Cerita Nadya Jadi Lulusan Tercepat UGM Berkat Teliti Tren Live Commerce
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Nadya Marvella Santarini berhasil menjadi lulusan tercepat S1 UGM pada wisuda Rabu (21/5/2026). Nadya berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3 tahun 4 bulan 1 hari.
Sementara rerata masa studi 1.644 lulusan Program Sarjana periode ini tercatat selama 3 tahun 11 bulan.
Penelitian Nadya tentang Live Commerce dan Compulsive Buying
Di tengah maraknya tren live commerce yang mendorong masyarakat berbelanja secara impulsif, ia justru memilih fenomena tersebut sebagai fokus penelitiannya untuk mengakhiri masa studi di Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi.Baca juga: Kisah Jessy Wijaya, Lulusan Tercepat Program Spesialis FKG UGM Raih IPK 3,97
Ketertarikannya pada perilaku konsumtif di era digital mengantarkannya menjadi lulusan dengan masa studi tercepat pada Wisuda Program Sarjana periode ini.
Melalui skripsinya yang berjudul The Role of Social Influence in Compulsive Buying on Live Commerce: Self Control as the Moderator, Nadya meneliti pengaruh social influence terhadap kecenderungan compulsive buying pada pengguna live commerce.
Live commerce merupakan strategi penjualan yang menggabungkan siaran langsung (live streaming) dengan fitur belanja online. Sementara compulsive buying adalah kebiasaan belanja di luar kendali yang dilakukan sebagai pelampiasan untuk mengatasi stres, kecemasan, atau emosi negatif Baca juga: Cerita Lintang, Lulusan Tercepat UGM dengan Predikat Cumlaude yang Aktif Berorganisasi
Klarifikasi Azizah Salsha Usai Dihujat Netizen Internasional soal Ditolak Foto Harry Styles
Ia menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap lebih dari 250 responden dengan menggunakan tiga instrumen, yakni Bergen Shopping Addiction Scale (BSAS), Consumer Susceptibility to Interpersonal Influence (CSII), dan Brief Self-Control Scale (BSCS). Data penelitian tersebut kemudian dianalisis menggunakan moderation analysis dan multiple linear regression.
Hasil Penelitian: Pengaruh Sosial Picu Perilaku Belanja Kompulsif
Nadya menjelaskan bahwa penelitiannya berangkat dari fenomena meningkatnya aktivitas belanja melalui siaran langsung di media digital yang banyak dipengaruhi oleh interaksi sosial, baik dari host maupun konsumen lainnya. Menurutnya, live commerce menghadirkan tekanan sosial tersendiri yang mampu memengaruhi keputusan seseorang dalam berbelanja.“Aku meneliti apakah pengaruh orang-orang, baik itu konsumer lain ataupun host di live commerce, memiliki dampak kepada kecenderungan konsumer untuk jatuh ke compulsive buying dan apakah kontrol diri kita bisa jadi moderator untuk efek itu,” katanya, dikutip dari laman UGM, Sabtu (22/5/2026).
Baca juga: Kisah Ravidho, Pria Asal Riau Peraih Gelar Doktor Termuda dan Tercepat UGM
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh sosial berkontribusi terhadap perilaku compulsive buying. Sementara itu, kontrol diri tidak terbukti memperkuat maupun memperlemah hubungan tersebut, tetapi tetap memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku pembelian kompulsif.
“Yang menarik dari hasil penelitian saya, kontrol diri tetap dapat menjadi prediktor negatif terhadap perilaku compulsive buying secara langsung,” jelasnya.
Kisah Nadya Menyelesaikan Skripsi dan Menghadapi Revisi
Di balik keberhasilannya menyelesaikan studi lebih cepat, Nadya mengaku proses pengerjaan skripsi bukanlah perjalanan yang mudah. Ia menyebut revisi sebagai tantangan terbesar yang kerap membuat mahasiswa kehilangan motivasi untuk melanjutkan pengerjaan skripsi. Menurutnya, banyak mahasiswa merasa lelah secara mental setelah menghadapi revisi berulang, hingga akhirnya merasa tidak percaya diri untuk kembali melakukan bimbingan. “Banyak teman-teman aku juga stuck karena setelah revisi mereka merasa capek duluan, self-esteemnya rendah, percaya dirinya kurang, dan akhirnya jadi malas lanjut lagi,” tuturnya.Meski demikian, Nadya memilih untuk mengubah cara pandangnya terhadap proses revisi dan bimbingan. Alih-alih melihat revisi sebagai hambatan, ia justru menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berkembang. Ia juga berusaha membangun komunikasi yang aktif dengan dosen pembimbing agar memiliki timeline pengerjaan yang jelas.
