Sekjen Propindo Ajak Organisasi Advokat Wujudkan Penegakan Hukum Bermartabat
Perkumpulan Profesi Pengacara Indonesia (Propindo) mengajak seluruh organisasi profesi advokat di Indonesia bersatu mewujudkan penegakan hukum yang bermartabat. Prinsip penegakan hukum harus dijalankan tanpa diskriminasi atau pandang bulu.
Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Propindo Heikal Safar saat kunjungan kerja ke Makau, China.
Baca juga: Polemik RUU Kesehatan, Menkes Diminta Belajar dari Organisasi Advokat
Dia menyoroti dinamika organisasi advokat di Indonesia yang saat ini menganut sistem multi-bar atau memiliki banyak wadah organisasi, berbeda dengan konsep single bar (wadah tunggal). "Kondisi tersebut tidak menghalangi kolaborasi antarorganisasi dalam menegakkan hukum," ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Heikal menyebut berbagai organisasi advokat di Indonesia antara lain Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin), Kongres Advokat Indonesia (KAI), Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI), hingga Federasi Advokat Republik Indonesia (Ferari) sebagai bagian dari ekosistem profesi yang memiliki kedudukan setara.Menurut dia, seluruh organisasi tersebut pada dasarnya mengedepankan nilai keadilan yang menjadi harapan masyarakat luas. "Diperlukan kedewasaan berpikir dan sikap bijak dalam menangani perkara hukum demi terwujudnya keadilan yang bermartabat. Profesionalisme penegakan hukum tidak boleh hanya menjadi teori," ungkapnya.
Heikal mendukung langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto bersama Komisi III DPR yang dinilai membuka ruang kolaborasi lebih luas antarorganisasi advokat.
Di sisi lain, dia menuturkan Makau merupakan salah satu pusat perdagangan dan pariwisata dunia sejak abad ke-16 hingga ke-18. Wilayah ini menjadi titik pertemuan budaya Timur dan Barat sekaligus pusat perdagangan rempah-rempah, tekstil, dan seni dari Asia serta Eropa.
Pada 1999, Makau resmi menjadi wilayah administratif khusus China setelah hampir 450 tahun berada di bawah pemerintahan Portugis. "Makau tetap menjadi pusat kebudayaan, sejarah, dan pariwisata yang tersohor di dunia. Indonesia dapat mengambil pelajaran positif dari perjalanan sejarah panjang tersebut," katanya.










