdamaian, namun hari Kamis mereka dipaksa menghadapi kenyataan bahwa senjata masih berbicara di lapangan. "Pasokan minyak global saat ini sebenarnya masih sangat ketat, dan poin-poin krusial dalam negosiasi damai kedua negara ternyata belum benar-benar selesai," ungkap Daniel Hynes, pakar strategi komoditas dari ANZ Bank.
Kondisi ini diperparah oleh situasi domestik di AS. Data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan cadangan minyak mentah komersial AS menyusut sebanyak 2,8 juta barel pekan lalu. Ini merupakan penurunan cadangan selama enam minggu berturut-turut, membuktikan bahwa dunia sedang mengalami defisit pasokan energi yang nyata.