“Aku mengganti perspektif aku dan mengatur ulang hambatan itu jadi sesuatu yang bisa membantu aku. Aku menganggap dosen itu pemandu yang membantu aku berkembang,” katanya.
Menurut Nadya, keberadaan tenggat waktu atau deadline menjadi faktor penting dalam menyelesaikan skripsi tepat waktu. Ia merasa salah satu alasan skripsi terasa sulit dikerjakan adalah karena tidak adanya timeline yang benar-benar mengikat mahasiswa.
“Salah satu alasan kenapa skripsi itu susah dikerjain karena rasanya selalu bisa ‘besok lagi’. Jadi punya deadline dan timeline itu penting banget supaya kita terus bergerak,” ujarnya.
Pengalaman Magang Nadya dari Sekolah Autisme hingga KKP
Selama menjalani perkuliahan, Nadya juga aktif mengikuti berbagai program magang yang memperkaya pengalaman dan sudut pandangnya sebagai mahasiswa psikologi. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika magang di SLA Fredios, sekolah autisme lanjut di Seturan, Yogyakarta. Di tempat tersebut, ia membantu aktivitas keseharian para siswa yang berusia antara 12 hingga 54 tahun untuk belajar hidup lebih mandiri melalui kegiatan sederhana seperti menyapu, bermain musik, hingga senam bersama.Pengalaman tersebut membuat Nadya semakin memahami tantangan yang dihadapi penyandang autisme serta pentingnya dukungan sosial dan aksesibilitas bagi mereka. Ia mengaku sangat terinspirasi oleh dedikasi para guru yang tetap bertahan mendampingi para siswa meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
“Aku sangat kagum terhadap sama di sana yang walaupun pekerjaannya sangat menantang, terlalu banyak bekerja, underpaid, dan kadang berbahaya, mereka tetap di sana karena besar hati mereka,” ungkapnya.
Selain itu, Nadya juga pernah menjalani magang di Kementerian Kelautan dan Perikanan di bawah Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Dalam program tersebut, ia meneliti kondisi psikologis awak kapal dan mendengarkan langsung berbagai keresahan yang mereka alami selama bekerja di laut dalam waktu lama.
“Di situ aku menemukan tantangan tersembunyi yang awak kapal hadapi. Meskipun mereka terlihat kuat secara jasmani dan mental, ternyata mereka juga punya ketakutan, kegelisahan, dan kesedihan yang jarang terlihat,” katanya.Tak hanya aktif dalam akademik dan pengalaman profesional, Nadya juga mempersiapkan langkah selanjutnya untuk melanjutkan studi. Di tengah proses pengerjaan skripsi, ia mengaku mendaftar ke berbagai program magister sebagai bentuk motivasi untuk terus berkembang.
Usahanya tersebut membuahkan hasil setelah dirinya diterima pada program Master of Educational Psychology di Victoria University of Wellington.
Pesan Nadya untuk Mahasiswa soal Mental Health dan Pengalaman Kuliah
Bagi Nadya, kehidupan kampus telah memberinya ruang untuk bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya, suku, hingga disiplin ilmu yang berbeda. Pengalaman itu membuatnya belajar menjadi pribadi yang lebih terbuka, empatik, dan memahami banyak perspektif baru.“Aku dulu selalu merasa nyaman hanya dengan orang-orang yang mirip sama aku. Tapi ternyata ketemu banyak orang dari berbagai latar belakang benar-benar mengubah cara pandang aku jadi lebih considerate, empathetic, dan open minded,” tuturnya.
Nadya berpesan kepada mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada bidang studinya saja, tetapi juga berani mengeksplorasi banyak pengalaman baru selama masa perkuliahan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental dan memberi waktu istirahat bagi diri sendiri di tengah berbagai tuntutan akademik.
“Istirahat itu lebih penting dari yang kalian bayangkan. Otak kita bekerja secara lebih baik dan lebih jelas kalau udah istirahat. Jadi ketika lagi stres karena revisi atau banyak tanggung jawab, coba beri dirimu waktu menenangkan diri. Itu bukan berhenti, tapi mulai ulang atau restart,” pungkasnya.










